Presidential Threshold Baiknya Dihapus, Hanya Digunakan Cukong Politik

Presidential Threshold Baiknya Dihapus, Hanya Digunakan Cukong Politik

Sabtu, 20 Juni 2020 | 14:12 WIB
Alasan diberlakukannya presidential threshold tak masuk akal.
Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun saat berkunjung ke kantor VIVA di Jakarta.
Photo :
  • VIVA/Dhana Kencana

Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun saat berkunjung ke kantor VIVA di Jakarta.

VIVA – Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun mengatakan, diberlakukannya ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold untuk menghindari banyaknya kontestan di pilpres sangat tidak masuk akal. Ia menilai tidak ada masalah jika banyak kontestan.

"Presidential threshold, salah satu klaimnya adalah kalau nanti dihilangkan maka jumlah calon presiden banyak banget. Respons saya, emang kalau banyak kenapa?" ujar Refly dalam diskusi virtual bertema 'Ambang Batas Pilpres, Kuasa Uang dan Presiden Pilihan Rakyat' yang diselenggarakan Voice for Change, dilansir dari VIVAnews, Sabtu 20 Juni 2020.

Refly menjelaskan, banyaknya calon presiden akan tersisih secara otomastis saat kontestasi telah berlangsung. Karena, lanjut Refly, konstitusi telah menetapkan pilpres hanya terlaksana dua putaran.

"Jadi kalau putaran pertama tidak memperoleh 50 persen plus satu persebaran di daerah, maka kemudian diadakan putaran kedua," tutur Refly.

Berita Terkait :
Saksikan Juga