Warga Pariaman Geger Kemunculan Ubur-ubur Biru Sangat Beracun

Penampakan ubur-ubur Bluebottle
Sumber :
  • VIVAnews/Andri Mardiansyah

VIVA – Sejak tiga pekan terakhir, warga Kota Pariaman, Sumatera Barat digegerkan dengan kemunculan ratusan ubur-ubur Bluebottle yang dikenal salah satu jenis ubur-ubur yang memiliki racun bahkan bisa menyebabkan kematian apabila tersengat.

Ratu Kerajaan Ubur-ubur Divonis Lima Bulan Penjara

Menurut laporan yang diterima VIVAnews, sudah ada tiga orang nelayan yang menjadi korban sengatan. Ketiga nelayan itu, tersengat ubur-ubur Bluebottle saat mengangkat jaring ikan di tengah laut. Ketiganya terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan perawatan medis.

“Fenomena  kemunculan ubur-ubur Bluebottle ini mulai kami pantau di perairan terbuka di belakang pulau-pulau kecil di Pariaman sejak tiga pekan terakhir. Jumlahnya cukup banyak,” kata Ketua Tabuik Diving Club (TDC) Tomi Tanjibo di Sumbar, Minggu 6 Oktober 2019.

Pemancing Selamat dari Sengatan Hewan Berbisa Paling Mematikan

Rata-rata nelayan juga melaporkan hal serupa. Dua pekan lalu, terjadi insiden sengatan terhadap dua nelayan perahu payang. Mereka tersengat saat mengangkat jaring di tengah laut.

“Ubur-ubur lengket ke jaring. Tanpa sadar menyentuh kulit. Keduanya dilarikan ke rumah sakit,” ujarnya.

Polisi Dalami Dugaan Ritual Seks Anggota Kerajaan Ubur-ubur

Menurut Tomi, sejak fenomena kemunculan ubur-ubur Bluebottle ini, pihaknya intensif melakukan pemantauan di sepanjang perairan pulau. Hasilnya, sejak sepekan terakhir, banyak sekali ditemukan bangkai ubur-ubur mengambang di permukaan perairan pulau. Bahkan sudah banyak juga ditemukan terdampar di pantai pulau. 

“Karena ubur-ubur ini berbahaya, kami terpaksa membatalkan sejumlah jadwal penyelaman untuk monitoring terumbu karang termasuk pendampingan tamu wisatawan diving, kata dia. 

Dari hasil monitoring dan sisir pantai di beberapa titik seperti di Pantai Pauah, Pantai Ampalu, hingga kawasan pantai yang dekat dengan lokasi konservasi penyu ditemukan ratusan ubur-ubur jenis ini terdampar. Sebagian besar masih hidup karena baru terdampar.

“Yang masih hidup, tubuhnya masih menggelembung. Kalau telah mati tubuhnya menyusut dan berbentuk lelehan lilin warna biru saja,” ujar Tomi.

Tomi menjelaskan, meski ubur-ubur Bluebottle ini hidup di permukaan, sejak 9 tahun lalu saat melakukan aktivitas penyelaman, dirinya dan rekan penyelam lainnya, baru kali ini melihat fenomena kemunculan Bluebottle.

Di kalangan nelayan Pariaman, kata Tomi, ubur-ubur ini disebut dengan nama Ranggah Ayam. Sangat beracun dan sangat ditakuti oleh para nelayan.

Menurut cerita dari para nelayan yang ditemui sepanjang pesisir Pariaman, fenomena kemunculan ubur-ubur Bluebottle atau Ubur Ranggah Ayam ini, pernah terjadi pada 1998. Saat itu ada korban seorang anak usia enam tahun meninggal setelah diserang ubur-ubur jenis ini. Lokasinya, dekat Pantai Gandoriah. Korban Meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.

“Yang jelas, selain melakukan monitoring sekalian aksi pembersihan terhadap bangkai ubur-ubur yang terdampar. Kita juga sosialisasi tentang bahaya ancaman ubur-ubur ini kepada masyarakat sepanjang pantai dan juga kepada wisatawan,” tuturnya. 

“Kalau penyebabnya, dari hasil analisis kami, ini ada kaitannya dengan musim angin selatan di mana arus gelombang laut bergerak dari selatan ke utara pesisir Sumatera,” kata Tomi.

Ribuan bahkan jutaan ubur-ubur berkerumun di sekitar PLTU Paiton.

Ribuan Ubur-ubur Serbu PLTU Paiton, Ini Analisis BMKG Jatim

Petugas berupaya agar ubur-ubur tidak mengganggu pembangkit listrik.

img_title
VIVA.co.id
1 Mei 2020