Penelitian: Gas Beracun Kian Kepung Ruang Udara Jakarta

Penelitian: Gas Beracun Kian Kepung Ruang Udara Jakarta

Rabu, 12 Agustus 2020 | 04:30 WIB
Pencemaran udara terjadidi ruang udara Jakarta, Banten dan Jawa Barat.
Ilustrasi: Kondisi udara di Jakarta yang penuh polusi beberapa waktu lalu.
Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa

Ilustrasi: Kondisi udara di Jakarta yang penuh polusi beberapa waktu lalu.

VIVA –  Transportasi darat yang keluar-masuk di Ibu Kota selama ini diyakini sebagai sumber utama emisi yang memicu pencemaran udara. Namun sebuah penelitian baru menemukan bahwa sumber emisi tidak bergerak yaitu pembangkit listrik batu bara, pabrik, dan fasilitas industri lainnya ternyata memberi sumbangan yang cukup signifikan terhadap beban polusi di kota Jakarta.

Dalam laporan terbaru yang diluncurkan oleh lembaga penelitian CREA (Centre for Research on Energy and Clean Air) terungkap adanya pencemaran udara lintas batas yang terjadi di ruang udara Jakarta, dari Banten dan Jawa Barat.

Ruang udara Jakarta - area di mana emisi memengaruhi kualitas udara - luasnya jauh melampaui batas administratifnya seperti Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi, Puncak dan Cianjur. Bahkan meluas hingga Sumatera Selatan, Lampung, dan Jawa Tengah.

“Bahkan dengan COVID-19 sejak awal tahun 2020, kualitas udara di Jakarta tidak dapat dikatakan meningkat secara signifikan. Citra satelit menunjukkan bahwa pembangkit listrik Suralaya di Banten beroperasi dan menghasilkan emisi seperti periode sebelumnya meski terjadi pembatasan akibat COVID-19,” kata Analis CREA, Isabella Suarez dalam keterangannya, Selasa 11 Agustus 2020 .

Emisi pencemar udara di Jakarta, dan juga di provinsi-provinsi sekitarnya, telah meningkat hingga memperburuk kualitas udara dan menghambat upaya perbaikan kualitas udara itu sendiri. Hal itu terlihat dari data sepanjang tahun 2018, pemantauan PM2.5 di Jakarta mencatat ada 101 hari dengan kualitas udara “tidak sehat” dan 172 hari pada 2019.

Peneliti CREA menyebut, angin menjadi salah satu faktor yang membawa pencemaran pembangkit listrik Suralaya ke Jakarta. Hal itu menyebabkan konsentrasi PM2.5 yang tetap tinggi di Jakarta kendati terjadi pengurangan besar-besaran dalam lalu lintas lokal dan aktivitas perkotaan.

Dalam laporannya, CREA menjelaskan bahwa faktor meteorologi seperti lintasan angin memengaruhi penyebaran pencemar seperti NO, SO2 dan PM2.5.

Bulan kering

“Pada bulan-bulan kering Mei hingga Oktober, ketika tingkat pencemaran keseluruhan di kota ini paling tinggi, sumber-sumber dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara dan pabrik industri di sebelah timur Jakarta (dari Bekasi, Karawang, Purwakarta hingga Bandung) akan memberikan dampak yang lebih besar pada kualitas udara,” tutur Isabella Suarez.

Sedangkan pada bulan-bulan basah (Desember hingga Maret), sumber-sumber di wilayah bagian barat - khususnya pembangkit listrik Suralaya di Banten - menjadi penyumbang pencemaran yang lebih besar.

CREA mencatat, ada 136 fasilitas industri terdaftar (termasuk pembangkit listrik) yang bergerak di sektor-sektor dengan emisi tinggi di Jakarta dan berada dalam radius 100 km dari batas administratif Ibu Kota.

Fasilitas industri tersebut sebanyak 16 unit berlokasi di DKI Jakarta; 62 di Jawa Barat, 56 di Banten, satu di Jawa Tengah dan terakhir di Sumatera Selatan (lebih rinci di dalam report).

“Lebih dari itu, melalui pantauan satelit, peneliti melihat wilayah padat industri tersebut berada pada lokasi yang sama dengan titik konsentrasi NOx dan SO2 di Jawa,” ujar Isabella.

Dari inventarisasi emisi untuk Banten, Jawa Barat dan Jakarta didapati bahwa Banten dan Jawa Barat memiliki emisi PM2.5, SO2 dan NOx yang jauh lebih tinggi (dua kali lipat atau bahkan empat kali lipat dibanding Jakarta). Emisi berbahaya itu sebagian besar disebabkan oleh industri dan pembangkit listrik.

Dari kerumunan gas beracun yang memenuhi ruang udara Jakarta tersebut, CREA mengestimasikan bahwa pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara  (PLTU Batu bara) yang berada dalam radius 100 km dari Jakarta bertanggung jawab atas sekitar 2.500 kematian dini di wilayah Jabodetabek.

Pencemaran lintas batas juga bertanggung jawab atas dampak buruk kesehatan lainnya yang terkait dengan sistem kekebalan, pernapasan, dan kardiovaskular. Biaya tahunan akibat pencemaran lintas batas dari PLTU Batu bara bahkan diperkirakan mencapai Rp5,1 triliun per tahun di Jabodetabek, atau Rp180.000 per orang per tahun.

Penemuan terbaru CREA ini memperkuat dan menegaskan temuan-temuan ilmiah sebelumnya yang menyatakan bahwa beban polusi kota Jakarta sudah mencapai tingkat kritis dan semakin meningkat seiring dengan rencana pengembangan pembangkit listrik ke depannya (Jawa 9 & 10).

Berita Terkait :
Saksikan Juga
Artikel Terpopuler