Penelitian: Gas Beracun Kian Kepung Ruang Udara Jakarta | Halaman 3

Penelitian: Gas Beracun Kian Kepung Ruang Udara Jakarta

Rabu, 12 Agustus 2020 | 04:30 WIB
Pencemaran udara terjadidi ruang udara Jakarta, Banten dan Jawa Barat.
Ilustrasi: Kondisi udara di Jakarta yang penuh polusi beberapa waktu lalu.
Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa

Ilustrasi: Kondisi udara di Jakarta yang penuh polusi beberapa waktu lalu.

“Lebih dari itu, melalui pantauan satelit, peneliti melihat wilayah padat industri tersebut berada pada lokasi yang sama dengan titik konsentrasi NOx dan SO2 di Jawa,” ujar Isabella.

Dari inventarisasi emisi untuk Banten, Jawa Barat dan Jakarta didapati bahwa Banten dan Jawa Barat memiliki emisi PM2.5, SO2 dan NOx yang jauh lebih tinggi (dua kali lipat atau bahkan empat kali lipat dibanding Jakarta). Emisi berbahaya itu sebagian besar disebabkan oleh industri dan pembangkit listrik.

Dari kerumunan gas beracun yang memenuhi ruang udara Jakarta tersebut, CREA mengestimasikan bahwa pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara  (PLTU Batu bara) yang berada dalam radius 100 km dari Jakarta bertanggung jawab atas sekitar 2.500 kematian dini di wilayah Jabodetabek.

Pencemaran lintas batas juga bertanggung jawab atas dampak buruk kesehatan lainnya yang terkait dengan sistem kekebalan, pernapasan, dan kardiovaskular. Biaya tahunan akibat pencemaran lintas batas dari PLTU Batu bara bahkan diperkirakan mencapai Rp5,1 triliun per tahun di Jabodetabek, atau Rp180.000 per orang per tahun.

Penemuan terbaru CREA ini memperkuat dan menegaskan temuan-temuan ilmiah sebelumnya yang menyatakan bahwa beban polusi kota Jakarta sudah mencapai tingkat kritis dan semakin meningkat seiring dengan rencana pengembangan pembangkit listrik ke depannya (Jawa 9 & 10).

Berita Terkait :
Saksikan Juga
Artikel Terpopuler