Cerita Sinta Nuriyah soal Radikalisme di Indonesia
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Kamis, 23 Januari 2020 | 06:20 WIB

Cerita Sinta Nuriyah soal Radikalisme di Indonesia

Sinta mengalaminya kali pertama ketika buka puasa di klenteng.
Sinta Nuriyah dan putrinya, Inayah Wulandari Wahid
Photo :
  • YouTube Deddy Corbuzier

Sinta Nuriyah dan putrinya, Inayah Wulandari Wahid

VIVA – Sinta Nuriyah, istri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengakui bahwa radakisme itu memang nyata dan ada di Indonesia. Hal itu disampaikan saat acara bersama Deddy Corbuzier, yang diunggah ke YouTube pada Selasa, 21 Januari 2020.

"Betul (radikalisme nyata dan ada)," kata Nuriyah.

Padahal, ketika Gus Dur menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia itu tidak ada tindakan intoleran atau radikalisme. Menurut Nuriyah, aksi intoleran muncul tiga tahun belakangan ini.

"Munculnya malah (3 tahun) belakangan ini," ujarnya.

Ia mencontohkan ketika mengadakan kegiatan buka puasa di halaman klenteng, Bangka Belitung. Tapi, mendapat penolakan dari suatu kelompok. Padahal, tidak ada masalah secara aturan makan di halaman klenteng.

"Tapi memang mencari-cari kesalahan orang lain. Saya bertanya, siapa yang ngelarang buka puasa di halaman klenteng? Wong enggak ada aturannya, di mana pun kita boleh. Semua ini kan bumi Tuhan, kenapa tidak boleh makan di situ. Wong sekedar makan kok, kan bukan melakukan suatu peribadatan," tutur dia.

Baca juga:

Yasonna Akhirnya Minta Maaf ke Warga Tanjung Priok, Begini Faktanya

Warga DKI Diminta Waspada Potensi Penyebaran Virus Corona

Omnibus Law Masuk Prolegnas 2020, Ini Poin yang Diprotes

Sementara putri Sinta Nuriyah dan Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid menjelaskan, ibunya membuat acara sahur dan buka puasa bersama keliling. Waktu itu, di Belitung yang menjadi panitia teman-teman dari kalangan Konghucu sehingga menyediakan makanan untuk orang Muslim berbuka puasa.

"Nah, mereka enggak punya tempat dan tempat yang gede hanya halaman klenteng, bukan di dalam klenteng. Tapi, ada marah-marah itu tempatnya najis. Teman-teman di klenteng, tempat najis itu kotor. Akhirnya, mereka menurunkan semua teman-teman untuk bersihin sampai panggil pemadam kebakaran," ujarnya.

Begitu dibersihkan, kata dia, kelompok tersebut masih marah-marah dan menyebut bahwa makan di halaman klenteng bisa merontokkan akidah. Sehingga, teman-teman dari Konghucu tersinggung dengan pernyataan kelompok tersebut.

"Bayangin, mereka sudah baik banget nyediain makanan tapi kita malah membalasnya begitu," katanya.

Menurut dia, program kegiatan sahur dan buka puasa bersama keliling itu dilakukan sejak Gus Dur menjabat sebagai Kepala Negara dan Sinta Nuriyah menjadi Ibu Negara RI pada tahun 2000.

"Biasanya, ibu (Sinta Nuriyah) buka puasa berbagai kelompok terutama kelompok marginal, nelayan, teman-teman di dalam penjara, dan segala macam. Tapi, ada penolakan tadi itu baru sekitar 3 tahun belakangan ini. Sebelumnya tidak pernah kenapa-kenapa, sebelumnya asyik-asyik aja," ucapnya.

 

loading...
Muat Lainnya...