Warga Kompak Nolak Relokasi dan Penutupan Pulau Komodo
Warga Kompak Nolak Relokasi dan Penutupan Pulau Komodo
https://asset.viva.co.id/appasset-2018/mobile-2018/img/logo-abc.jpg?v=8.7.12

Warga Kompak Nolak Relokasi dan Penutupan Pulau Komodo

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 08:35 WIB
https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/08/17/5d5757db8723f-warga-pulau-komodo-tolak-relokasi-dan-penutupan-taman-nasional_663_382.jpg
Photo :
  • abc

Aksi unjuk rasa warga menolak rencana penutupan TN Komodo selama setahun hari Senin (12/8/2019)

Polemik terkait rencana penutupan sementara daerah tujuan wisata Pulau Komodo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berlanjut.

Rencana Penutupan Pulau Komodo

Rencananya Pulau Komodo akan ditutup di tahun 2020. Beberapa warga di Kampung Komodo resah dan menolak dipindahkan Kementerian Lingkungan Hidup masih menunggu kajian menyeluruh.

Penolakan warga atas rencana itu semakin menguat dengan tersiarnya kabar penduduk di Pulau Komodo juga akan turut direlokasi ke daerah lain demi memuluskan program revitalisasi kawasan tersebut.

Sejak dua bulan terakhir, warga di Kampung Komodo, sebuah wilayah pemukiman yang terdapat di Pulau Komodo, satu dari 4 pulau yang berada di kawasan Taman Nasional Komodo mengaku resah mendengar kabar mereka akan direlokasi ke daerah lain.

Wacana relokasi ini terkait dengan program penataan ulang atau revitalisasi kawasan Taman Nasional Komodo yang akan dijadikan kawasan pariwisata unggulan baru.

Selain menata kawasan konservasi yang menjadi habitat satwa komodo, program revitalisasi ini juga mewacanakan relokasi warga yang bermukim di sekitar kawasan konservasi itu dan penutupan Pulau Komodo selama satu tahun mulai 2020 mendatang.

Haji Salam, 43 tahun, salah satu warga di Kampung Komodo, mengatakan seluruh warga di kampungnya menolak keras rencana relokasi itu.

"Kabar ini sudah sangat meresahkan, warga jadi tidak tenang menjalani aktivitas mereka karena takut dipindahkan."

"Warga tidak terima apalagi selama ini, gubernur tidak pernah berdialog atau sosialisasi dengan kita. Seratus persen warga di kampung Komodo menolak direlokasi," katanya.

Salam mengatakan tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menggusur mereka dari tanah leluhur yang sudah mereka huni secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu.

Karenanya warga Kampung Komodo mengaku sangat geram ketika otoritas NTT menyebut mereka tidak berhak atas kawasan itu dan dianggap penduduk liar.

"Tidak benar itu, kami dan leluhur kami sudah tinggal disini selama ratusan tahun, Wallohu alam sejak kapan, kami selama ini juga bayar pajak dan punya KTP resmi Manggarai Barat."

"Secara ulayat, taman Nasional Komodo adalah tanah ulayat kami. Ada kuburan nenek moyang kami yang sudah ratusan tahun, itu bukti kami bukan pendatang."

"Termasuk lokasi wisata Loh liang, itu sebenarnya juga tanah rakyat yang diambil paksa, tapi warga relakan karena untuk konservasi," tegas Salam.

"Masalah dengan komodo juga tidak ada, kami saling menjaga karena warga kami percaya legenda komodo adalah saudara kami."

"Kalau kami jahat, pasti itu satwa sudah punah, atau kami sudah ada yang dimangsa, tapi tidak pernah kan," paparnya ketika dihubungi wartawan ABC Indonesia Iffah Nur Arifah.

Haji Salam, warga dan pemilik homestay mengaku dahulu wisatawan yang datang jauh berkurang. Haji Salam, warga dan pemilik homestay mengaku dahulu wisatawan yang datang jauh berkurang.

Foto: Istimewa

Saksikan Juga

Wakil Bupati Hilang, Kasus Rachmawati & Pulau Komodo Ditutup

BERITA - sekitar 1 tahun lalu
loading...