Waduh, Google Translate Olok-olok Frasa Aceh dan Melayu - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Rabu, 16 Oktober 2019 | 15:23 WIB

Waduh, Google Translate Olok-olok Frasa Aceh dan Melayu

Forum Masyarakat Aceh dan Melayu protes keras ke Google.
Google Translate
Photo :
  • Instagram/@computerpaytakhtqom

Google Translate

VIVA – Forum Masyarakat Melayu dan Aceh baru-baru ini mengirim surat terbuka ke Google. Musababnya guys, Google Translate. Musababnya karena ada diskriminasi rasial.

Dikutip dari surat terbuka itu, Rabu 16 Oktober 2019 forum orang Aceh tersebut mengungkapkan ada sejumlah suku kata yang artinya diskriminatif. Beberapa contoh yang dimaksud adalah suku kata 'anak melayu' dari bahasa Jawa ke Indonesia diartikan 'bajingan', dan 'wong melayu' yang berarti 'orang-orang curang'. Kok bisa gini sih.

Kesalahan juga ditemukan pada frasa 'anak melayu' jika diartikan dari Jawa ke Melayu berarti 'anak lelaki jalang'. Kemudian kata 'wong melayu' diartikan Google sebagai 'orang menipu'.

Kemudian pada pengaturan bahasa Jawa ke Indonesia, Melayu dan Inggris, frasa 'anak aceh' diartikan sebagai 'bajingan', 'anak lelaki jalang' dan  'son of a bitch'. Kemudian 'pria aceh' sebagai 'dasar brengsek', 'apa jerk' dan 'what a jerk'.

Ditemukan juga, frasa 'baju aceh' diterjemahkan sebagai 'kaus kaki' dan 'pakaian aceh' sebagai 'pakaian sampah' dan dalam bahasa Inggris diartikan 'rubbish clothes'.

"Kami tahu bahwa produk Google Translate bersifat terbuka, dapat diisi siapa pun melalui kontributor. Akan tetapi kami menganggap tuan tidak memiliki mekanisme verifikasi terhadap segala hal yang masuk," demikian isi dalam surat tersebut.

Produk ini dianggap telah mencederai harga diri dan marwah masyarakat Melayu dan Aceh. Hal ini diartikan sebagai praktik diskriminatif, penanaman kebencian, mengolok-olok dan merendahkan identitas Aceh dan Melayu.

"Kami meminta kepada perusahaan tuan untuk menghapus apa-apa yang terdapat pada terjemahan, sebagaimana yang telah kami uraikan di atas. Selambat-lambatnya 3x24 jam setelah surat protes ini sampai, pada Selasa, 15 Oktober 2019," jelas komunitas tersebut.

loading...
Muat Lainnya...