Kotak Kaca Penyambung Nyawa – VIVA
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Sabtu, 3 Februari 2018 | 14:04 WIB
  • Kotak Kaca Penyambung Nyawa

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Adinda Permatasari,
    • Diza Liane Sahputri,
    • Rifki Arsilan,
    • Aji YK Putra (Palembang),
    • Dwi Royanto (Semarang),
    • Nur Faishal (Surabaya),
Inkubator Rumahan Gratis ala Prof. Raldi
Photo :
  • VIVA/Muhamad Solihin
Inkubator Rumahan Gratis ala Prof. Raldi

VIVA – Rangkaian rak besi itu nyaris memenuhi ruang berukuran 2x3 meter. Di atasnya, tersusun banyak benda. Mulai dari lampu, timbangan bayi, perkakas kecil, hingga kotak kaca.

Bahkan saking banyaknya, ada rak yang hampir menyentuh langit-langit. Kesan sesak pun langsung menelusup. Namun karena semuanya terpendar cahaya, jadi membuat ruang sempit ini tetap terasa lega.

"Jadi selama ini kami merakit ya di sini saja. Paling dibantu oleh dua orang staf saya ini," ujar Raldi sembari menyusun rangkaian kabel ke dalam sebuah kotak bening yang terbuat dari akrilik itu.

Raldi Artono Koestoer, demikian nama lengkap pria berusia 63 tahun ini dikenal. Ia adalah pemilik gelar profesor, yang mahfum dikenal sebagai si pembuat kotak kaca penyelamat ribuan bayi.

Ya, lewat karyanya yang lahir di ruang sempit itu, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia inilah yang kini menjadi penyambung hidup bagi bayi-bayi dari keluarga miskin.

Berawal dari Barang Bekas

"Lo ngerti nggak benerinnya," demikian kata itu meluncur dari mulut kakak Raldi. 

Ketika itu diingatnya terjadi pada 1989, saat sang kakak membawa ke rumah sebuah inkubator rusak.

Saat itu, Raldi mengaku menyanggupi permintaan kakaknya. Namun, tak segera mengerjakannya. Bahkan ia menundanya sampai tahunan.

"Baru di tahun 1994, saya memikirkan pernyataan kakak saya. Karena merasa tertantang dan itu terus-terusan ada di pikiran saya," ujar Raldi kepada VIVA, Selasa, 30 Januari 2018, mengenang awal mulanya ia membuat inkubator bayi.

Raldi memang memahami teknologi dari inkubator atau kotak kaca untuk penghangat bayi prematur. Namun, memang apa yang dipikirkannya tak semudah membalik telapak tangan.

Untuk memperbaiki sebuah inkubator rusak butuh duit banyak. Rencananya pun sempat terhambat, lantaran alat-alat itu hanya tersedia di Inggris, Amerika Serikat, atau Jepang.

Namun beruntung, dalam proses itu muncul kelembagaan antarnegara yang dikenal dengan sebutan New Industrial Country (NIC). Negara yang terdiri atas Korea, Taiwan, dan juga Hong Kong itu membuat semacam persatuan untuk memproduksi banyak barang elektronik.

"Kami cobalah bahan-bahan dari NIC, kami tes dan ternyata hasilnya bagus. Plus minus 1 derajat celsius dan itu tidak jadi masalah kan," ujarnya.

Lihat Juga

Dari situ lah Raldi pun semakin termotivasi. Idenya memperbaiki inkubator berubah menjadi ingin membuat, tentunya dengan harga murah dan kualitas baik.

Setidaknya, hampir tujuh tahun berproses, barulah kemudian sebuah inkubator siap pakai pun berhasil dirakit Raldi pada 2001. Olehnya, purwarupa inkubator itu pun dimasukkan dalam proyek Bank Dunia, Advanced Technology Innovation.

Lewat itu, sejumlah inkubator rakitan Raldi pun dipergunakan sejumlah rumah sakit. "Sisa uang dari proyek itulah kemudian kami buatkan inkubator lagi. Waktu itu dua inkubator besar. Ini yang kami pinjamkan ke masyarakat," ujarnya.

Dan sebagai pengguna pertama inkubator rakitan Raldi adalah teman sekolahnya yang cucunya lahir prematur. Cerita sukses itu pun berkembang, dan membuat inkubator besar itu pun banyak digunakan yang lain.

Namun, dalam perjalanannya, inkubator besar itu rupanya memiliki kendala. Mengangkat kotak kaca ukuran besar itu bukan perkara mudah untuk yang akses jalannya jelek.

Selain itu, daya listrik yang tak semuanya mumpuni di kalangan masyarakat ikut menjadi masalah. "Dari situ jadilah kemudian ide untuk membuat inkubator portable, yang kecil, biar bisa leluasa. Diangkutnya gampang, dan tak banyak memakan listrik," ujar Raldi.

Sejak itu, pengguna inkubator gratis milik Raldi pun meluas. Para keluarga miskin yang tak mampu membayar sehari Rp2,5 juta untuk sewa inkubator di rumah sakit sekitaran Jabodetabek, betul-betul terbantu.

Apalagi, yang namanya inkubator untuk bayi prematur bukan barang sebentar digunakan. "Biasanya bayi prematur itu membutuhkan (inkubator) sampai satu bulan. Nah di kami, kami pinjamkan gratis," ujarnya.

Inkubator Rumahan Gratis ala Prof. Raldi

Profesor Raldi Artono Koestoer sedang mengecek inkubator buatannya di kantornya di Universitas Indonesia, Depok, Selasa 30 Januari 2018  (VIVA/Solikhin)

Siap Ditiru