Penjelasan Ilmiah Soal Bos yang Kerap Emosi

Penjelasan Ilmiah Soal Bos yang Kerap Emosi

Minggu, 30 April 2017 | 07:02 WIB
Oleh :
Emosi bos bisa menular ke bawahan.
Peresmian Sinergi Terapan Neurosains Indonesia (Sintesa)
Photo :
  • Viva.co.id/Amal Nur Ngazis

Peresmian Sinergi Terapan Neurosains Indonesia (Sintesa)

VIVA.co.id – Setiap pemimpin punya karakter yang beragaml. Ada pemimpin yang kalem, ada yang bergaya galak. Ternyata, pendekatan neurosains bisa dipakai untuk menganalisis bagaimana gaya pemimin yang gemar marah-marah.

Neurosains menjelaskan perilaku manusia dari sudut pandang aktivitas yang terjadi di otak. Oleh karena sistem neuron atau sel saraf adalah unit paling kecil dari sistem saraf yang menerima dan membawa sinyal melalui kerja listrik dan kimiawi. 

Sistem listrik dan kimiawi yang terjadi di tingkat neuron inilah yang memiliki hubungan yang sangat erat antara otak dengan pikiran dan perilaku manusia.

Ketua Umum Asosiasi Sinergi Terapan Neurosains Indonesia atau Sintesa, Lyra Puspa, mengungkapkan pemimpin yang gemar marah-marah bisa berdampak buruk bagi bawahannya. Daya kreativitas mereka bisa padam karena perilaku direktif pemimpin tersebut. 

Relasi demikian, kata Lyra sudah dikelaskan dalam penelitian ilmuwan Massachusetts Institute of Technology atau MIT Amerika Serikat. 

"Dari riset MIT kalau seorang leader dalam kondisi marah, enggak usah marah omongan saja, itu kalau masuk ruangan, bawahan langsung otaknya stres, langsung drop, dan enggak bisa fokus (bekerja). Apalagi kalau marahnya ngomong," ujar dia kepada VIVA.co.id

Berita Terkait :
)
Saksikan Juga