KPK Tetapkan Bupati Kutai Timur dan Istrinya Tersangka Suap
Jumat, 3 Juli 2020 | 22:57 WIB

KPK Tetapkan Bupati Kutai Timur dan Istrinya Tersangka Suap

Mereka ditetapkan sebagai tersangka suap proyek infrastruktur.
KPK tetapkan Bupati Kutai Timur dan istrinya tersangka suap
Photo :
  • VIVA/Edwin Firdaus

KPK tetapkan Bupati Kutai Timur dan istrinya tersangka suap

VIVA – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Kutai Timur, Ismunandar dan istrinya, Encek UR Firgasih yang juga menjabat Ketua DPRD Kutai Timur sebagai tersangka suap proyek infrastruktur. 

Tak hanya pasangan suami istri itu, status tersangka juga disematkan KPK terhadap tiga anak buah Ismunandar, yakni Kepala Bapenda, Musyaffa; Kepala Dinas PU, Aswandini; Kepala BPKAD, Suriansyah serta dua pihak swasta bernama Aditya Maharani dan Deky Arianto.

Penetapan tersangka ini dilakukan KPK melalui gelar perkara setelah memeriksa 16 orang yang diciduk dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta, Samarinda dan Kutai Timur pada Kamis, 3 Juli 2020. Para tersangka juga dipajang saat pengumuman tersangka di KPK. 

"Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan dan sebelum batas waktu 24 jam sebagaimana diatur dalam KUHAP, dilanjutkan dengan gelar perkara, KPK menyimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi menerima hadiah atau janji terkait pekerjaan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur tahun 2019 sampai dengan 2020," kata Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango dalam konferensi pers di kantornya, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat malam, 3 Juli 2020.

Baca juga: OTT Bupati dan Ketua DPRD Kutai Timur, KPK Sita Sejumlah Uang

Nawawi mengatakan, Ismunandar dan istrinya melalui Musyaffa, Aswandini dan Suriansyah diduga menerima suap dari Aditya Maharani dan Deky Arianto. Suap itu diberikan atas sejumlah proyek yang digarap Aditya Maharani dan Deky Arianto di lingkungan Pemkab Kutai Timur.

Pada OTT kemarin, tim Satgas menyita uang tunai sekitar Rp170 juta dan buku rekening yang berisi Rp4,8 miliar dan sertifikat deposito senilai Rp1,2 miliar.

"Dari hasil tangkap tangan tersebut ditemukan sejumlah uang tunai sebesar Rp170 juta, beberapa buku tabungan dengan total saldo Rp4,8 miliar dan sertifikat deposito sebesar Rp1,2 miliar," kata Nawawi.