Lentera Anak Kritisi Influencer yang Permisif soal Rokok
Minggu, 31 Mei 2020 | 15:03 WIB

Lentera Anak Kritisi Influencer yang Permisif soal Rokok

Dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
Imbauan Kemenkes untuk setop merokok
Photo :
  • Instagram/@kemenkes_ri

Imbauan Kemenkes untuk setop merokok

VIVA – Tanggal 31 Mei diperingati sebagai World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Dengan tema Lindungi Kaum Muda dari Manipulasi Industri dan Cegah dari Konsumsi Rokok dan Nikotin, WHO mengajak seluruh platform media sosial untuk melarang pemasaran tembakau dan produk yang berkaitan serta promo oleh influencer terkait hal ini.

Lisda Sundari, Ketua Lentera Anak, memberi pandangannya terkait masalah rokok di kalangan anak muda Indonesia. Menurut Lisda, salah satu penyebab tingginya jumlah perokok anak adalah karena industri rokok sangat gencar menyasar anak muda sebagai target pemasaran produknya dengan melakukan berbagai kegiatan manipulatif melalui iklan, promosi, sponsor, kegiatan CSR, informasi misleading, dan produk-produk baru. Sementara di sisi lain peraturan dan perlindungan kepada anak dan remaja masih sangat lemah.

Dalam siaran pes yang diterima VIVA, Lisda menjelaskan selama berpuluh tahun industri rokok gencar menayangkan iklan rokok yang mengandung pesan manipulatif di berbagai media, seperti elektronik, cetak, billboard, spanduk, dan sebagainya. Iklan rokok dibuat kreatif dan menarik, serta dikemas dengan sangat halus dan terselubung sehingga perlahan tapi pasti tanpa disadari merasuki alam bawah sadar anak muda, sehingga mematikan daya kritis anak muda terhadap industri rokok dan produknya.

Namun di era post-truth saat ini, jelas Lisda, industri rokok di seluruh dunia semakin kreatif memanipulasi anak muda melalui cara-cara baru dengan menggunakan media sosial, influencer anak muda, penggunaan konten film serial beradegan merokok (Netflix, Iflix, Viu), membangun komunitas anak muda dan menggunakan native advertisement (membuat artikel pesanan yang bermuatan promosi rokok).