Kebakaran Rumah Tewaskan Empat Bocah di Kota Batu Dipicu Lilin Meleleh - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Rabu, 24 Juli 2019 | 17:14 WIB

Kebakaran Rumah Tewaskan Empat Bocah di Kota Batu Dipicu Lilin Meleleh

Polisi menduga lilin lupa dimatikan sampai habis hingga membakar buku.
Pemakaman empat jenazah bocah korban kebakaran sebuah rumah kontrakan di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu siang, 24 Juli 2019.
Photo :
  • VIVA/Lucky Aditya

Pemakaman empat jenazah bocah korban kebakaran sebuah rumah kontrakan di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu siang, 24 Juli 2019.

VIVA – Empat jenazah bocah korban kebakaran sebuah rumah kontrakan di Kota Batu, Jawa Timur, dimakamkan setelah diautopsi bagian luar saja di Rumah Sakit Umum Daerah dr Saiful Anwar, Kota Malang. Sebab keluarga menolak autopsi bagian dalam.

Keempat jenazah korban, antara lain Rahma Ramadhani (10 tahun), Na’illah Fathinah Sholihah (9 tahun), Anisa Dzahro (7 tahun), dan Naufal Nasrulloh (6 tahun). Mereka ialah anak Abdullah dan Herlina, pasangan suami-istri penyewa rumah. Suami-istri Abdullah dan Herlina sebenarnya memiliki enam anak, tetapi dua anak balitanya berhasil diselamatkan dari kebakaran maut itu.

Abdullah tak kuasa menahan sedihnya kala mengantar keempat jenazah putra-putrinya ke permakaman di kelurahan setempat pada Rabu siang, 24 Juli 2019. Ratusan pelayat turut mengantarkan jenazah-jenazah bocah malang itu.

Polisi menyatakan, tim Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur cabang Surabaya segera memeriksa rumah lokasi kebakaran untuk mencari informasi awal penyebabnya.

"Dari hasil pemeriksaan di lapangan, dari pemeriksaan Abdullah, pada saat lampu padam, menyalakan lilin. Dan kemungkinan ditinggal tidur dan setelah lilin habis, api itu merembet ke buku. Saat kita olah TKP awal lilin itu sudah mencair," kata Kepala Kepolisian Sektor Junrejo Ajun Komisari Polisi Supriyanto.

Tim Laboratorium Forensik juga menyelidiki penyebab kematian empat bocah itu. Dugaan pertama, keempat bocah awalnya pingsan akibat menghirup asap kebakaran, lalu ikut terbakar hingga tewas. Dugaan kedua, mereka meninggal dunia dengan kondisi terbakar hidup-hidup.

"Kalau dilihat akibat kebakaran memang sudah besar api itu, jadi riskan sekali jika melakukan penyelamatan saat api sudah besar. Mereka ada di dua kamar: tiga di depan, satu di belakang--kamar sebelah timur dari rumah kontrakan," ujar Supriyatno.

loading...
Muat Lainnya...