DKI Akan Atur Penggunaan Motor
Jumat, 12 Juni 2009 | 13:49 WIB

DKI Akan Atur Penggunaan Motor

Masih banyak pengguna kendaraan pribadi yang enggan beralih ke Bus Transjakarta.

VIVAnews - Masalah transportasi seakan tak pernah usai membelit Jakarta. Berbagai program telah diluncurkan, namun persoalan macet tak kunjung selesai.

Pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengenai kemacetan di Jakarta karena pertumbuhan kendaraan tidak seimbang dengan pelebaran jalan, mendapat banyak protes dari warga.

Warga bahkan menganggap Fauzi Bowo sebagai pemimpin yang sering melemparkan kesalahan dalam mengatasi persoalan macet.

Untuk menjawab kemacetan Jakarta, Fauzi Bowo akan melakukan koordinasi dengan Kapolda Metro Jaya, Direktorat Lalu Lintas dan Dinas Perhubungan untuk mecari solusi mengenai kemacetan. Pertemuan dengan Kapolda dilakukan tadi malam.

Seluruh elemen yang bersingungan langsung dengan kondisi jalan di Jakarta akan bertemu untuk melakukan kajian dalam pengaturan penggunaan sepeda motor.

"Kami tidak bisa membatasi orang untuk beli motor. Yang bisa diatur adalah penggunaanya," ujar Fauzi Bowo, Jumat 12 Juni 2009, di Balai Kota Jakarta usai salat Jumat.

Nantinya hal ini tidak hanya diterapkan untuk kendaraan roda dua saja, melainkan juga dengan kendaraan roda empat.

Seperti tertuang dalam pola tranportasi makro Jakarta, penanganan masalah macet harus dilakukan dengan mensinergikan tiga hal.

Pertama, pengembangan angkutan umum massal yang baik. Kedua, pembatasan penggunaan kendaraan, dan terakhir, revitalisasi infrastruktur transportasi.

Data yang dimiliki ITDP menunjukkan, pengguna mobil yang beralih ke bus berjalur khusus ini hanya 7,1 persen, dan pengguna sepeda motor 15,4 persen.

Sedangkan sisanya merupakan peralihan penumpang angkutan umum reguler seperti metromini, dan mikrolet.

Data tersebut menunjukkan target peluncuran Bus Transjakarta belum sepenuhnya tercapai. Moda transportasi yang diluncurkan 2004 itu baru berhasil mengalihkan sekitar 22,5 pengguna kendaraan pribadi.

Masih banyak pengguna kendaraan pribadi yang enggan beralih ke Bus Transjakarta lantaran fasilitas yang tersedia belum optimal.

Belum ada gedung parkir di dekat shelter Bus Transjakarta, jalur pedestrian juga belum tertangani dengan baik. "Memang itu yang harus kita dorong kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta," ujarnya.

Sumber macet Ibu Kota adalah penggunaan kendaraan pribadi yang semakin tak terkendali. Jumlah kendaraan pribadi mencapai 98 persen dari total kendaraan di Jakarta. Dengan kata lain, jumlah angkutan umum hanya 2 persen.

Sebab itu pengembangan moda transportasi seperti BRT dan MRT harus tetap diimbangi dengan sistem pembatasan penggunaan kendaraan.

 

Topik
loading...