Gedung 'Hantu Besar' Itu Kini Jadi Mal Pelayanan Publik

Gedung 'Hantu Besar' Itu Kini Jadi Mal Pelayanan Publik

Jumat, 6 Oktober 2017 | 18:08 WIB
Gedung itu adalah pusat perbelanjaan terbesar di Hindia Belanda.
Suasana gedung tua yang kini dijadikan Mal Pelayanan Publik di Surabaya.
Photo :
  • VIVA.co.id/Nur Faishal

Suasana gedung tua yang kini dijadikan Mal Pelayanan Publik di Surabaya.

VIVA.co.id - Gedung tua itu berdiri di sudut jumpa Jalan Tunjungan-Gentengkali Surabaya, Jawa Timur. Sejak awal berdiri pada 1877, gedung berarsitektur Eropa itu adalah pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia. Sempat mangkrak dan jadi gedung hantu, gedung itu kini disulap jadi mal pelayanan publik.

Gedung itu mafhum dikenal publik Jawa Timur dengan sebutan Siola. Dalam sejumlah catatan dijelaskan, gedung berkubah satu itu dibangun oleh pemodal asal Inggris, Robert Laidlaw, pada 1877. Laidlaw lantas menamai gedung itu Waitaway Laidlaw & Co dan menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Hindia Belanda.

Di bagian depan gedung, Laidlaw menuliskan besar-besar tulisan Het Engelsche Warenhuis, toko serba ada Inggris. Sejak itu, Jalan Tunjungan kian terkenal sebagai pusat perdagangan di Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang, gedung itu diambil alih dan berganti nama jadi Chiyoda.

Chiyoda tutup saat revolusi pecah pada 1945. Pejuang Republik Indonesia menjadikan gedung itu sebagai tempat merancang strategi perang melawan Belanda dan sekutunya. Sempat porak-poranda karena perang, pada 1960-an gedung itu lalu dikelola pihak swasta dan dijadikan pusat perbelanjaan atau mal bernama Siola.

Pada 1990-an, pamor Siola meredup, kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan lain, seperti Tunjungan Plaza. Siola tutup lalu pengelolaanya diambil oleh Ramayana Departement Store dan berganti nama jadi Tunjungan City. Pada 2015, Pemkot Surabaya mengambil alih lalu dijadikan sebagai museum.