Perusahaan Global yang Beroperasi di Indonesia Boikot Iklan Facebook
Rabu, 1 Juli 2020 | 15:30 WIB

Perusahaan Global yang Beroperasi di Indonesia Boikot Iklan Facebook

Aviva dan Intercontinental Hotels Group (IHG) boikot iklan Facebook.
Kepala Eksekutif Facebook, Mark Zuckerberg.
Photo :
  • Adweek

Kepala Eksekutif Facebook, Mark Zuckerberg.

VIVA – Dua perusahaan global yang beroperasi di Indonesia ikut boikot iklan di Facebook gara-gara ujaran kebencian. Keduanya berasal dari Inggris yaitu perusahaan asuransi Aviva dan grup hotel, Intercontinental Hotels Group (IHG), yang menaungi merek Holiday Inn, Crown Plaza, serta Hotel Kimpton. Adapun Aviva, Holiday Inn, dan Crown Plaza diketahui beroperasi di Indonesia.

Mengutip situs BBC, Rabu, 1 Juli 2020, keduanya mengikuti jejak 150 perusahaan dengan merek besar dunia yang sudah lebih dahulu memboikot iklan di Facebook. Mereka antara lain Starbucks, Unilever, Verizon, North Face, Patagonia, Ben&Jerry's, Magnolia Pictures, Honda, Hershey, dan Coca-Cola.

Mereka semua sepakat tidak akan pasang iklan pada Juli 2020. Tak pelak, posisi Facebook lagi terjepit. Biang keladinya karena Facebook dan grupnya tidak melakukan aksi yang cukup memuaskan untuk menghapus konten ujaran kebencian atau hate speech di platformnya.

Baca: Cara Ini Bisa Bikin Facebook Pelan-pelan Jatuh

Akibat boikot tersebut, saham Facebook turun sebanyak delapan persen pada Jumat, 26 Juni lalu yang mengakibatkan kekayaan Zuckerberg turun hingga US$7 miliar atau sekitar Rp100 triliun.

Melihat situasi yang pelik ini, Facebook seperti tidak merasa terganggu. Mereka justru mengatakan ingin menjadi kekuatan untuk kebaikan semua. Dalam perkembangan terakhir, Wakil Presiden Facebook untuk Eropa Utara, Steve Hatch, mengatakan bahwa tidak ada keuntungan yang diambil dari konten yang berisi ujaran kebencian.

"Karyawan kami telah bekerja siang dan malam untuk menghapus hoax selama pandemi COVID-19. Jika pengguna kami menyebarkan informasi yang bisa menyebabkan kegaduhan di dunia nyata, kami akan menghapusnya. Kami telah melakukannya dalam ratusan ribu kasus," klaim Hatch.