Gurihnya Bisnis Kue Lebaran - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Sabtu, 25 Mei 2019 | 07:03 WIB

Gurihnya Bisnis Kue Lebaran

Tak hanya didominasi brand besar, namun juga industri rumahan
Ilustrasi kue kering
Photo :
  • Pixabay/ali_cruse

Ilustrasi kue kering

VIVA – Menyajikan kue kering saat Lebaran sudah menjadi tradisi di Indonesia sejak lama. Kue kering jadi suguhan untuk menyambut tamu yang bersilaturahmi di hari raya.

Survei terbaru yang dilakukan Snapcart, lembaga riset yang berbasis aplikasi menyebutkan, makanan dan minuman masih jadi salah satu target alokasi dana Tunjangan Hari Raya (THR) masyarakat Indonesia. Survei tersebut dilakukan pada 16 hingga 23 April 2019 dengan 1.000 responden di Indonesia yang terdiri atas 56,7 persen wanita dan 43,3 persen laki-laki.

Survei rencana penggunaan THR 2019 itu mengungkap, 60 persen masyarakat Indonesia mengalokasikan dana THR mereka untuk belanja. Meski barang yang ingin dibeli didominasi pakaian dan aksesori sebanyak 67 persen, di peringkat ketiga, ada makanan dan minuman sebanyak 35 persen. Hanya tiga persen di bawah kosmetik 38 persen.

Sejumlah brand kue kering ternama kerap jadi primadona sebagai sajian kue Lebaran. Sebut saja ada Ina Cookies dan JnC yang paling terkenal di semua kalangan. Agen hingga reseller kue dari merek-merek ini tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Namun tak hanya kue bermerek terkenal saja yang diburu, musim Lebaran juga kerap jadi ladang subur bagi para pebisnis kue rumahan. Omsetnya cukup menggiurkan, meski hanya keluar musiman. Bagaimana gurihnya bisnis kue kering ini jelang Lebaran?

JnC

Berdiri sejak 1996, JnC populer dengan kue keringnya, terutama saat Hari Raya tiba. Varian klasik, seperti nastar, kastengel, dan putri salju selalu jadi favorit para pelanggan merek kue kering ini setiap tahunnya.

Berbasis di Bandung, JnC sudah memasarkan produknya ke berbagai wilayah di Indonesia. Bukan hanya lewat toko fisik, JnC kerap hadir di pop-up store di berbagai pusat perbelanjaan, dan dijajakan lewat distributor, agen, dan reseller.  

Permintaan produk-produk JnC ini selalu meningkat tiap tahunnya. Jodi Janitra, pemilik JnC Cookies mengatakan, produksi kuenya naik hampir 30 persen dibanding tahun lalu.

"Kalau jumlah stoplesnya sih memang kita mix ya, ada yang kecil dan besar. Tapi tahun ini angkanya kurang lebih hampir di 1 jutaan. Setiap tahun angkanya selalu naik," kata Jodi Janitra saat dihubungi VIVA, Selasa, 21 Mei 2019.

Kue-kue JnC sudah masuk produksi sekitar 6 bulan sebelum Lebaran tiba. Pada musim Lebaran 6 bulan itu, omsetnya bisa mencapai 75 hingga 80 persen penjualan setahun.

"Kita anggap musim Lebaran itu 6 bulan ya, jadi persiapan kita tuh kalau untuk Lebaran nanti Juni, kita sudah start produksi dari awal Januari. Nah selama 6 bulan ini kurang lebih dia bisa sekitar 75-80 persen sales setahun di enam bulan ini," ujarnya menambahkan.

Jodi enggan mengungkap angkanya, namun tak menampik jika setiap tahun selalu ada kenaikan. Tahun ini, omset JnC bahkan jadi yang tertinggi. 

"Kita ada beberapa cara penjualan. Ada retail, distributor, sama agen. kalau distributor sama retail kita sudah naik duluan. Nah kalau agen ini agak melambat sampai setelah Pilpres, tapi setelah Pilpres, sudah naik lagi," serunya.

Bukan hanya saat Hari Raya Labaran. Toko kue ini juga memasarkan produknya pada hari besar lain, seperti Natal dan Imlek. Mereka juga tetap menjual kue kering di hari biasa, meski penjualannya tidak tinggi. Untuk menambah pemasukan, JnC juga punya restoran, penginapan, dan sebagainya.

"Kita juga mulai coba pas Imlek. Imlek kan ramainya di Singapura nah kita sudah muali ekspor ke Singapura dari tahun 2004. Setahun kita bisa ekspor 8 kali kirim ke sana. Kita ambil Singapura karena dia Imlek sama Natal yang kenceng," dia menambahkan.

Ina Cookies

Merek kue kering Ina Cookies salah satu yang paling favorit di Indonesia dan sudah ada sejak tahun 1994. Dibesut oleh Ina Wiyandini, pabrik kue yang berlokasi di Bandung ini sudah memasarkan kuenya ke seluruh wilayah Indonesia, bahkan keluar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Arab Saudi, bahkan Afrika Selatan.

