Kisah Swietenia, Pungut Sampah Taruhan Nyawa
Kisah Swietenia, Pungut Sampah Taruhan Nyawa
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-bbc.jpg?v=8.7.10
Rabu, 23 Oktober 2019 | 01:02 WIB

Kisah Swietenia, Pungut Sampah Taruhan Nyawa

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/10/22/5daf1f1599da4-masuk-daftar-100-perempuan-inspiratif-swietenia-pungut-sampah-di-arus-kencang-meski-taruhannya-hidup-atau-mati_663_382.jpg
Photo :
  • bbc

- BBC Indonesia/Anindita Pradana

BBC 100 Women telah mengumumkan daftar 100 perempuan yang dianggap menginspirasi dan berpengaruh dari seluruh dunia untuk tahun 2019.

Penyelam perempuan dan pendiri organisasi Divers Clean Action, Swietenia Puspa Lestari, masuk dalam daftar ini.

Sebagai seorang penyelam, Swietenia Puspa Lestari, yang akrab disapa Tenia, sangat sering menemui sampah berserakan di pantai atau permukaan laut.

Namun, pengalamannya menyelam di Perairan Berau, Kalimantan Timur, tiga tahun silam belum bisa dilupakannya.

Perempuan berusia 25 tahun itu bercerita ia tengah menyelam di kedalaman 15 hingga 30 meter di perairan Berau, saat ia melihat sampah kaleng, kantong kresek, dan saset berserakan di sisinya.

Hal itu mengejutkan, kata Tenia, karena bahkan penyelam yang belum memiliki sertifikasi advanced (lanjutan) tidak diizinkan menyelam di titik itu karena arusnya yang kencang.

"Logikanya daerah dalam, banyak arus, nggak akan ada sampah yang nyangkut, tapi di situ ada," ujar Tenia.

"Nah di situ perasaanku kesal... Ya Allah udah sedalam ini dan sesusah ini (untuk penyelam) kok masih ada sampah ditemukan?"

Dalam keadaan arus kencang seperti itu, para penyelam seharusnya berpegangan tangan erat agar tidak terseret gelombang.

Namun, Tenia memutuskan untuk mengambil risiko dan memungut sampah-sampah itu.

"Aku sampai bela-belain hidupku untuk sampah itu ... antara mati dan hidup," ujar Tenia.

Saat naik ke daratan ia dimarahi oleh instrukturnya karena apa yang dilakukannya sangat berbahaya.

"(Tapi) mau gimana? Kalau (sampahnya) nggak diambil akan mencederai hewan di sana," ujar Tenia.

Ia juga menceritakan sebagai penyelam ia sering mengira kantong plastik kresek adalah ubur-ubur, suatu pemandangan yang mungkin akan mengecoh penyu yang memakan ubur-ubur.

"Berapa banyak penyu yang sudah makan kresek?" ujar Tenia, membagikan pertanyaan yang kian mengusiknya.

Indonesia sendiri disebut sebagai produsen sampah di laut terbesar kedua setelah Cina.

Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut jumlah sampah plastik yang masuk ke laut mencapai sekitar 1,29 juta ton per tahun.

Mulai dari Pulau Seribu

Kegelisahannya melihat polusi laut mendorong Tenia mengajak warga mengurangi penggunaan plastik dan mencegah membuangnya ke laut.

Ia kemudian mendirikan komunitas Divers Clean Action (DCA) di tahun ketiga dirinya menimba ilmu di jurusan teknik lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2015.

Di awal pembentukan organisasinya, Tenia, yang sudah belajar menyelam dari usia sekolah, memfokuskan kegiatannya pada Pulau Seribu karena ia pernah bermukim di Pulau Pramuka dari tahun 2003 hingga tahun 2007.

Saksikan Juga

Reporter Terpeleset di Kolam Renang

TVONE NEWS - lewat 2 tahun lalu
loading...