Mungkinkah Fatwa Agama Bantu Cegah Kebakaran Hutan di Indonesia?
Mungkinkah Fatwa Agama Bantu Cegah Kebakaran Hutan di Indonesia?
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-bbc.jpg?v=8.7.24

Mungkinkah Fatwa Agama Bantu Cegah Kebakaran Hutan di Indonesia?

Sabtu, 28 Maret 2020 | 04:10 WIB
data:image/gif;base64,R0lGODlhAQABAIAAAAAAAP///yH5BAEAAAAALAAAAAABAAEAAAIBRAA7
Photo :

Setiap Kamis malam, para pria Muslim di desa Tanjung Makmur, Sumatra Selatan, berkumpul di masjid untuk menjalankan ibadah shalat Maghrib.

Setelah itu, mereka duduk bersama membaca Surah Yasin, surat ke-36 dalam Alquran yang mereka yakini merupakan doa-doa bagi mereka yang telah tiada.

Namun pada suatu petang pada bulan Desember tahun lalu, ritual ini berubah menjadi suatu peristiwa yang tak diduga.

Mustangin, seorang ulama setempat, menutup doa untuk mereka yang sudah meninggal dengan diskusi tentang hukum agama terhadap perusakan lingkungan.

Waktu ini biasanya disediakan untuk membaca surah dalam bahasa Arab, tanpa mendiskusikan maknanya. Tetapi malam itu, Mustangin merasa cocok untuk mengubah tradisi yang biasa.

Desa Tanjung Makmur berada di lahan gambut di Sumatra Selatan. Banyak dari pohon-pohon yang secara alami menutupi lahan gambut di desa itu telah ditebangi dan lahannya dikeringkan, sehingga dapat dialihfungsikan untuk perkebunan dan pertanian.

Daerah gundul ini memiliki tanah yang asam, namun miskin nutrisi. Banyak yang memilih untuk membakar tanah sebelum menanam tanaman, yang dapat meningkatkan kesuburannya.

Tetapi memulihkan lahan gambut, daripada membakarnya, saat ini merupakan salah satu prioritas Indonesia untuk mengurangi emisi karbon tahunannya.

Di seluruh dunia, lahan gambut dalam keadaan tergenang air alami dapat menyerap 0,37 Gigaton karbon dioksida (CO2) setiap tahun, karena bahan organik yang berada di dalamnya tidak dapat membusuk karena tidak terpapar ke udara.

Tetapi, jika dikeringkan, karbon organik yang tersimpan mulai rusak dan dilepaskan sebagai karbon dioksida.

Lahan gambut yang sudah terdegradasi dengan cara ini juga rentan terhadap kebakaran hutan, yang melepaskan sejumlah besar karbon ke atmosfer.

Secara keseluruhan, gambut yang terdegradasi bertanggung jawab atas perkiraan 5% emisi gas rumah kaca antropogenik secara global setiap tahun.

Di Tanjung Makmur, Mustangin memandang ibadah Maghrib bisa menjadi ajang untuk memulai percakapan tentang masalah ini dengan para penduduk desa.

Praktik pembukaan lahan melalui pembakaran dapat memicu kebakaran hutan yang terkenal di Indonesia.

"Saya mengatakan kepada mereka bahwa haram [dilarang] bagi kami sebagai Muslim untuk membakar tanah," kata Mustangin.

`Tokoh agama memainkan peran penting`

Mustangin telah diberi pelatihan sebagai bagian dari inisiatif dari otoritas Islam tertinggi di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sejak 2018, MUI bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Pusat Studi Islam di Universitas Nasional (UNAS) melatih ratusan ulama setempat untuk mempromosikan restorasi lahan gambut kepada masyarakat di Sumatra dan Kalimantan, yang berpenduduk mayoritas Muslim.

"Di mana pun kami bepergian ke desa-desa di daerah pedesaan, kami menemukan bahwa tokoh agama memainkan peran penting dalam kehidupan sosial," kata Fachruddin Mangunjaya, senior konservasionis di UNAS.

Harapannya adalah bahwa fatwa lingkungan yang dikeluarkan oleh MUI, dan dipromosikan oleh ulama setempat dan aktivis masjid, akan menjadi cara yang efektif untuk mendorong restorasi lahan gambut.

masyarakat
Getty Images
Kebakaran hutan di Indonesia menciptakan kabut beracun yang dapat menyebar ke seluruh Asia Tenggara, yang menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang besar

Perkiraan berapa banyak karbon yang dikurung di gambut Indonesia bervariasi, mulai dari 13,6 - 40,5 Gigaton (Gt) karbonLink, dengan perkiraan rata-rata sekitar 28,1Gt.

Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 37% simpanan karbon lahan gambut dunia.

Indonesia memiliki sekitar 15 juta hektar (ha) lahan gambut dan hampir setengah dari wilayah ini sudah terdegradasi.

Pada tahun 2016, BRG didirikan dengan misi untuk memulihkan 2,5 juta ha lahan gambut terdegradasi pada tahun 2020.

Karena sumber daya yang terbatas, badan tersebut harus menurunkan targetnya, menjadi 900.000 ha lahan, kata Nazir Foead, kepala BRG.

Sementara target 1,7 juta lahan gambut lainnya dibawah konsesi perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas, ujar Foead, di bawah pengawasan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Di area non-konsesi, hampir 780.000 ha dari target 900.000 telah direstorasi pada akhir 2019.

"Ini karena kami telah berkolaborasi dengan orang-orang di daerah," tutur Foead.

Dalam jangka waktu empat tahun terakhir, BRG telah bekerja sama dengan 366 desa di Sumatra dan Kalimantan untuk memulihkan lahan gambut yang sudah kering dan menanaminya dengan tanaman lokal.

Agama adalah kunci untuk melibatkan masyarakat desa, katanya.

"Karena itu, kami meminta tokoh agama untuk meningkatkan kesadaran dan tekad untuk melindungi dan memulihkan lahan gambut," kata Foead.

Saksikan Juga