Mencari Jejak Pengawal Jenderal Sudirman
Mencari Jejak Pengawal Jenderal Sudirman
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-dw-2.png?v=8.7.24

Mencari Jejak Pengawal Jenderal Sudirman

Minggu, 18 Agustus 2019 | 15:34 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/08/18/5d590c27c1f6f-mencari-jejak-pengawal-jenderal-sudirman_663_382.jpg
Photo :
    dw

gemeinfrei

Perjalanan gerilya Jenderal Sudirman sudah demikian melegenda. Sosok Jenderal Sudirman saat kembali ke Yogyakarta, pada Juli 1949, dengan mengenakan jaket panjang dan ikat kepala (blangkon), telah menjadi dokumen ikonik. Entah sudah berapa monumen yang dibangun berdasar model Sudirman dengan pakaian bersahaja seperti itu.

Perjalanan gerilya Sudirman memakan waktu lebih dari enam bulan, dan melibatkan sejumlah besar prajurit yang mengawal Sudirman, dengan tugas masing-masing. Dalam dokumen yang selama ini dikenal publik, baik teks maupun visual (termasuk film), nama pengawal yang paling populer adalah (dengan pangkat saat peristiwa) Kapten Suparjo Rustam dan Mayor Tjokropranolo. Sementara nama-nama pengawal lain, nyaris tidak dikenal, dan akhirnya dilupakan begitu saja.

Letkol Saudi

Salah satu tokoh penting dimaksud adalah Letkol Suadi Suromihardjo. Dalam foto dokumentasi, sosok Suadi bisa dikenali dengan baret hitam dan senapan M1 Carbine, yang selalu terpasang di dadanya. Posisinya (secara fisik) tidak pernah jauh dari Jenderal Sudirman, itu sesuai dengan jabatannya, sebagai Komandan Pasukan Pengawal Panglima Besar Sudirman. Dari segi hirarki (dan juga pangkat), Suparjo Rustam dan Tjokropranolo berada di bawah Suadi.

Saat kembali ke Yogya dari perjalanan gerilya (Juli 1949) Pak Dirman disambut upacara kehormatan pasukan TNI. Di panggung kehormatan, seperti yang terlihat dalam foto yang beredar selama ini, Pak Dirman menerima defile, bersama beberapa tokoh lain, salah satunya adalah Suadi dengan tampilan khasnya. Dalam foto klasik yang mengabadikan peristiwa tersebut, Suadi berada satu frame dengan Pak Dirman, Sjafrudin Prawiranegara (Perdana Menteri "darurat”), Letkol Soeharto (Komandan Brigade di Yogya, kemudian Presiden RI), dan Kapten Suparjo Rustam (ajudan Pak Dirman, kelak menjabat Mendagri).

Usai Pak Dirman meninggal, Suadi melanjutkan karier militer dengan lancar, dan boleh dibilang sangat istimewa. Suadi sempat mengikuti pendidikan di dua lembaga bergengsi: Seskoad di AS (Fort Leavenworth) dan Staff College, Quetta, Pakistan. Berdasarkan rekam jejak pendidikan seperti inilah, Suadi dipercaya oleh KSAD Jenderal A.H. Nasution untuk menjabat Komandan Seskoad di Bandung (1959-1961). Suadi juga sempat menjadi Komandan Kontingen Garuda I, pasukan perdamaian di bawah payung PBB. Pasukan Garuda di bawah Suadi saat itu ditugaskan ke Mesir (1957) setelah Presiden Nasser menasionalisasi Terusan Suez. Karier Suadi mulai suram ketika Soeharto berkuasa sekitar 1965-1966.

Ketika berkuasa, Soeharto secara halus menyingkirkan Suadi. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terpendam dalam hati Soeharto terhadap Suadi. Selain pada foto yang disebut pada awal tulisan, setidaknya ada dua perjumpaan penting lain antara keduanya. Pertama ketika Suadi mendampingi Soeharto dalam memonitor kondisi pasca-Peristiwa Madiun, sekitar tanggal 19 atau 20 September 1948. Soeharto turun langsung ke lapangan berdasarkan perintah Jenderal Sudirman. Kedua saat Suadi menjadi Komandan Seskoad, Brigjen Soeharto memperoleh kesempatan mengikuti Kursus C di lembaga tersebut.

Sejarah resmi Indonesia menghapus nama Letkol Suadi karena ia dianggap perwira "Kiri”, sehubungan dengan Peristiwa Madiun 1948. Tuduhan "Kiri” terhadap Suadi seharusnya gugur, ketika dirinya ditarik menjadi Komandan Pasukan Kawal Panglima Sudirman selama gerilya. Jika benar Suadi adalah simpatisan FDR, bagaimana mungkin Pak Dirman merekrut seorang perwira yang dianggap terlibat pemberontakan terhadap pemerintah yang sah? Seandainya tak dipercaya Pak Dirman, tentu Suadi tidak dilibatkan dalam perjalanan gerilya.

Hipotesis yang mungkin bisa diajukan adalah, Soeharto ingin selalu dominan dalam banyak hal, dia tidak mau ada pesaing, termasuk dalam soal pencitraan, siapa yang paling dekat dengan Sudirman. Secara singkat bisa dikatakan, bahwa hanya dirinya yang bisa disebut perwira yang paling dekat dengan Sudirman, bukan Suadi.
 

Saksikan Juga