Koki dan Pegiat Kuliner Indonesia di Festival Makanan Sehat Italia - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Minggu, 23 September 2018 | 07:35 WIB

Koki dan Pegiat Kuliner Indonesia di Festival Makanan Sehat Italia

Promosi Kuliner Indonesia di Turin Italia
Photo :
  • KBRI

Promosi Kuliner Indonesia di Turin Italia

VIVA – Lima belas orang koki dan pegiat kuliner dari berbagai komunitas gastronomi Indonesia, ikut serta dalam festival makanan sehat atau slow food Terra Madre Salone del Gusto di kota Turin, Italia, 20-24 September 2018.

Dalam festival yang diselenggarakan setiap dua tahun ini, komunitas gastronomi Indonesia diundang untuk menampilkan keunikan masakan tradisional dan produk makanan dari berbagai daerah di Indonesia, bersama dengan komunitas slow food dari 61 negara lainnya.

Komunitas slow food Indonesia dari Jakarta, Yogyakarta, Kalimantan, dan NTB menghadirkan beragam produk makanan dari bahan baku khas Indonesia, seperti aneka jenis pisang, madu hutan, minyak tengkawang, varian beras, hingga kopi. 

Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani yang hadir dalam kesempatan ini menyampaikan apresiasinya atas diundangnya koki dan pegiat kuliner dari berbagai komunitas di Indonesia. 

"Ini kesempatan istimewa untuk mempromosikan gastronomi nusantara, yang sangat kaya rasa maupun nilai. Saya berharap, para koki maupun komunitas pecinta gastronomi Indonesia untuk terus berinovasi meracik makanan lokal Indonesia, sehingga bisa memelihara makanan, tradisi dan budaya lokal termasuk kearifan lokalnya," ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima VIVA, Minggu 23 September 2018.

Koordinator Panitia Acara untuk komunitas Asia Tenggara, Elena Aniere menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat luas dan kaya dengan keragaman gastronomi yang digali dari kekayaan budayanya. 

Charles Toto, koki dari komunitas Jungle Chef Papua dipercaya melakukan demonstrasi masak, menyajikan penganan terinspirasi dari bahan baku yang didapat di Papua berupa ikan kuah kuning, papeda kecipir, swamening, dan teh daun sukun. Dalam racikan sayuran swamening, garam yang digunakan adalah garam hitam yang terbuat dari pelepah daun nipah.

Sajian ini mendapat sambutan hangat dari para pengunjung. Chef yang juga dikenal dengan panggilan Chato ini juga menjadi pembicara dalam sesi bertema, Koki Lokal dan Inspirasi. Sementara itu, Amaliah dari komunitas slow food Yogyakartamempresentasikan mengenai nilai spiritual dari sajian tumpeng dalam sesi diskusi mengenai makanan, kesehatan dan spiritualitas. 

"Tumpeng merupakan cerminan bahwa semua yang dilakukan manusia di dunia berpusat kepada Tuhan. Pesan yang ingin disampaikan melalui filosofi orang Jawa yang tercermin dalam sajian tumpeng adalah agar manusia semakin lama semakin dekat dengan Tuhan dan menjada keseimbangan dalam kehidupan.”

Pegiat kuliner lainnya, Bibong Widiyarti dalam sesi lainnya menyampaikan upaya komunitasnya dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi Masyarakat Adat penyangga hutan di berbagai daerah. Mereka melakukan pengolahan minyak tengkawang dan madu hutan yang bernilai ekonomi tinggi namun ramah lingkungan.

Terra Madre Salone del Gusto adalah festival masakan lokal dua tahunan yang diselenggarakan di kota Turin, Italia sejak tahun 2004.

Terra Madre sendiri, merupakan jejaring komunitas makanan di dunia. Jejaring ini dibentuk oleh organisasi Slow Food untuk mewadahi para petani kecil, nelayan, peternak dan seniman kuliner untuk mempromosikan produksi makanan yang melindungi Masyarakat Adat dan lingkungan. Dalam jejaring ini ada para akademisi, praktisi gastronomi, konsumen hingga generasi muda yang secara rutin membahas upaya meningkatkan kualitas sistem makanan global.

    Muat Lainnya...