Jejak 'Indonesia' di Piala Dunia – VIVA
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Sabtu, 30 Juni 2018 | 09:12 WIB
  • Jejak 'Indonesia' di Piala Dunia

  • Oleh
    • Satria Permana,
    • Rahmad Noto (Surabaya)
Tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938
Photo :
  • Youtube/FIFA TV
Tim Hindia Belanda di Piala Dunia 1938

VIVA – "Bahwa tim yang punya hak untuk tampil di Piala Dunia 1938, adalah pemenang antara laga NIVU versus PSSI." Begitu perjanjian yang tertulis dalam Gentlement's Agreement yang diteken oleh kedua belah pihak pada 1937.

Hindia Belanda memang dapat durian runtuh. Jatah Asia seharusnya diberikan kepada Jepang. Namun, mereka ketika itu sedang berperang dengan China. Ketiadaan transportasi juga membuat Jepang kesulitan berangkat ke Prancis. Akhirnya, Jepang menyatakan diri tak bisa berpartisipasi di Piala Dunia 1938.

Slot Asia akhirnya kosong. Dan undangan jatuh kepada Hindia Belanda dan masuk melalui NIVU. Alhasil, Hindia Belanda jadi tiga negara di luar Eropa yang bersaing di Piala Dunia. Begitu laporan yang ada dalam Encyclopedia of World Cup (Tom Durnmore, 2015).

Di masa kolonial, organisasi sepakbola yang diakui bukanlah Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia alias PSSI. Melainkan, Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU).

NIVU merupakan otoritas sepakbola bentukan Pemerintah Hindia Belanda. Mereka yang mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda untuk menjalankan roda kegiatan sepakbola saat itu. Sementara PSSI yang lahir lebih dulu ketimbang NIVU, dibentuk oleh sekelompok pribumi, yang dipimpin oleh Ir Soeratin. PSSI dibentuk sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Meski kegiatan PSSI tak diakui, nyatanya tim yang mereka miliki lebih kuat ketimbang NIVU. Tim besutan PSSI mampu mengimbangi Nan Hwa (klub asal China), yang sebelumnya menghajar NIVU 4-0. Nan Hwa diimbangi oleh tim PSSI dengan skor 2-2. Pertandingan melawan Nan Hwa digelar pada Minggu 8 Agustus 1937. Koran Sin Tit Po mengabarkan, kedua tim memakai formasi yang sama, 2-6-2.

Tim PSSI saat itu sempat tertekan oleh eksplosivitas permainan Nan Hwa. Namun, mereka justru mampu unggul 2-1 jelang injury time. Namun, pada akhirnya tim PSSI kebobolan di menit-menit akhir. Dari laporan surat kabar tersebut, terlihat para pemain Nan Hwa terguncang saat tahu ditahan imbang oleh tim PSSI.

Lihat Juga

Hasil pertandingan ini membuat NIVU berniat untuk melanggar Gentlement's Agreement yang mereka buat dengan PSSI. NIVU takut kalah saing dengan tim bentukan PSSI untuk berangkat ke Piala Dunia 1938. Dan mereka melanggar perjanjian dengan mendaftar langsung ke FIFA.

Kabar ini sampai ke telinga PSSI. Mereka protes. Tapi, tetap saja tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, FIFA sudah berfatwa bahwa organisasi yang diakui adalah NIVU.

NIVU kemudian menyiapkan tim di bawah arahan Cristoffel van Mastenbroek. Seleksi dilakukan. Walau ada instruksi ke pemain lokal dari PSSI agar tak ikut seleksi, nyatanya banyak dari mereka yang mencoba peruntungan. Mastenbroek awalnya lebih memprioritaskan talenta Belanda ketimbang lokal. Namun, pada kenyataannya, kualitas pemain lokal jauh lebih baik dan membuat Mastenbroek menyertakan mereka.

Para pemain lokal yang masuk skuat merupakan mereka yang memiliki darah Jawa, Ambon, Tionghoa, Sumatera, dan Belanda. Tan Mo Heng, Tan Hong Djien, Isaak Pattiwael, Achmad Nawir, Frans Meeng, Sutan Anwar, adalah deretan nama lokal yang memperkuat tim Hindia Belanda kala itu.

“Memang, awalnya ada upaya dari Belanda untuk menghalangi para pemain asli Indonesia masuk ke skuat Timnas saat itu. Tapi, kualitas tak bisa dibohongi. Mereka punya kualitas yang bagus dan akhirnya lolos seleksi,” ujar anak Isaak Pattiwael, Yohannes Pattiwael kepada VIVA.