Social Distancing Picu Lebih Banyak Kasus Bunuh Diri?
Social Distancing Picu Lebih Banyak Kasus Bunuh Diri?
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-dw-2.png?v=8.7.12
Rabu, 3 Juni 2020 | 01:00 WIB

Social Distancing Picu Lebih Banyak Kasus Bunuh Diri?

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2020/06/02/5ed682ff50345-apakah-social-distancing-selama-pandemi-corona-sebabkan-lebih-banyak-kasus-bunuh-diri_663_382.jpg
Photo :
    dw

Imago-Images/W. Zwanzger

Pada awal Maret, ketika wabah corona sampai ke Eropa dan social distancing serta lockdown diterapkan, para pakar kesehatan mental memperingatkan bahwa konsekuensinya bisa mematikan.

Kombinasi isolasi yang dipaksakan, peningkatan kecemasan, kekhawatiran keuangan, dan berkurangnya akses ke terapi dapat membuat mereka menderita sendirian. Banyak ahli khawatir ini dapat menyebabkan kenaikan angka bunuh diri di Jerman.

Pada akhir April, serikat pemadam kebakaran Jerman mengatakan kepada Business Insider bahwa responden darurat menghadapi lebih banyak kasus percobaan bunuh diri dan menemukan catatan bunuh diri yang mengungkap kekhawatiran akan infeksi virus corona - meskipun mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki angka resmi.

Tapi sekarang statistik resmi awal untuk Jerman justru menunjukkan pengurangan angka bunuh diri selama wabah corona. Antara 9.000 dan 10.000 orang melakukan bunuh diri di Jerman setiap tahunnya.

Mencari bantuan online?

Pada awal Mei 2020, harian Augsburger Allgemeine melakukan survei terhadap tujuh negara Jerman yang memiliki statistik angka bunuh diri dan menemukan bahwa angka tersebut sebenarnya turun 20 persen sejak lockdown dimulai dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sulit untuk menjelaskannya dengan tidak adanya penelitian empiris, kata Thomas Voigt, wakil ketua Deutsche Depressionsliga ("Liga Depresi Jerman"), yang menyediakan bantuan jarak jauh dan online untuk orang-orang yang mengalami depresi.

"Tetapi saya dapat mengatakan bahwa sejak krisis corona, permintaan [untuk layanan bantuan mental online] telah menurun secara signifikan," katanya kepada DW. "Itu sebuah paradoks."

Tetapi rendahnya permintaan untuk bantuan online tidak berarti orang belum berjuang sendirian, tambahnya. "Satu penjelasan bisa jadi Anda harus aktif, dengan cara tertentu, untuk meminta bantuan," katanya. "Dan karena ada banyak kesulitan tambahan sekarang, orang-orang begitu terbebani sehingga mereka bahkan tidak bisa mengatasinya."

Terapi online jarak jauh juga mungkin bukan solusi bagi sebagian orang, katanya. "Tentu saja sulit untuk mempertahankan terapi karena social distancing," kata Voigt. "Orang dengan depresi sering membutuhkan kontak manusia. Mereka tidak mau duduk di depan mesin."

Saksikan Juga

Terpapar Corona, Ini Data Tenaga Medis Meninggal Dunia

TVONE NEWS - 4 bulan lalu