Polisi Kenakan Sanksi bagi Anggota yang Interogasi Tahanan dengan Ular – VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
img_title
Senin, 11 Februari 2019 | 21:46 WIB

Polisi Kenakan Sanksi bagi Anggota yang Interogasi Tahanan dengan Ular

img_title
Photo :
  • bbc

Ular hidup itu dililitkan ke leher pria terduga pencuri telepon genggam yang kemudian melahirkan kemarahan setelah videonya beredar luas di masyarakat. (Foto ilustrasi) - Getty Images

Polda Papua berjanji akan mengeluarkan sanksi bagi anggotanya di Polres Jayawijaya, Papua, yang terekam menginterogasi seorang terduga kasus pencurian dengan menggunakan ular.

Ular hidup itu dililitkan ke leher pria terduga pencuri telepon genggam yang kemudian melahirkan protes sejumlah kalangan setelah videonya beredar luas di masyarakat.

Pejabat kepolisian setempat kemudian meminta maaf atas "tindakan menyimpang" salah-seorang anggota dan berjanji akan "memberikan sanksi" kepada yang bersangkutan.

"Hukumannya bisa ada macam-macam, mulai teguran lisan, tertulis, hingga ditahan di tempat tertentu (selama)seminggu, dua minggu atau tiga minggu," kata Kepala sub bidang penerangan masyarakat Polda Papua, AKBP Suryadi Diaz, kepada BBC News Indonesia, Senin (11/02).

Saat ini, lanjutnya, kasus ini sudah ditangani oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Divisi Propam) Polda Papua, karena dianggap melakukan pelanggaran aturan disiplin.

"Itu (tindakan yang dilakukan anggota polisi) nakal, tidak profesional," tambahnya. "Tidak dibenarkan cara selain melakukan pertanyaan dan mengumpulkan bukti-bukti."

Dalam video yang beredar di masyarakat, terlihat petugas polisi melilitkan seekor ular hidup di leher seorang tersangka.

Tangannya terikat di belakang, dan dia dalam posisi duduk di lantai.

Petugas polisi terlihat sempat menyorongkan ular itu ke wajahnya, seraya menanyakan tentang dugaan keterlibatannya dalam kasus pencurian telepon genggam.

Dalam pernyataan sebelumnya, Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya menyatakan penggunaan ular itu merupakan inisiatif pribadi anggota polisi tersebut.

"Mungkin dia secara pribadi dongkol, karena pelaku nggak mau mengaku, padahal banyak saksi melihatnya. Jadi, dia akhirnya menggunakan cara itu (dengan menggunakan ular)," kata Suryadi Diaz.

`Ular itu sudah ada lama di kantor Polres`

Ular yang dilaporkan tidak berbisa dan jinak itu, menurut Suryadi, adalah milik salah-seorang anggota polisi di Polres Jayawijaya, Wamena.

"Kebetulan ular itu sudah lama di Polres," ungkap Diaz.

Dari informasi yang diperolehnya, ular itu pernah digunakan untuk "menyadarkan" anggota masyarakat yang terjaring karena mabuk akibat menenggak minuman keras di tempat-tempat umum.

"Biasa itu, kalau malam-malam Minggu, kalau banyak orang mabuk yang tertangkap, itu dikasih tunjuk (ular) itu, mereka takut," ungkapnya.

Metode lainnya, sambungnya, adalah merendam mereka yang tertangkap dalam kondisi mabuk itu dalam bak air. "Sampai sadar (dari mabuk) dan kemudian dipulangkan," jelas Diaz.

Diprotes pengacara HAM

Tindakan anggota polisi menggunakan seekor ular untuk menginterogasi seorang warga Papua, dipertanyakan seorang pengacara hak asasi manusia yang menangani persoalan di Papua, Veronica Koman.

Dalam akun Tweeternya, dia mengunggah video yang menggambarkan adegan tersebut.

Dia kemudian mengklaim bahwa interograsi oleh polisi dengan menggunakan ular juga pernah digunakan terhadap seorang aktivis pro kemerdekaan.

"Mereka sudah lama tahu ular digunakan oleh polisi dan militer (dalam interogasi)," katanya, seperti dikutip Kantor berita AFP.

"Jadi mereka tidak terkejut" dengan video itu.

Saksikan Juga

Geger Penemuan Ular Sanca di Warung Makan

- 13 hari lalu