"Waktu tahun 2011 Mekkah, Jedah itu sempat ajak bekerja sama  dengan Ina Cookies supaya bisa buka pabrik di sana," tutur Ina Wiyandini, pemilik Ina Cookies, saat dihubungi VIVA, Rabu, 22 Mei 2019.

Meski Ina tak mengungkap omset pastinya, namun dia mengatakan, setiap tahun selalu ada peningkatan pendapatan sekitar 10 hingga 15 persen. Ina Cookies sendiri juga hanya produksi selama empat bulan dalam setahun dengan jumlah karyawan yang mencapai 800 orang.

"Setiap tahun Alhamdulillah naik terus, dari pembuatan selalu habis terus. Jadi enggak pernah ada yang sisa Alhamdulillah," katanya menambahkan.

Ina Cookies masih ada pada Hari Raya lainnya, pun juga saat bulan biasa. Namun Ina menyebut, produksinya jauh lebih sedikit daripada saat Lebaran. "Kalau yang 4 bulan ini hampir 100 persen pemesan. Kalau hari biasa cuma 10 persen. Jauh banget deh," ujarnya.

Untuk menyambung kelangsungan brand, Ina mengaku menjalani sejumlah bisnis lainnya, seperti membuka kafe di kawasan Bandung. Ketika bukan musim Lebaran, karyawannya bisa membantu di kafe tersebut.

Ina Cookies saat ini sudah punya 135 jenis kue. Untuk menjaga loyalitas konsumennya, Ina kerap membuat varian baru dan inovasi setiap tahun, seperti kali ini ada Putri Ice Cream, terbuat dari es krim, yang kerap ludes dengan cepat. Sementara itu, Nastar dan Kastengel masih jadi primadona setiap tahunnya.

"Kue Putri Ice Cream baru Ramadan tahun ini (diluncurkan). Baru sebulan ini dan sudah ludes. Tiap bikin pasti sudah ada yang pesen. Setiap hari  juga bikin, tapi sudah ada yang pesen."

Homemade

Kue kering tokoh kartun.

Bisnis kue kering rumahan juga tak kalah menggiurkan. Meski omsetnya tidak sebesar kue-kue yang sudah punya 'nama,' namun ada keseruan dan keuntungan tersendiri menjalani bisnis ini.

Seperti bisnis kue milik Sutri Mulyani ini. Memulai sejak 2016, kue kering wanita yang akrab disapa Ani itu cukup baik perkembangannya. Baru tengah Ramadan, tahun ini, Ani sudah menerima hampir 400 stoples kue kering. 

"Paling banyak saya menjual 1.300 stoples," katanya kepada VIVA melalui WhatsApp, Selasa, 21 Mei 2019.

Nastar dan sagu keju jadi andalan Ani. Selain itu, ada juga kastengel, putri salju, kue kacang, dan beberapa varian yang dibuatnya berganti-ganti setiap tahun. Dengan harga satu stoples sekitar Rp70 ribu hingga Rp90 ribuan dan memasarkan produknya di sekitar Jakarta, Tangerang, dan Belasi, sudah dua kali Lebaran ini, omsetnya cukup baik. 

"Tahun 1 omset 60 juta, tahun 2  omset 40 juta. Tahun ini belum ketahuan mbak. Aku hitung angka itu dari harga reseller," ujarnya menerangkan.

Selain Lebaran, sepanjang tahun, kecuali Ramadan, Ani memproduksi roti manis yang dibuat sesuai pesanan saja. Sejauh ini, Ani sudah mendistribusikan rotinya ke tiga pesantren.

Walnut Ginger Chocolate Cookies

Mona Indriani punya cerita serupa. Meski masih usaha kecil-kecilan, bisnis kue kering Lebaran Mona cukup lancar hingga kini masuk tahun keempat. Sehari-hari berbisnis rice box dan frozen food, momentum Idul Fitri jadi peluang bisnis lain baginya.

Pemesanan kue kering Mona, terutama yang klasik seperti nastar, sagu keju, dan kastengel, naik setiap tahun. Kali ini, pesanannya sampai tiga lusinan dengan harga jual sekitar Rp40 ribu sampai Rp95 ribuan. Dari kue kering saja, Mona bisa meraup keuntungan sekitar Rp5 jutaan.

"Untuk tahun ini Alhamdulillah meningkat dan udah ada yang pesan dari Hong Kong," kata Mona kepada VIVA.

Tips Bisnis Kue Lebaran

Momentum Idul Fitri memang hanya datang satu kali dalam setahun. Meski begitu, bisnis ini kerap diburu, bahkan untuk para pedagang musiman. Beberapa tips yang dibagikan JnC dan Ina Cookies ini bisa jadi acuan bagi Anda yang ingin berbisnis kue kering.

Saksikan Juga

Kabut Asap Lumpuhkan Bandara di Kalimantan

TVONE NEWS - 5 jam lalu
loading...
Muat Lainnya...