Setop Merokok Bantu Perangi Virus Corona di Indonesia, Benarkah
Setop Merokok Bantu Perangi Virus Corona di Indonesia, Benarkah
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-abc.jpg?v=8.7.12

Setop Merokok Bantu Perangi Virus Corona di Indonesia, Benarkah

Jumat, 20 Maret 2020 | 16:10 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/01/17/5e21b05d7cfc0-rokok-kenikmatan-terakhir-rakyat-yang-hendak-di-ambil-orang-kaya_663_382.jpg
Photo :
  • U-Report

Ilustrasi orang merokok.

Dengan peningkatan jumlah kasus Virus Corona COVID-19 yang dilaporkan semakin meningkat di Indonesia, berbagai upaya masih bisa dilakukan untuk menghindari diri dari pandemi ini.

Beberapa pakar psikologi di Indonesia yang dihubungi ABC News telah memberikan saran, seperti menghentikan kebiasaan merokok, yang bisa membuat resiko terhadap kesehatan meningkat.

Menghentikan kebiasaan merokok juga dapat menghemat uang yang kemudian bisa dipakai untuk membeli bahan kebutuhan pokok lain.

Belum ada data resmi mengenai sebab kematian korban virus corona di Indonesia, namun dari data yang sudah tersedia dari China, rata-rata mereka yang meninggal karena corona adalah pria berusia 56 tahun dan merokok.

Professor Yayi Suryo Prabandari dari Fakultas Kedokteran di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mendukung saran agar warga Indonesia yang merokok untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

"Yang pertama yang bisa dilakukan adalah berhenti merokok," ujar Professor Yayi dalam perbincangan dengan wartawan ABC Indonesia, Sastra Wijaya, hari Jumat (20/03).

"Kalau belum bisa, usahakan merokok di tempat yang disediakan dan bukan dalam rumah, di dalam gedung," tambahnya.

Prof Yayi Suryo Prabandari dari UGM Yogyakarta. Prof Yayi Suryo Prabandari dari UGM Yogyakarta.

Foto: Koleksi pribadi

Prof Yayi mengatakan usaha menurunkan tingkat merokok di Indonesia memang tidak gampang dilakukan.

Tetapi merokok membuat tubuh lebih rentan terserang virus corona.

"Berhenti merokok itu perlu niat dan saat ini situasi yang tepat. Membeli rokok pun juga perlu keluar rumah, sementara dihimbau untuk tetap di runah sekarang ini," tambahnya.

Saat ini virus corona mulai menunjukkan dampaknya terhadap perekonomian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sehingga warga harus lebih berhemat dalam pengeluaran.

Di Indonesia data menunjukkan pengeluaran pembelian rokok adalah pengeluaran kedua terbesar, setelah pembelian beras.

Penelitian Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta menunjukkan jumlah perokok di Indonesia ada 66,9 juta orang yang menghabiskan 12.3 batang rokok perhari.

Jika dihitung dari jumlah total secara nasional, biaya yang dihabiskan untuk membeli rokok adalah Rp 0.8 triliun.

"Bila jumlah uang ini dibelikan makanan maka kebutuhan 2.210 kalori setiap hari bagi warga Indonesia akan tercukupi," tulis laporan tersebut.

Menjadi Duta "Social Distancing" Himbauan dari Himpunan Psikologi Indonesia agar warga Indonesia menjadi duta social distancing untuk memerangi virus corona. Himbauan dari Himpunan Psikologi Indonesia agar warga Indonesia menjadi duta social distancing untuk memerangi virus corona.

Foto: Facebook

Professor Yusti Probowati dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya di Jawa Timur sudah menyebarkan ide yang digalang oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) agar setiap warga Indonesia menjadi duta "social distancing".

Saksikan Juga

Terpapar Corona, Ini Data Tenaga Medis Meninggal Dunia

TVONE NEWS - 4 bulan lalu
loading...