Pemilih Milenial Jumlahnya Capai 5 Juta, Apa Saja Dasar untuk Memilih - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Jumat, 12 April 2019 | 07:24 WIB

Pemilih Milenial Jumlahnya Capai 5 Juta, Apa Saja Dasar untuk Memilih

"Kita tuh suara penentu," kata Najwa.
Sejumlah warga mengurus surat pemindahan Tempat Pemungutan Suara (TPS) atau formulir A5 di Kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Senin, 8 April 2019.
Photo :
  • ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Sejumlah warga mengurus surat pemindahan Tempat Pemungutan Suara (TPS) atau formulir A5 di Kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Senin, 8 April 2019.

VIVA – Presenter terkenal Najwa Shihab sebut pemilih pemula dari kalangan milenial jumlahnya mencapai 5 juta. Untuk itu, dia mengajak ratusan remaja di Bekasi agar menyisakan waktunya lima menit dalam bilik suara pada Pemilihan Umum (Pemilu) 17 April 2019.

"Suara kita berharga, kita tuh suara penentu, jadi perlu meluangkan waktu sangat sedikit dari rutinitas sehari-hari untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara," kata Najwa usai acara “5 Menit Saja, Suaramu Menentukan Masadepanmu, Milenial Memilih” di Lagon Avenue Bekasi, Jabar, Kamis 11 April 2019.

Ada banyak alasan Milenial harus ikut dalam Pemilu kata Najwa, salah satu alasan yang paling penting adalah untuk menentukan siapa yang berkuasa. Bukan hanya di level presiden tapi juga siapa orang-orang yang mengatur berbagai aspek dalam hidup bermasyarakat. "Mengatur legislasi, mengatur uang kita, ini waktu kita menentukan arah. Jadi terlalu mahal suara kita tidak dipakai," katanya.

Apalagi kata dia, saat ini teknologi informasi sudah memungkinkan mencari tahu siapa calon yang layak. Sehingga, dia berharap bisa menggunakan teknologi untuk mencari orang yang benar-benar dipilih pada Pemilu nanti.

Menurut dia, selama lima menit dalam bilik suara sudah menjadi orang yang paling berkuasa. Sehingga, setiap suara yang sudah diberikan sangat menentukan arah negara dalam menentukan kebijakan publik nanti.

Bahkan, adanya kekhawatiran milenial atas ketidakyakinan para calon yang dipilihnya nanti, kata dia, kondisi sekarang banyak elit politik yang membuka saluran komunikasi egaliter. "Kalau sekarang suara kita bisa dituangkan dalam medium teknologi," kata Najwa. 

loading...
Muat Lainnya...