Fatwa MUI Soal Salat Idul Adha dan Kurban Saat Pandemi COVID-19
Sabtu, 11 Juli 2020 | 06:51 WIB

Fatwa MUI Soal Salat Idul Adha dan Kurban Saat Pandemi COVID-19

Jemaah diimbau mengikuti protokol kesehatan saat menyembelih kurban.
Potong sapi di hari raya Idul adha/Ilustrasi.
Photo :
  • ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Potong sapi di hari raya Idul adha/Ilustrasi.

VIVA – Majelis Ulama Indonesia atau MUI telah mengeluarkan fatwa Nomor: 36 Tahun 2020 tentang salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban saat pandemi COVID-19 di Indonesia.

"Kurban atau udhhiyah adalah menyembelih hewan tertentu, yaitu unta, sapi, kerbau, atau kambing dengan tujuan beribadah kepada Allah pada Hari Raya Idul Adha dan tiga Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asroroun Ni'am Sholeh di Jakarta, Jumat, 10 Juli 2020.

Ni'am mengatakan, bahwa ibadah kurban hukumnya adalah sunah muakkadah, dilaksanakan dengan penyembelihan hewan ternak. Ibadah kurban tidak dapat diganti dengan uang atau barang lain yang senilai, meski ada hajat dan kemaslahatan yang dituju.

"Apabila hal itu dilakukan, maka dihukumi sebagai shadaqah," katanya.

Kemudian, lanjut dia, ibadah kurban dapat dilakukan dengan cara taukil, yaitu pekurban menyerahkan sejumlah dana seharga hewan ternak kepada pihak lain, baik individu maupun lembaga sebagai wakil untuk membeli hewan kurban, merawat, meniatkan, menyembelih, dan membagikan daging kurban.

Tentunya, menurut dia, pelaksanaan penyembelihan kurban harus tetap menjaga protokol kesehatan untuk mencegah dan meminimalisir potensi penularan, yaitu: pihak yang terlibat dalam proses penyembelihan saling menjaga jarak fisik (physical distancing) dan meminimalisir terjadinya kerumunan.

Selanjutnya, selama kegiatan penyembelihan berlangsung, pihak pelaksana harus menjaga jarak fisik (physical distancing), memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun selama di area penyembelihan, setiap akan mengantarkan daging kepada penerima, dan sebelum pulang ke rumah.