PHK Tak Mengenal Status Decacorn

PHK Tak Mengenal Status Decacorn

Rabu, 24 Juni 2020 | 10:00 WIB
Awalnya Uber lakukan PHK karyawan. Disusul Grab dan kini Gojek.
Ilustrasi karyawan terkena PHK.
Photo :
  • acc-tv.com

Ilustrasi karyawan terkena PHK.

VIVA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak mengenai jenis perusahaan. Baik kecil, menengah, besar, hingga raksasa sekalipun. Termasuk perusahaan rintisan atau startup berstatus decacorn, yakni perusahaan dengan valuasi atau nilai sedikitnya US$10 miliar.

Tiga perusahaan transportasi online berstatus decacorn sama-sama merasakan dampak dari PHK. Ketiganya adalah Uber, Grab, serta Gojek. Alasannya sama, PHK disebut-sebut berkaitan dengan terganggunya industri ride-hailing di masa pandemi COVID-19.

Uber

Uber.

Perusahaan transportasi online asal Amerika Serikat (AS) itu memiliki valuasi sebesar US$72 miliar pada akhir tahun lalu. Meski valuasinya besar, bukan berarti tidak punya masalah. Uber secara tegas melakukan PHK massal bertahap pada awal Mei kemarin.

Sebanyak 3.700 pekerja, atau sekitar 14 persen dari total tenaga kerjanya secara global, segera dirumahkan. Pengurangan ini berkaitan dengan wabah Virus Corona COVID-19 yang telah merusak bisnis mantan pesaing Grab dan Gojek di Asia Tenggara itu.

Kepala Eksekutif Uber, Dara Khosrowshahi, melaporkan kondisi perusahaannya saat ini yang mengalami penurunan drastis. Volume perjalanan di segmen kendaraan angkut orang sangat rendah sehingga perekrutan baru dihentikan sementara.

"Oleh karena itu, kami akan mengurangi tim dukungan pelanggan dan tim rekrutmen. Dengan sangat terpaksa kami melakukan PHK dalam waktu dua minggu ke depan," ungkap Dara, seperti dikutip dari situs Bussines Insider.

Menurut dia, PHK setidaknya akan menghabiskan biaya pesangon dan tunjangan hingga US$20 juta atau Rp302 miliar. Hingga saat ini Uber memiliki 26.900 karyawan di dunia pada Desember 2019 dengan pembagian 10.700 di Amerika Serikat (AS) dan 16.200 di negara lain.

Grab

Grab di Singapura.

Startup transportasi online yang didirikan Anthony Tan ini sudah lebih dahulu melakukan PHK terhadap 360 karyawan di seluruh pasar Asia Tenggara pada pekan lalu. Selain PHK, Grab juga melakukan efisiensi biaya, memotong pengeluaran, hingga memotong gaji manajemen senior.

Grab pun berniat untuk fokus ke sejumlah lini bisnis utama, seperti pembayaran/keuangan (Grabpay) dan pengiriman. Meski begitu, Grab mengaku tak mengalami masalah permodalan. Hanya saja, mereka inginmengonsolidasikan tim di lini-lini bisnis utama tersebut.

Gojek

Gojek.

Mereka resmi mem-PHK 430 karyawan pada Selasa, 23 Juni 2020. Selain itu, Gojek menutup 2 layanannya, yaitu GoLife yang meliputi layanan GoMassage dan GoClean, serta GoFood Festival yang merupakan jaringan pujasera GoFood di sejumlah lokasi.

Ditutupnya layanan GoLife dan GoFood Festival karena membutuhkan interaksi jarak dekat, dan mengalami penurunan permintaan secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan pandemi COVID-19. Meski begitu, aplikasi GoLife dapat digunakan hingga 27 Juli 2020.

Sebanyak 430 karyawan atau 9 persen dari total sekitar 5 ribu karyawan, sebagian besar berasal dari divisi yang terkait dengan GoLife dan GoFood Festival.

Langkah yang telah diumumkan pada pekan ini membuat pesaing Grab itu bisa menggunakan sumber daya yang ada untuk memperkuat fokus kepada bisnis yang memiliki dampak paling luas, khususnya mencakup tiga layanan inti, yaitu transportasi (Goride), pesan-antar makanan (Gofood), dan uang elektronik (Gopay).

Di samping itu pula layanan yang menunjukkan hasil pertumbuhan yang menjanjikan di tengah pandemi seperti bisnis logistik, yang tumbuh 80 persen sejak awal pandemi atau layanan belanja kebutuhan sehari-hari (grocery) yang telah naik dua kali lipat.

Berita Terkait :
)
Saksikan Juga