Misteri Matinya 200 Ton Ikan di Danau Toba – VIVA
Click to open
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Jumat, 14 September 2018 | 19:51 WIB
  • Misteri Matinya 200 Ton Ikan di Danau Toba

  • Oleh
    • Hardani Triyoga,
    • Syaefullah
Jutaan ekor ikan di Danau Toba mendadak mati.
Photo :
Jutaan ekor ikan di Danau Toba mendadak mati.

VIVA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) menjelaskan misteri matinya ikan secara massal yang terjadi di Danau Toba Sumatera Utara.

Kepala BRSDM KKP, Sjarief Widjaja mengungkapkan, cuaca ekstrem telah memicu upwelling atau umbalan merupakan fenomena di mana kondisi perairan yang lebih dingin dari biasanya. Hal ini yang menyebabkan pasokan oksigen ikan berkurang secara drastis.

Dikatakan Sjarief, kondisi ini berimbas pada rusaknya suhu air di Danau Toba. Menurutnya, pergerakan massa air secara vertikal ini membawa nutrien dan partikel-partikel dari dasar perairan ke permukaan.

Fenomena ini menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang. Apalagi lokasi keramba jaring apung atau KJA cukup dangkal dengan substrat yang berlumpur.

"Di samping itu, jika kami lihat, ternyata kepadatan ikan dalam KJA juga terlalu tinggi, sehingga sangat mengganggu sirkulasi oksigen,” kata Sjarief dalam keterangan tertulis yang diterima VIVA di Jakarta, Jumat, 14 September 2018.

Ia menjelaskan, fenomena kematian ikan massal pada tahun ini dialami oleh sekitar 18 kepala keluarga. Sedangkan total jumlah ikan mati diperkirakan mencapai 200 ton dengan taksiran kerugian diperkirakan sedikitnya Rp2,7 miliar. Rincian ini dengan asumsi harga ikan Rp15.000 per kilogram.

Saat ini, KKP merekomendasikan untuk sementara waktu aktivitas KJA dihentikan terlebih dahulu sekitar dua bulan.

“Ya paling tidak dua bulan ke depan, kami imbau masyarakat menghentikan sementara waktu aktivitas budi dayanya, hingga perairan kembali stabil,” sebutnya.

Lihat Juga

Selain itu, BRSDM juga sudah mengeluarkan rekomendasi berupa kalender ‘Prediksi Kematian Massal Ikan’ dan skema ‘Alur Penanganan Kematian Massal Ikan’. Hal iniberisikan data dan informasi penyebab kematian massal ikan di KJA, termasuk upaya penanggulangannya sebagai bagian upaya pencegahan dan pengendalian peristiwa kematian massal ikan agar tak kembali terjadi.

“Kalender prediksi dan skema alur penanganan ini dapat membangun kesadaran pembudidaya dan para pengambil kebijakan untuk tidak menganggap sepele setiap kasus kematian massal ikan,” tambah Sjarief.

Jutaan ikan yang mati di Danau Toba, Samosir, Sumut.

Kalender Kematian Massal

Kepala Pusat Riset Perikanan BRSDM KKP Toni Ruchimat mengatakan, berdasarkan hasil penelitian di lapangan, terdapat tiga  kategori dalam kalender prediksi kematian massal yang patut dicermati. Tiga faktor itu adalah kategori aman, waspada dan bahaya.

Kata dia, pada kategori aman, para pembudidaya KJA dapat melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan standar dan daya dukung serta zonasi yang telah dilakukan. Sedangkan, pada kategori waspada, upaya pembudidaya KJA di minta untuk mengurangi pemberian pakan, kurangi padat tebar ikan dalam KJA.

"Serta memperhatikan perubahan kondisi lingkungan perairan, hingga melakukan panen lebih awal,” tuturnya.