Pemilu 2019 Paling Mematikan dalam Sejarah Indonesia | Halaman 2

Pemilu 2019 Paling Mematikan dalam Sejarah Indonesia

Rabu, 18 Desember 2019 | 07:10 WIB
Ada ratusan petugas KPPS dan aparat keamanan yang meninggal dunia.
Ilustrasi pencoblosan saat pemilu.
Photo :
  • VIVAnews/Ahmad Rizaluddin

Ilustrasi pencoblosan saat pemilu.

Petugas KPPS meninggal

Jumlah petugas KPPS Pemilu 2019 yang dikabarkan meninggal dunia mencapai 554 orang, baik dari petugas KPU, Bawaslu maupun personel Polri. Tapi berdasarkan data KPU, jumlah petugas KPPS yang meninggal sebanyak 440 orang dan petugas yang sakit 3.788 orang.

Akhirnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan investigasi terkait meninggalnya ratusan petugas KPPS saat Pemilu 2019. Salah satunya, investigasi dilakukan di Tangerang, Banten.

Komisioner Komnas HAM Amirudin mengatakan, investigasi untuk memastikan apakah para korban meninggal akibat faktor kelelahan. Makanya, investigasi dilakukan juga di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan DKI Jakarta.

Petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) memeriksa kelengkapan logistik Pemilu sebelum didistribusikan ke kelurahan di gudang logistik KPU Jakarta Pusat, GOR Tanah Abang, Jakarta

Adapun, proses investigasi dengan cara KPU mengumpulkan para keluarga dari petugas KPPS yang meninggal. Kemudian, mereka diwawancara secara tertutup oleh Komnas HAM kurang lebih 15 menit meliputi aktivitas korban sebelum meninggal dan gejala yang ditimbulkan saat meninggal.

Pemilu 2019 jadi pelajaran

Banyak petugas KPPS yang meninggal, Sandiaga Salahuddin Uno alias Sandi pun ikut bersuara. Sebab, ia salah satu kontestan pada Pemilu 2019. Menurut dia, pemilu kali ini paling mengenaskan karena banyak petugas yang tewas.

“Dari jumlah korban, dengan pahit kita harus terima kenyataan. Ini pemilu paling mematikan sepanjang sejarah Indonesia,” kata Sandi.

Oleh karena itu, Sandi mengatakan bahwa pemilu 2019 harus diambil pengalamannya untuk dilakukan evaluasi agar insiden tersebut tak terulang kembali pada pemilu selanjutnya.

“Pelajaran amat mahal buat bekal bagi penyelenggaraan pemilu di waktu mendatang,” ujarnya.

Berita Terkait :
Saksikan Juga