Sosok BJ Habibie di Mata Indonesia - Jerman
Sosok BJ Habibie di Mata Indonesia - Jerman
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-dw-2.png?v=8.7.12

Sosok BJ Habibie di Mata Indonesia - Jerman

Sabtu, 14 September 2019 | 07:08 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/09/14/5d7c218951837-sosok-habibie-di-mata-indonesia-jerman_663_382.jpg
Photo :
    dw

DW/A. Purwaningsih

Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan putra bangsa kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Ia merupakan sosok negarawan yang visioner. Sebut saja visi pembangunannya, khususnya di bidang teknologi kedirgantaraan dan kemaritiman, serta sumber daya manusia yang terdidik dan terlatih. Habibie lah sang pionir yang meletakkan fondasi demokrasi bagi Indonesia yang bisa kita nikmati pada saat ini.

Ia pun mendapat julukan Bapak Teknologi dan Kedirgantaraan Indonesia. Masih segar dalam ingatan, mahakaryanya, yakni Pesawat N-250 Gatot Kaca, pesawat turboprop berkapasitas 50-70 penumpang berhasil lepas landas pada tanggal 10 Agustus 1995 sebagai kado kemerdekaan 50 tahun Indonesia. Meski akhirnya proyek produksi pesawat tersebut terhenti akibat krisis moneter 1997. Namun, hasil karyanya membuka mata dunia kepada kemampuan Indonesia di bidang indutsri kedirgantaraan.

B.J Habibie memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan Jerman. Ia menuntut ilmu di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman Barat, jurusan Konstruksi Pesawat Terbang pada tahun 1955. Di universitas tersebut, ia meraih gelar Doktor-Ingeniur dengan predikat summa-cumlaude. Hampir dua puluh tahun Habibie berkarier di Jerman. Ia bahkan pernah menduduki jabatan Wakil Presiden perusahaan penerbangan Messerschmitt Bolkow-Blohm, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Baca juga: Duka Cita untuk Habibie

Seorang inspirator

Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Peter Schoof, dalam cuitan Twitter-nya menyampaikan bahwa Presiden ke-3 Republik Indonesia telah berkontribusi besar dalam terjalin eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan negara yang terletak di jantung Eropa tersebut.

Rasa kehilangan besar juga dirasakan oleh Stefan Dreyer, Direktur Goethe-Institut Indonesia. Kepada DW Indonesia, Dreyer juga menyebut Habibie adalah teladan bagi generasi muda Indoneisa yang memiliki impian untuk melanjutkan studi di Jerman.

"Almarhum adalah sahabat baik Jerman dan telah berkontribusi besar bagi hubungan Indonesia dan Jerman. Ia yang membangun jembatan hubungan antara kedua negara, menjadi contoh serta panutan bagi generasi muda Indonesia dan semua pencapaiannya menjadi motivasi besar bagi mereka yang ingin belajar bahasa Jerman serta melanjutkan pendidikan di Jerman," ujar Dreyer dalam pernyataan resmi tertulisnya.

"Goethe-Institut berterima kasih atas semua bantuan dan dukungan yang kami terima selama bertahun-tahun. Simpati dan belas kasih tulus kami kepada keluarga yang ditinggalkan," sambung Dreyer yang juga menjabat sebagai Direktur Regional Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Kenangan berkesan

Saksikan Juga

Tahlilan di Rumah BJ Habibie Digelar 40 Hari Dipenuhi Warga

TVONE NEWS - 11 bulan lalu