Mengejar Suara Perempuan di Pemilu – VIVA
Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Sabtu, 8 September 2018 | 08:46 WIB
  • Mengejar Suara Perempuan di Pemilu

  • Oleh
    • Ezra Natalyn,
    • Anwar Sadat,
    • Eduward Ambarita,
    • Bayu Nugraha,
    • Rifki Arsilan,
    • Fajar Ginanjar Mukti,
    • Irwandi Arsyad,
    • Eka Permadi
Ilustrasi hak pilih perempuan dalam pemilu
Photo :
  • ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Ilustrasi hak pilih perempuan dalam pemilu

VIVA – Riuh rendah terdengar suara ratusan perempuan menyerukan nama Jokowi dan Ma’ruf Amin. Dalam tampilannya, mereka senada menggunakan kaus bersablon gambar bakal calon presiden dan bakal calon wakil presiden tersebut, berkumpul dalam sebuah ruang acara beberapa waktu lalu. Di bagian depan gedung lokasi acara yang berada di  Kuningan Jakarta itu, tampak ditempeli baliho dan poster berbagai ukuran yang bertuliskan “Super Jokowi”.

Sebagian besar para perempuan yang kelihatannya sudah berusia matang itu tampak menggunakan kerudung. Warnanya putih, selaras dengan kaus dan atasan yang mereka pakai. Ternyata pada 23 Agustus 2018 tersebut sedang ada deklarasi Super Jokowi. Akronim ini berasal dari frase Suara Perempuan Jokowi yang dikoordinir aktivis perempuan Muslim NU, Ida Fauziyah.

Ida memang sudah cukup malang melintang di dunia politik. Selain sebagai anggota legislatif dari PKB, Ida juga cukup dikenal di kalangan perempuan NU. Terakhir, dia maju sebagai calon wakil gubernur Jawa Tengah berdampingan dengan Sudirman Said. Sayangnya, mereka belum beruntung.

Relawan Super Jokowi digagas Ida Fauziyah

Deklarasi Super Jokowi

Di acara deklarasi Super Jokowi, Ida mengatakan, komunitas ini dibentuk tak hanya demi kepentingan pemenangan. Namun juga untuk pemberdayaan perempuan baik kaum ibu maupun perempuan lajang. Super Jokowi, programnya akan berkesinambungan. Buktinya kata Ida, mereka sudah memiliki koordinator di 34 wilayah dan akan berlanjut pada cabang-cabang Super Jokowi di daerah kabupaten dan kota.

Sementara itu, di kubu sebelah, komunitas perempuan yang mengaku mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno melakukan hal yang hampir sama. Secara acak, mereka mendeklarasikan dukungan. Sebagian menggunakan nama Partai Emak-Emak, istilah yang sering disebut-sebut Sandi belakangan ini. Muncul pula nama Pamer Bodi yang merupakan singkatan dari Persatuan Emak-emak Prabowo-Sandi.

Di sejumlah video yang beredar, ditunjukkan komunitas perempuan ini merekam seruan mereka mendukung pasangan Capres-Cawapres tersebut. Dalam salah satu video misalnya, segerombolan perempuan yang menggunakan busana dominan warna merah dengan hijab menyebut diri sebagai bagian Pamer Bodi.

Sementara itu di tempat dan waktu berbeda, ada pula kumpulan para perempuan yang menggunakan busana seragam berwarna toska, bersama-sama mengucapkan dukungan.

Dengan video berlatar poster besar Prabowo-Sandi, diketahui salah satu perempuan di acara itu menjadi pembaca kata per kata dari kalimat dukungan yang lalu diikuti beramai-ramai oleh kelompoknya. Mereka menyebut diri deklarasi ustazah peduli negeri yang tampaknya memiliki kesamaan visi dengan Pamer Bodi.

Jelang Pemilu 2019, tepatnya setelah dipastikan dua paslon akan bertarung di pilpres tahun depan, sasaran dan target pemilih secara eksplisit disampaikan para tim sukses pasangan calon. Salah satunya ceruk suara perempuan yang tak bisa dinafikan jumlahnya hampir sama dengan jumlah pemilih lelaki di daftar pemilih tetap alias DPT.

Beberapa waktu belakangan, mencuat pula istilah emak-emak yang gencar dibawa-bawa oleh pasangan Prabowo-Sandi dan timnya sebagai salah satu kaum yang dianggap paling krusial untuk diperjuangkan dalam proses kontestasi politik.

"Karena emak-emak ini jantungnya keluarga. Emak-emak punya kekuatan untuk mempengaruhi yang ada di keluarga. Seperti suaminya, anaknya dan juga keluarga lainnya," kata Wasekjen Partai Gerindra, Andre Rosiade yang juga bagian Timses Prabowo-Sandi kepada VIVA baru-baru ini.

