Wabah Corona COVID-19, BMKG: Indonesia 'Tertolong' Cuaca dan Iklim
Sabtu, 4 April 2020 | 17:30 WIB

Wabah Corona COVID-19, BMKG: Indonesia 'Tertolong' Cuaca dan Iklim

Penyebaran di Indonesia lebih ke faktor mobilitas yang tinggi.
Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati
Photo :
  • ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo

Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati

VIVA – Kajian mendalam terkait korelasi penyebaran Virus Corona COVID-19 dengan pengaruh cuaca dan iklim telah dilakukan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama para ahli.

Lewat kajian berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis dan studi literatur yang mendalam diambil kesimpulan sebenarnya Indonesia sedikit tertolong dengan cuaca dan iklim sehingga penyebaran COVID-19 tak terlalu brutal. 

Menurut Kepala BMKG Dwikorta Karnawati, kajian ini melibatkan 11 doktor di bidang Meteorologi, Klimatologi dan Matematika serta didukung Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat an Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM). 

"Hasil kajian yang telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa Kementerian terkait pada tanggal 26 Maret 2020 yang lalu ini, menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah Covid-19," ujar Dwikorita dikutip dari keterangan tertulisnya, Sabtu 4 April 2020.

Menurutnya, ini sesuai sebagaimana yang disampaikan dalam berbagai penelitian yang juga menunjukkan sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate. 

"Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis," ujarnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan juga menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8-10 derajat celsius dan kelembapan 60-90 persen. "Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi lingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus Covid-19," katanya. 

Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi Covid-19. 

Dalam penelitian berikutnya, juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur di atas 1 derajat celsius dengan jumlah dugaan kasus Covid-19 per-hari. Penelitian menunjukkan bahwa Covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah yaitu pada 1-9 derajat celsius. 

"Artinya semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus Covid-19 harian akan semakin rendah," kata dia.

Sementara itu, penelitian juga menjelaskan bahwa serupa dengan virus influenza, virus corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering.  Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan ‘host immunity’ seseorang, dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus.

Dalam kajian ini juga disimpulkan, faktor utama yang membuat penyebaran virus Corona COVID-19 di Indonesia terbilang tinggi karena mobilitas yang tinggi. 

"Akhirnya laporan Tim BMKG-UGM merekomendasikan bahwa apabila mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat maka faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam memitigasi atau mengurangi risiko penyebaran wabah tersebut,” katanya.

loading...
Muat Lainnya...