Psikolog Tak Percaya Alasan Bisikan Gaib Ayah Pembunuh Bayi di Depok - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Selasa, 12 Februari 2019 | 18:46 WIB

Psikolog Tak Percaya Alasan Bisikan Gaib Ayah Pembunuh Bayi di Depok

Seorang psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak memeriksa kejiwaan seorang tersangka pembunuh bayi di Markas Polresta Depok pada Selasa, 12 Februari 2019.
Photo :
  • VIVA/Zahrul Darmawan

Seorang psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak memeriksa kejiwaan seorang tersangka pembunuh bayi di Markas Polresta Depok pada Selasa, 12 Februari 2019.

VIVA – Kepolisian Resor Kota Depok melibatkan petugas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk memeriksa kejiwaan seorang ayah tiri yang membanting bayi hingga tewas.

Polisi menganggap penting pemeriksaan kejiwaan itu karena si tersangka mengaku mendapatkan bisikan gaib sebelum bertindak keji kepada bayi tak berdosa itu.

"Ada beberapa pengakuan tersangka yang mengaku mendapat bisikan [gaib] saat melakukan aksinya,” kata Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat Polresta Depok, Ajun Komisaris Polisi Firdaus, pada Selasa, 12 Februari 2019.

Menurut Firdaus, hasil pemeriksaan psikolog terhadap Hari Kurniawan, tersangka pembunuh bayi itu, akan memastikan pengakuan bisikan gaib itu rekayasa belaka atau ada motif lain. Yang pasti, katanya, polisi tak serta-merta memercayai keterangan tersangka karena bisa jadi hanya untuk mengelabui penyidik.

Psikolog Raden Ayu Inu Virgiani Augustia, yang memeriksa Hari, mengaku belum dapat menentukan apa pun atas pemeriksaan itu. Sebab pemeriksaan dan pertemuan dengan tersangka sebentar saja, tak lebih sepuluh menit.

Namun Virgiani menjelaskan bahwa pemeriksaan tadi terbatas untuk menelusuri motif dan kepribadian serta agresivitas si tersangka, misalnya apakah si tersangka terbiasa melakukan kekerasan kepada anak.

“Kemudian tersangka mengaku mendengar bisikan [gaib]. Ini akan kami dalami, karena ini alasan biasa pelaku yang melakukan pidana. Saya belum bisa menjawab banyak karena pertemuan dengan tersangka hanya sekira sepuluh menit,” katanya.

Menurutnya, pemeriksaan psikologis terhadap pelaku kriminal semacam Hari membutuhkan sedikitnya empat kali pertemuan sampai didapat satu kesimpulan atau diagnosis. "Yang jelas kasus seperti ini bisa terjadi akibat pengaruh lain, seperti lingkungan dan nilai-nilai yang berlaku,” ujarnya.

    Muat Lainnya...