Andre mengatakan, pihaknya sedang dalam persiapan memilih juru bicara khusus perempuan. Selain itu tengah dirancang pula program konkret yang bakal ditawarkan kepada kaum perempuan yang sering mereka sebut sebagai emak-emak tersebut. Menurutnya, isu ekonomi menjadi sangat penting karena kaum perempuan sangat erat kaitannya dengan penghidupan keluarga.

Diketahui Komisi Pemilihan Umum mencatat hingga kini ada 185.732.093 pemilih tetap. Dari jumlah tersebut, pemilih perempuan sedikit lebih tinggi angkanya dibandingkan kaum Adam. Perempuan tercatat 92.929.422 pemilih, sementara pemilih lelaki 92.802.671 orang.

Wasekjen Gerindra itu melanjutkan, mereka optimistis setidaknya akan meraup lebih dari 50 persen suara perempuan dari jumlah pemilih terdaftar. Hal itu bisa dilakukan dengan pendekatan gencar terhadap kaum perempuan. Sayangnya Andre belum bisa merincikan program-program konkret yang akan disampaikan. Meski dia kembali mencuatkan program OK OCE yang disebut bisa diterapkan dalam level skala nasional.

Lihat Juga

Ditemui di tempat berbeda, Ketua Bidang Advokasi Perempuan Partai Gerindra yang juga bagian Timses Prabowo-Sandi, Rahayu Saraswati mengatakan, faktor psikologis perempuan yang cepat sadar dalam hal kondisi ekonomi riil menjadi pertimbangan paslonnya menyasar kaum perempuan. Senada dengan Andre, dia menyebutkan kaum perempuan khususnya ibu ibarat jantung keluarga.

"Prabowo sejak lama terus memperjuangkan keresahan emak-emak. Salah satu program yang bisa diterapkan adalah pembagian susu gratis kepada anak. Program itu diberi nama Revolusi Putih," kata Rahayu Saraswati yang kerap dipanggil Sara ini soal program mereka.

Kemenakan Prabowo itu melanjutkan, program itu sebenarnya sudah dilakukan kader Gerindra yang ada di sebagian daerah. Di DKI Jakarta kata dia, Sandiaga Uno juga sudah melakukannya.

 

Sandiaga Salahuddin Uno dikerubungi emak-emak

Sandiaga Uno dikerubutin emak emak

Timses Jokowi-Ma’ruf tak mau ketinggalan. Kubu ini juga menyadari betapa besar potensi suara kaum perempuan untuk mengerek perolehan suara di pilpres nanti. Namun Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin dan Anggota Dewan Syuro PKB, Maman Imanulhaq mengatakan, timnya tak akan menyempitkan pada istilah emak-emak saja. Mereka akan cenderung menggunakan terminologi kaum ibu dan kaum perempuan lantaran DPT mencerminkan keseluruhan kaum wanita baik usia tua, muda, ibu maupun wanita lajang dewasa hingga kaum milenial.

"Super Jokowi sendiri sebenarnya lintas partai itu menarik sekali karena Super Jokowi memperlihatkan hal berbeda dengan kelompok sebelah yang memakai istilah emak-emak. Kita ingin menempatkan perempuan sebagai subjek dari pembangunan. Mereka yang mempunyai kehidupan, kepentingan dan yang tahu persis tahu persoalan," kata Maman kepada VIVA beberapa waktu yang lalu.

Kaum perempuan dan kaum muda, menurut dia, sangat strategis dimenangkan hatinya. Khusus kaum ibu dan perempuan yang ditawarkan adalah penguatan UMKM dan industri-industri kreatif yang bisa dijadikan mata pencaharian sekaligus penggerak roda ekonomi. Artinya, mereka menempatkan perempuan sebagai subjek pelaku pembangunan meski tingkatannya kecil dan menengah.

"Jadi kami lebih mengabarkan tentang optimisme bahwa perempuan tidak gampang mengeluh, menyalahkan orang. Perempuan itu justru yang paling kuat bertahan dengan caranya," kata Politikus PKB ini.

Dia menambahkan, jika rival mereka menggunakan istilah “the power of emak-emak” maka kubu Jokowi-Ma’ruf akan menyebut “the power of ibu-ibu”.

Menanggapi pemilih kaum perempuan yang tengah disasar dua kubu, KPU membenarkan soal angka DPT pemilih perempuan dan lelaki yang memang tak terlalu besar selisihnya. Sementara untuk angka partisipasi para perempuan mendatangi bilik-bilik suara juga patut jadi perhatian. "Saya enggak hafal. Partisipasi kemarin bisa mencapai 74 persen. Cuma saya enggak tahu berapa banyak perempuan berapa banyak laki-laki," kata Ketua KPU, Arief Budiman.

Namun dia mengatakan, sekalipun perempuan menjadi salah satu kalangan yang tengah hangat menjadi target, namun angka partisipasi para pria juga tak boleh dinafikan. Bahkan menurut Arief angka partisipasi ke TPS dari dua kaum ini hampir sama. "Kayaknya sama," katanya.

Subjektif dan Militan