Pandemi COVID-19, Semakin Banyak Penelitian yang Menyudutkan Rokok
Rabu, 3 Juni 2020 | 13:20 WIB

Pandemi COVID-19, Semakin Banyak Penelitian yang Menyudutkan Rokok

Rokok selalu dikaitkan dengan wabah COVID-19.
Ilustrasi vaksin COVID-19.
Photo :
  • Red Herring

Ilustrasi vaksin COVID-19.

VIVA – Direktur Divisi Epidemiologi di Departemen Kesehatan Kota New York, Kelly Henning, menegaskan bahwa melindungi orang dari bahaya produk tembakau – dan meminta pertanggungjawaban industri tembakau atas tindakan global mereka – adalah komponen penting dalam perang melawan Virus Corona COVID-19.

Menurutnya, perokok lebih mungkin mengembangkan komplikasi parah dengan COVID-19 dibandingkan yang bukan perokok. Hal ini juga mengacu pada kajian studi oleh para ahli kesehatan masyarakat yang digelar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Sebuah penelitian baru dari 169 rumah sakit di Asia, Eropa dan Amerika Utara menemukan bahwa perokok memiliki hampir dua kali lipat kemungkinan kematian daripada bukan perokok," kata Henning, seperti dikutip dari situs CNN, Rabu, 3 Juni 2020.

Ia melanjutkan merokok membunuh lebih dari 8 juta orang per tahun, terutama di negara-negara berpenghasilan menengah hingga rendah. Kematian ini dapat dicegah dan sebagian besar berasal dari kanker, penyakit jantung, stroke, penyakit paru-paru kronis, dan diabetes — kondisi yang juga berkontribusi pada tingginya angka kematian pasien positif COVID-19.

Menolak

Ditambah lagi biaya kesehatan yang semakin tinggi, di mana Henning menyebut angka US$1,4 triliun (hampir Rp20 ribu triliun) harus dikeluarkan setiap tahunnya di seluruh dunia. "Bantu perokok untuk berhenti akan mengurangi jumlah orang dengan kondisi mendasar yang dapat membuat mereka lebih rentan terhadap COVID-19," ungkapnya.

Ilustrasi Rokok