Ancaman di Jalur Maut – VIVA
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Sabtu, 9 Juni 2018 | 08:16 WIB
  • Ancaman di Jalur Maut

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Reza Fajri,
    • Fikri Halim,
    • Bayu Nugraha,
    • Dwi Royanto (Semarang),
    • Adi Suparman (Bandung),
Sorot Jalur Mudik - Arus lalu lintas di pintu keluar tol Brebes Timur (Brexit)
Photo :
  • ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Sorot Jalur Mudik - Arus lalu lintas di pintu keluar tol Brebes Timur (Brexit)

VIVA – Mudik menjadi keharusan bagi sebagian warga Jakarta dan kota besar lain di Indonesia menjelang Lebaran. Tidak afdol jika tidak menjejakkan kaki di kampung halaman saat Lebaran. Macet dan jauhnya perjalanan tak jadi penghalang. Yang penting hati senang.

Namun mudik tak hanya menebar kebahagiaan, duka kerap kali menyelip. Sejumlah kecelakaan, terutama di jalur-jalur tengkorak, tidak sedikit memakan korban jiwa.

Data 2017, sepanjang mudik Lebaran, ribuan kecelakaan terjadi. Dari 2.441 kasus, 586 jiwa melayang.  Terbanyak tabrakan antarsepeda motor. Angka ini memang termasuk kecil dibandingkan data 2016 yang mencapai 3.638 kasus. Meski begitu, maut masih mengancam jika pengendara tidak waspada. Utamanya di sepanjang selatan dan utara Pulau Jawa, seperti jalan sejauh 116 kilometer di tol Cipali dan Cipularang.

Kontur jalan yang lurus dan tak banyak gelombang membuat pengendara yang akan melewati jalur ini perlu meningkatkan konsentrasi dalam mengemudi jika tidak ingin terlelap.

"Untuk antisipasi, menjelang operasi ketupat Lodaya 2018, kami memiliki titik rawan kecelakaan, yaitu KM 90/100 tol Cipularang. Karena klasifikasi tol memiliki variasi tanjakan dan belokan. Maka berdasarkan survei, itu adalah jalur rawan kecelakaan," kata Kasatlantas Polres Purwakarta, AKP Rizky Adi Saputro kepada VIVA.

Sorot Jalur Mudik -  Kecelakan beruntun di Tol Cipularang KM 91 arah Bandung

Kecelakaan beruntun di Tol Cipularang

Dalam dua tahun terakhir, kurun 2016-2017, jumlah kendaraan yang mengalami kecelakaan di jalur tersebut terus meningkat. Hal itu, didominasi kendaraan pribadi dari arah Bandung akibat jalur yang lebih banyak turunan dan belokan tajam.

Sebelum kecelakaan, kata Rizky, pengemudi biasanya tanpa sadar memacu kendaraannya di atas 100 km per jam. Kemudian, lepas dari KM 97 tanpa kesiapan dan kelengahan ada tikungan tajam sehingga kendaraan sering terlempar.

"Memang jalanan itu turunan dan bervariasi dalam satu tempat, kalau kami lihat dari sarana dan prasarana sudah cukup baik, rambunya banyak, PJU sudah mencukupi. Jadi memang tinggal pengemudi mengelola emosi dan kemahiran dalam berkendara," ujarnya menambahkan.

Tak sampai di situ, Rizky pun menilai seringnya kecelakaan yang terjadi juga disebabkan tidak pahamnya pengendara terkait jarak aman berkendara. Terlebih bila mengemudikan kendaraan di jalan tol, maka jarak aman yang benar sekitar 50-100 meter dengan kecepatan maksimal 80-100 km per jam.