Wajar Klub Liga 1 Tolak Jumlah Hak Komersial yang Dijanjikan PSSI

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan saat membuka Liga 1 2020
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Didik Suhartono

VIVA – Suara penolakan akan jumlah hak komersial yang diterima klub Liga 1 pada lanjutan Oktober 2020 mendatang masih ramai. Mereka menganggap jumlah yang dijanjikan oleh PSSI dan PT Liga Indonesia Baru masih kurang.

Pemain Keturunan Bisa Bela Timnas U-19 di Piala Dunia U-20, Siapa Dia?

Dalam sebuah kesempatan, Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengatakan hak komersial yang akan diterima setiap klub Liga 1 pada lanjutan nanti per bulannya Rp800 juta. Tapi, menurut klub jumlah itu tak mencukupi.

(Baca juga: Inkonsistensi Ketua Umum PSSI soal Timnas Latihan di Korea Selatan)

Persib Bandung Waspadai Kekuatan Lini Depan MU

"Masih jauh dari cukup. Kalau dibanding sama biaya operasional kami," tutur Direktur Pengembangan Bisnis Tira Persikabo, Rhendi Arindra.

Tira Persikabo tidak sendiri, Chief Executive Officer (CEO) PSIS Semarang, Yoyok Sukawi juga mengutarakan hal yang sama. Dia menganggap Rp800 juta sebulan itu tidaklah cukup, apalagi kompetisi dilanjutkan tanpa adanya penonton.

Gol Menit Akhir PSIS Buyarkan Kemenangan Bhayangkara FC

Pemasukan klub tentu akan berkurang drastis. Selama ini, klub-klub di Indonesia selalu bergantung sekali dengan pemasukan dari penjualan tiket pertandingan.

"Kami nilai subsidi Rp800 juta itu sangat kurang, karena kompetisi dilanjutkan tidak seperti biasanya. Apalagi PSIS itu salah satu pemasukan terbesarnya dari penjualan tiket," tutur Yoyok.

Hitung-hitungan Hak Komersial Jadi Turun

Hak komersial menjadi salah satu poin penting yang dibahas oleh klub dan PT LIB ketika musim baru akan dimulai. Dana tersebut merupakan pemasukan kompetisi dari penjualan hak siar dan sponsor.

Pada Liga 1 2020, setiap klub Liga 1 dipastikan menerima Rp5,2 miliar sebagai hak komersial. Lalu dua tim lainnya, Persipura Jayapura dan Persiraja Banda Aceh dapat lebih banyak Rp5,7 miliar dengan alasan jarak tempuh.

(Baca juga: Shin Tae-yong dan Kontroversi Jabatan Manajer Timnas Indonesia U-19)

Ketika Liga 1 2020 baru memasuki pekan ketiga, pandemi virus corona melanda Indonesia. PSSI memutuskan menghentikan sementara kompetisi.

Dalam kondisi ditangguhkan, PT LIB mengalami kesulitan keuangan. Mereka dalam tekanan karena diharuskan pula membayar hak komersial termin pertama kepada klub.

Sempat muncul permintaan dari PT LIB untuk memangkas hak komersial termin pertama. Dari Rp520 juta tiap klub menjadi Rp350 juta. Tapi, klub menolak dan PSSI pun memaksa mereka tetap sesuai janji awal.

"Sebagai operator Liga 1 dan Liga 2, sudah menjadi kewajiban dari PT LIB untuk melakukan pembayaran subsidi kepada klub-klub Liga 1 dan Liga 2, dengan jumlah yang telah disepakati," tulis surat PSSI kepada PT LIB, Rabu 6 Mei 2020.

"Yaitu, masing-masing sebesar Rp520 juta, bukan Rp350 juta untuk Liga 1. Dan untuk Liga2, masing-masing sebesar Rp250 juta untuk termin pembayaran pertama, bukan sebesar Rp100 juta seperti yang tertera dalam surat."

Instruksi dari PSSI itu akhirnya dituruti oleh PT LIB. Klub akhirnya bisa mendapatkan hak komersial termin pertama mereka sesuai janji awal.

Klub tetap terancam mengalami pemangkasan nominal hak komersial jika mengacu kepada keputusan Iriawan. Karena, dalam perencanaan jadwal lanjutan Liga 1, cuma berlangsung selama lima bulan.

Pemasukan Rp800 juta selama lima bulan, totalnya menjadi Rp4 miliar. Lalu ditambah Rp520 juta dari pembayaran termin pertama. 16 klub akan mengalami penurunan pemasukan mencapai Rp680 juta, lalu Persipura dan Persiraja kehilangan Rp1,1 miliar.

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan

Langkah Tegas PSSI Basmi Sepakbola Gajah di Liga 3

Sepakbola Indonesia kembali tercoreng dengan adanya aksi tak sportif yang mengindikasikan munculnya sepakbola gajah. Itu terjadi di Liga 3.

img_title
VIVA.co.id
14 Maret 2022