7 Fakta Menarik Tentang Gus Sholah

7 Fakta Menarik Tentang Gus Sholah

Selasa, 4 Februari 2020 | 05:14 WIB
Gus Sholah meninggal dunia pada usia 77 tahun.
Pengasuh Pesantren Tebu Ireng Jombang, Salahuddin Wahid alias Gus Solah, di Posko Pemenangan Khofifah-Emil Dardak di Jalan Gayungsari Barat Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 22 Januari 2018.
Photo :
  • VIVA/Nur Faishal

Pengasuh Pesantren Tebu Ireng Jombang, Salahuddin Wahid alias Gus Solah, di Posko Pemenangan Khofifah-Emil Dardak di Jalan Gayungsari Barat Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 22 Januari 2018.

VIVAnews - Indonesia berduka. Salah satu tokoh penting, dan juga seorang kiai yang dihormati, Salahuddin Wahid alias Gus Sholah, meninggal dunia pada Minggu, 2 Februari 2020, pukul 20:55 WIB. Gus Sholah meninggal di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, akibat sakit jantung.

Jenazah Gus Sholah dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur, Senin, 3 Februari 2020, sekitar pukul 14.30 WIB. Dilaporkan bahwa mendung tipis dan rintik hujan mengiringi proses pemakaman adik kandung Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tersebut.

Baca juga: Dalam Islam, Gus Sholah Disebut Masuk Golongan Orang-orang Baik

Gus Sholah lahir di Jombang, 11 September 1942. Dia meninggal dalam usia 77 tahun. Selama kehidupannya, banyak yang sudah dilakukan almarhum baik untuk masyarakat, agama, dan juga negara.

Berikut fakta menarik mengenai Gus Sholah, putra ketiga dari enam bersaudara pasangan Wahid Hasyim dengan Sholichah seperti dikutip dari situs laduni.id:

1. Guru SD-nya Ada yang Jadi Aktivis Komunis

Pada tahun 1947, Salahuddin pindah ke Tebuireng, menyusul wafatnya Hadratus Syekh Kiai Hasyim Asy’ari yang digantikan oleh ayahnya, Wahid Hasyim. Selanjutnya pada awal tahun 1950, ketika ayahnya diangkat menjadi Menteri Agama, Salahuddin ikut pindah ke Jakarta.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), di mana para gurunya banyak yang menjadi anggota pergerakan, termasuk orang-orang komunis. Pengalaman di sekolah ini membuatnya terbiasa hidup di lingkungan yang heterogen sehingga terbiasa menghadapi perbedaan.

2. Menikah dengan Sesama Anak Menteri Agama

Pada tahun 1968, pemuda Salahuddin menikah dengan Farida, putri mantan Menteri Agama, Syaifudin Zuhri. Pernikahan ini cukup unik, karena keduanya sama-sama anak mantan Menteri Agama. Padahal di sini tidak ada unsur kesengajaan. Salahuddin terlebih dahulu mengenal (calon) istrinya sebelum mengenal (calon) mertuanya. Ia tertarik dengan Farida meskipun saat itu belum tahu bahwa Farida adalah putri mantan Menteri Agama.

Berita Terkait :
Saksikan Juga