Banyak Anak Unggah Konten Kekerasan di Media Sosial, Ini Sebabnya - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Senin, 15 April 2019 | 19:00 WIB

Banyak Anak Unggah Konten Kekerasan di Media Sosial, Ini Sebabnya

Ilustrasi anak main gadget atau smartphone.
Photo :
  • Pexels

Ilustrasi anak main gadget atau smartphone.

VIVA – Fenomena kekerasan yang terjadi pada remaja di Pontianak beberapa waktu lalu menyisakan banyak pertanyaan di masyarakat. Salah satunya ialah mengapa anak-anak saat ini begitu mudah melakukan kekerasan.

Selain karena pola asuh yang kurang baik dan lingkungan masyarakat yang kerap memaklumi tindak kekerasan, menurut pegiat internet dari Information, Communication, and Technology (ICT) Watch, Asep Saripudin, internet dan media sosial juga berpengaruh dalam perilaku kekerasan anak.

Bahkan, ia menemukan bahwa anak seringkali mengunggah konten bermuatan kekerasan di media sosial. Ini ia temukan dari pemantauan sejumlah video di Youtube. Dalam satu minggu, ia bisa menemukan dan melaporkan ratusan konten bermuatan kekerasan yang diunggah di media sosial Youtube.

"Jadi temuan saya, anak banyak mengunggah konten negatif, seperti tawuran, bunuh diri, hanya untuk kebutuhan konten mereka. Dan kedua, ketika mengupload konten itu mengharapkan subscribers, follower," ungkap Asep dalam Forum Ngobras di kawasan Matraman Jakarta Pusat, Senin 15 April 2019.

Sementara itu, Dosen Sosiologi Universitas Indonesia, Daisy Indira Yasmine,  M.Si, berpendapat bahwa banyak anak yang melakukan hal itu karena banyak masyarakat yang mengganggap itu merupakan konten yang menarik. Ia mengatakan sesuatu yang berbeda dengan norma di masyarakat kerap dicari oleh banyak orang.

"Secara sosiologi, sesuatu yang berbeda dengan norma umum memang selalu menarik, seperti humor. Jadi semakin berlawanan semakin menarik. Seperti kekerasan semakin dilarang orang jadi semakin menarik ingin lihat," kata dia.

Ia menyarankan, selain pemerintah harus mengatur dengan lebih jelas dengan konten di media sosial, masyarakat juga harus turut serta mengurangi konten itu. Terlebih bagi para orang tua.

"Jadi kita enggak bisa hanya melarang. Kita juga harus menjelaskan kepada mereka kenapa ini tidak baik dan dilarang. Tidak hanya sekadar yes or no saja," kata Daisy.(nsa)

    Muat Lainnya...