Okky Madasari: Kita Bisa Mendobrak Dominasi Pria – VIVA
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Jumat, 21 April 2017 | 06:37 WIB
  • Okky Madasari: Kita Bisa Mendobrak Dominasi Pria

  • Oleh
    • Irfan Laskito,
    • Bimo Aria
Okky Madasari
Photo :
  • VIVA.co.id/Bimo Aria
Okky Madasari

VIVA.co.id – Nama Okky Madasari, dikenal sebagai penulis novel yang menggugah kesadaran dan lekat akan kritik sosial. Bahkan, lewat karyanya yang berjudul Maryam (2012), perempuan berusia 32 tahun ini diganjar Penghargaan Sastra Khatulistiwa, penghargaan sastra paling berpengaruh di Indonesia. 

Meski demikian, sebagai penulis perempuan, dia mengaku tidak mudah menaiki tangga kariernya sebagai salah satu penulis berpengaruh di Indonesia. Okky menuturkan, banyak tantangan yang dihadapi penulis perempuan. Salah satunya, dominasi penulis atau sastrawan senior laki-laki. 

"Ada, saya harus akui ada, di dunia sastra (dominasi) itu betul ada, itu adalah sebuah pengalaman nyata. Tapi kemudian ada orang seperti saya yang berkali saya ulang-ulang, bahwa saya memasuki dunia sastra tanpa kenal siapa pun, tanpa mendekatkan diri pada siapa pun, tanpa minta bimbingan pada sastrawan senior laki-laki mana pun dan saya buktikan, saya bisa," ungkap Okky saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis malam 21 April 2017. 

Okky yang juga mantan jurnalis ini menceritakan, di awal kariernya sebagai novelis di tahun 2009 dia hanya bermodalkan karyanya yang ditawarkan ke penerbit. Perempuan lulusan Universitas Indonesia ini menapaki tangga kariernya satu demi satu, tanpa pengaruh dari mana pun. 

"Saya ingin menunjukkan bahwa dominasi itu ada bukan hanya kita tunduk dan mengikuti pola yang ada, kita bisa mendobraknya," ungkap Okky.

Dia menjelaskan, kunci keberhasilannya ialah dengan karya. Menurutnya, selain terus berkarya, sebagai penulis perempuan juga harus memiliki keyakinan dan percaya bahwa karyanya memang berkualitas. 

"Banyak perempuan yang berkarya tapi tidak percaya diri dan datang ke sastrawan senior laki-laki. Bahwa ini rezim laki-laki, dan rezim patriarki, kita harus punya keyakinan bahwa karya kita bisa bicara," kata dia.

Dia melanjutkan, yang terpenting adalah mendorong para penulis, lebih khusus wanita untuk terus berkarya sekaligus mandiri dan percaya akan karyanya. 

"Kalau saya lebih peduli kita mendorong memperbanyak karya sastra yang menumbuhkan kesadaran dan keberanian baru dan membuat pembaca peduli pada permasalahan masyarakat kita," kata dia.