Status Unicorn Bisa Jadi Ancaman Startup, Benarkah? - VIVA
Status Unicorn Bisa Jadi Ancaman Startup, Benarkah?
X
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-warta.jpg?v=5.83
Senin, 12 Agustus 2019 | 20:50 WIB

Status Unicorn Bisa Jadi Ancaman Startup, Benarkah?

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/08/12/5d516b2c687d4-tak-melulu-untung-status-unicorn-juga-bisa-jadi-ancaman-untuk-startup_663_382.jpg
Photo :
    wartaekonomi

Tak Melulu Untung, Status Unicorn Juga Bisa Jadi Ancaman untuk Startup. (FOTO: Unsplash/Rawpixel).

Kehadiran startup unicorn seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak membuat gegap gempita masyarakat Indonesia.

Selain memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat, keempat unicorn asal Indonesia ini juga mengundang banyak investor asing.

Besarnya potensi pasar di Indonesia menjadikan pertumbuhan beberapa unicorn terus mengalami perkembangan yang positif.

Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia, Didik J. Rachbini mengatakan, investasi asing kepada unicorn membuat ekonomi positif.

Akan tetapi, derasnya Foreign Direct Investment (FDI) atau arus investasi asing secara langsung dapat membuat defisit transaksi berjalan atau Current Account Defisit (CAD) menjadi negatif.

Hal itu disebabkan akibat dana investasi langsung akan kembali kepada negara pemberi modal dalam bentuk dividen atau profit.

Ancaman Defisit Neraca Perdagangan

“Saya perkirakan, 10 tahun lagi akan lebih parah (defisit). Setelah unicorn-unicorn itu untung. Nanti kalau sudah ada pengerukan keuntungan, defisit current account bisa tinggi. Ini tidak akan pernah membuat rupiah menguat. Selama neraca jasa negatif,” ujarnya di Jakarta.

Akan tetapi, dirinya menegaskan, bukan berarti Indonesia harus menghilangkan arus investasi asing secara langsung kepada unicorn dalam negeri.

Perlu dilakukan adalah memberikan ruang bagi investor yang memiliki komitmen investasi berorientasi ekspor produk Indonesia. Sebab, kebanyakan saat ini investor asing masih menjadikan Indonesia sebagai lumbung atau pasar untuk produk-produk dari negara asalnya.

Didik menyebutkan, mayoritas e-commerce atau 93 persen produk yang dijual merupakan barang impor.

“Semua yang ditarik investasi orientasi ekspor. Yang sekarang ini investasinya mengeksploitasi pasar dalam negeri semua, barangnya impor,” ungkapnya.

Terlebih, saat ini beberapa unicorn asal Indonesia merupakan e-commerce yang mempunyai basis konsumen yang tinggi di Indonesia.

Harapannya, pemerintah juga akan mendorong para pelaku e-commerce di Indonesia untuk lebih gencar memasarkan produk lokal buatan Indonesia.

Sebab, produsen di Indonesia juga mulai berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Dengan begitu, defisit transaksi berjalan akan berkurang atau bahkan diimbangi dengan peningkatan ekspor produk dalam negeri.

E-commerce harus membantu negara mengatasi masalah bangsa, membantu UMKM dengan ekspor. E-commerce harus jadi alat memperjuangkan kepentingan kita, devisa kuat. Jangan malah sebaliknya impor terus. Impor menguras devisa kita,” tegasnya.

Saksikan Juga

Nekat, Oknum Sopir Taksi Online Rampok Penumpangnya!

TVONE NEWS - sekitar 1 bulan lalu
loading...