Jokowi di Periode Kedua, Optimisme dan Pesimisme Masyarakat 50:50
Jokowi di Periode Kedua, Optimisme dan Pesimisme Masyarakat 50:50
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-bbc.jpg?v=8.7.10
Selasa, 22 Oktober 2019 | 00:10 WIB

Jokowi di Periode Kedua, Optimisme dan Pesimisme Masyarakat 50:50

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/10/21/5dadb74a49f63-pelantikan-jokowi-ma-ruf-optimisme-dan-pesimisme-masyarakat-menanggapi-periode-kedua_663_382.jpg
Photo :
  • bbc

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma`ruf Amin memberikan keterangan pers usai pelantikan keduanya di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (20/10) - ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pras

Presiden Joko Widodo resmi memulai periode keduanya, yang kali ini didampingi Wakil Presiden Ma`ruf Amin, pada Minggu (20/10). Apa kata masyarakat atas dimulainya pemerintahan Jokowi-Ma`ruf ini?

Optimisme sekaligus pesimisme dirasakan Sumarsih, ibu dari Bernardinus Realino Norma Irmawan alias Wawan, korban penembakan Tragedi Semanggi I pada 11-13 November 1998.

Baginya, perjuangan untuk menegakkan keadilan atas kematian sang putra akan terus berlanjut, meskipun komitmen penegakan hukum kasus-kasus pelanggaran HAM berat dalam visi misi Jokowi-Ma`ruf dianggapnya tak nampak.

Sementara itu, Hisar Butar Butar berharap Jokowi dan para pembantunya menghargai wilayah adat yang telah secara turun temurun mereka rawat dan jadikan mata pencaharian.

Hisar adalah salah satu warga yang menentang pemerintah dalam upaya yang mereka sebut pengambilan paksa tanah adat di Desa Sigapiton, Toba Samosir, Sumatera Utara, yang akan dibangun untuk mendukung fasilitas wisata Danau Toba.

Di sisi lain, para pendukung Jokowi di Solo dengan gegap gempita merayakan pelantikan sang presiden di Surakarta. Sebagian mengaku tak sabar melihat gebrakan apa lagi yang akan dilakukan mantan wali kota mereka itu.

Seperti apa testimoni sekaligus ekspektasi mereka atas pemerintahan Jokowi lima tahun ke belakang dan ke depan?

Sumarsih , ibu korban Tragedi `98: `Optimis dalam berjuang, pesimis dalam harapan`

Sumarsih menolak menyaksikan pelantikan Jokowi dan Ma`ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang ditayangkan seluruh stasiun televisi pada Minggu (20/10).

Ibu dari Wawan - mahasiswa korban penembakan dalam Tragedi Semanggi I tahun 1998 lalu - itu belum mendapatkan apa yang ia tuntut lebih dari 20 tahun terakhir: keadilan bagi sang anak.

"Janji kampanye Pak Jokowi lima tahun lalu yang tidak dibuktikan adalah komitmen untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Yang ia maksud di antaranya "Tragedi Semanggi I, Semanggi II, Trisakti, penghilangan orang secara paksa, kemudian kerusuhan 13-15 Mei 98, Talangsari Lampung, Tanjung Priuk dan Tragedi 65".

Sumarsih juga menyebut komitmen untuk menghapus impunitas - kejahatan tanpa hukuman - sebagai janji palsu mantan wali kota Solo itu.

Namun yang membuatnya amat kecewa yaitu ketika Jokowi mengangkat mantan menteri pertahanan dan keamanan/panglima angkatan bersenjata, Wiranto, sebagai salah satu pembantunya di dalam kabinet.

"(Wiranto) orang yang diduga bertanggung jawab di dalam tragedi 1998, khususnya di dalam tragedi penembakan para mahasiswa," ucap Sumarsih.

Ia terakhir kali bertemu Presiden Jokowi pada 31 Mei 2018, ketika ia dan sejumlah keluarga korban kasus-kasus pelanggaran HAM berat diundang ke Istana Kepresidenan, Jakarta. Setelahnya, menurut Sumarsih, belum ada perkembangan berarti dalam upaya penegakkan HAM.

"Saya optimis di dalam melangkah, di dalam berjuang, tetapi memang saya pesimis di dalam harapan," imbuhnya.

Ia menganggap visi-misi Jokowi-Ma`ruf jauh berbeda dengan visi-misi Jokowi-JK dalam isu hak asasi manusia. Pasalnya, dalam visi-misi periode pemerintahannya yang kedua, Jokowi tidak menyinggung upaya penegakkan HAM, dan hanya menyebut upaya perlindungan, pemajuan dan pemenuhan HAM.

"Bagi saya pribadi, yang dimaksud dengan penegakkan HAM adalah membawa kasus-kasus pelanggaran HAM berat ke meja pengadilan, sebagaimana Indonesia menyatakan diri sebagai negara hukum."

Harapannya memperoleh keadilan bagi sang anak pada periode kedua Presiden Jokowi adalah bahwa Jokowi dapat memilih jaksa agung yang baik dan berani.

"Berani menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, karena selama ini, kasus-kasus yang sudah diselidiki oleh Komnas HAM itu selalu dikembalikan dari Kejaksaan Agung ke Komnas HAM dengan berbagai alasan," pungkasnya.

Marsela , warga Dayak korban karhutla: `Laksanakan putusan Mahkamah Agung`

Marsela Arnanda tengah mengambil hari beristirahat dari rutinitas membantu upaya pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada saat pelantikan Jokowi-Ma`ruf berlangsung di Jakarta (20/10).

Saksikan Juga

Jokowi: Tambahan Bantuan UMKM Harus Segera Dilakukan

TVONE NEWS - 3 bulan lalu
Topik
loading...