4 Alasan Ini Bikin Jakarta Cocok Jadi Rumah Startup Dunia - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Jumat, 9 Agustus 2019 | 14:19 WIB

4 Alasan Ini Bikin Jakarta Cocok Jadi Rumah Startup Dunia

Jakarta cuma kalah dari Helsinki dan Hangzhou.
Ruang Terbuka Hijau di ibu kota Jakarta.
Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa

Ruang Terbuka Hijau di ibu kota Jakarta.

VIVA – Laporan berjudul Global Startup Ecosystem Report 2019 (GSER) yang dirilis oleh Genome, startup berbasis riset Internasional asal Amerika Serikat (AS), pada Mei 2019 menyebutkan Jakarta merupakan penantang kuat (challenger) sebagai 1 dari 30 kota dengan ekosistem startup potensial di kancah global.

Menurut riset tersebut, Jakarta menempati urutan ketiga, yang memiliki kriteria ekosistem startup paling lengkap, di bawah Helsinki di Finlandia dan Hangzhou dari China. Hangzhou dikenal sebagai kampung halamannya pendiri Alibaba, Jack Ma, dan lokasi Asian Games 2022.

Ketua Umum Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), Joddy Hernady, bersedia membeberkan sejumlah alasan mengapa Jakarta masuk ke dalam tiga besar sebagai rumah startup dunia.

Rumahnya 4 startup unicorn

Gojek.

Joddy mengatakan, sebagai ibu kota Indonesia, adalah wajar jika Jakarta merupakan rumah bagi 4 perusahaan rintisan (startup) unicorn yang nilai valuasinya lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp14 triliun.

Keempatnya yaitu Tokopedia, Gojek, Traveloka, dan Bukalapak. "Lahirnya empat unicorn ini merupakan jumlah yang cukup signifikan mengingat di Asia Tenggara hanya tujuh startup, termasuk empat dari Indonesia, yang berhasil masuk ke dalam jajaran unicorn," kata dia.

‘Dikepung’ lebih dari 500 startup

Saat ini terdapat 1.019 startup di Indonesia yang masih aktif. Dari jumlah tersebut, 529 di antaranya berada di kawasan Jakarta dan sekitarnya (bodetabek).

Hal ini semakin membuka visi pemerintah untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang ekosistem startup-nya maju atau disebut smart city.

"Ada startup yang bergerak di e-commerce, financial technology (fintech) dan games," ungkap Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif, Hari Santosa Sungkari.

Ilustrasi Smart City.

Ilustrasi smart city.

Pusat segalanya

Harus diakui bahwa Jakarta memiliki semua aspek yang membuat startup bisa bertahan dan terus berkembang.

Mulai dari memiliki performa yang bagus, memiliki potensial funding, memiliki pengetahuan yang cukup tentang startup, raihan pasar, talenta yang tersedia, serta memiliki aspek saling terhubung atau connectedness.

“Kesiapan ekosistem itu sangat penting. Kalau eksositemnya sudah siap, memungkinkan startup untuk bisa berkembang dan tumbuh.

Oleh karena itu, kita juga mengharapkan supaya kota-kota lain di Indonesia juga memiliki pola pikir atau mindset tentang perkembangan teknologi, dan kesiapan infrastruktur,” ungkap Joddy Hernady.

Ungguli Melbourne dan Tokyo

Diskusi Bekraf dan MIKTI.

Hari Santosa Sungkari mengaku bila Jakarta lebih baik daripada Lagos (Nigeria), Melbourne (Australia), Montreal (Kanada), Moskow (Rusia), Mumbai (India), Sao Paulo (Brazil), Seoul (Korea Selatan), Shenzhen (China), dan Tokyo (Jepang).

Meski begitu, daftar kota penantang kuat potensial merupakan daftar kelompok kedua. Ada satu daftar kota yang punya ekosistem startup lebih maju seperti Singapura, Los Angeles (AS), dan Bangalore (India).

Saksikan Juga

VIDEO: Aksi Tolak Capim Bermasalah, KPK Memanas!

BERITA - 24 hari lalu
loading...
Muat Lainnya...