Download Our Application
A Group Member of VIVA
img-thumb

viva.co.id

  • Senin, 9 April 2018 | 06:53 WIB
  • Seperti Bola, Ada Gaji dan Transfer Pemain Game Online

  • Oleh
    • Siti Sarifah Alia
Ketua Umum IeSPA, Eddy Lim
Photo :
  • Google photos
Ketua Umum IeSPA, Eddy Lim

VIVA – Tidak dipungkiri lagi jika ternyata pasar game di Indonesia memang bergairah. Tren-nya terus tumbuh, bahkan hadiah kompetisi semakin tahun semakin besar. Dari yang awalnya hanya Rp2-3 juta untuk juara kompetisi, saat ini meningkat menjadi ratusan juta bahkan hampir satu milar rupiah.

Menurut data Acer, e-sport di Asia Tenggara diperkirakan melonjak 36,1 persen sampai 2019. Angka ini berada di atas Amerika Latin dengan estimasi kenaikan 24,7 persen. Total yang terlibat dalam e-sport mencapai 385 juta jiwa di tahun 2017, baik peserta maupun penonton. Asia Pasifik diprediksi menyumbang porsi paling banyak, yaitu 51 persen penggemar e-sport.

Sorot Games - gamers - developer games - permainan

Tidak heran jika kompetisi game mulai disahkan untuk jadi kompetisi olah raga di event nasional maupun internasional, mulai dari Asian Games sampai Olimpiade. Game komputer pun sudah dikenal sebagai bagian dari olahraga dengan nama e-sport. Di sinilah dibutuhkan wadah untuk memajukan prestasi atlet-atlet e-sport Indonesia, yang semakin menjamur.

Lihat juga

Bermula dari Asosiasi Liga Game Indonesia yang saat ini memiliki komunitas berjumlah 330.000 orang, Eddy Lim ingin membuat gamers di Indonesia bisa berprestasi dan bermain game bisa menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Termasuk juga menjadikan game sebagai eSport yang bisa dimainkan di skala regional dan internasional. Menyusul kemudian beliau membentuk wadah bernama IeSPA, singkatan dari Indonesia e-Sport Association, dan bertindak sebagai Ketua Umum di organisasi tersebut.

IeSPA sendiri dibentuk sejak 2014 dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan semangat kompetisi masyarakat melalui e-sport. Selain menjadikan Indonesia sebagai masyarakat yang berprestasi di e-sport, IeSPA juga ingin menyebarluaskan e-Sport ke seluruh pelosok tanah air.

Sorot Games - gamers - developer games - permainan

Mau tahu, bagaimana sih perkembangan game sebenarnya di Indonesia dan bagaimana masa depan seorang gamers ke depannya? Berikut ini wawancara Viva.co.id dengan Eddy Lim, beberapa waktu lalu di kawasan Jakarta.

Kabarnya e-sport akan dilombakan di Asian Games?
Itu baru sekedar eksibisi pertama, belum sampai medali. Syarat sebuah olahraga bisa mendapat medali dalam sebuah multievent seperti Asian Games atau olimpiade, adalah harus menyelenggarakan eksibisi satu atau dua kali.

Berarti tahun ini belum medali?
Tahun ini pertama kali eksibisi e-sport di Asian Games. Beruntungnya, e-sport diharuskan sekali eksibisi saja. Jadi nanti di Asian Games berikutnya, tahun 2022 di Hang Zhou, langsung medali.

Nasib e-sport di olimpiade?
Di olimpiade 2020 kemungkinan baru akan eksibisi e-sport. Eksibisi kemungkinan satu kali, lalu di 2024 langsung medali. Itu info yang saya dapat.

Memang harus masuk ke olimpiade atau Asian Games?
Memang di seluruh dunia, esport dianggap sebagai olahraga namun selama belum masuk ke multievent (seperti asian games atau olimpiade) banyak yang menganggap belum sah sebagai olahraga. Makanya harus disahkan melalui pertandingan di multievent seperti itu.

Tapi kan e-sport tidak mengeluarkan keringat?
Waktu orang bicara olahraga, semua mengacu pada otot besar seperti sepakbola, basket dan lainnya. Padahal banyak olahraga otot kecil. Dilihat dari reaksinya, konsentrasinya. Contoh menembak, memanah, catur pun butuh reaksi dan konsentrasi, tak mengeluarkan keringat.

Apa yang menjadi syarat games online bisa menjadi olahraga? 
Kita sudah masuk syarat untuk dikategorikan sebagai olahraga. Kita punya tim, kita juga bergerak aktif dan butuh konsentrasi untuk bisa memenangkan suatu hal. Tahu ga sih, rata-rata gamers yang jago melaksanakan 300 perintah setiap menit atau sekitar 5 perintah per detik. e-Sport itu kegiatannya lebih banyak ketimbang menembak atau memanah.

Game apa saja yang sering dipertandingkan?
Di internasional sudah pasti DoTA, Counter Strike, dan League of Legend. Selain itu ada juga game-game lain yang dimainkan walau tak banyak peminatnya seperti Taken, FIFA, juga Point Blank.

Mobile games tak bisa masuk e-sport?
Mobile Games belum bisa dikompetisikan internasional atau esport karena durasi 'hidup' sebuah game mobile tidak lama. Tahu ga kalau Counter Strik itu muncul tahun berapa? Dari 2002 saya bikin event, Counter Strike sudah ada. Itu 16 tahun lalu, loh. Terus ada juga DoTAdari 2004 sampai hari ini masih ada. League of Legend juga udah sejak 8 tahun lalu.

Nah, mobile game tahun lalu yang dikenal apa? Clash of Clan. Sekarang masih ramai ga? Tahun ini malah Mobile Legend. Sampai kapan Mobile Legend bisa bertahan terus ramai dimainkan seperti sekarang? Untuk bisa jadi e-sport, umur sebuah game itu harus panjang.

Berapa sih nilai pasar e-sport?
Saya sendiri sebenarnya ga punya data itu. Ada juga dari dari luar tapi kan rata-rata perkiraan. Yang jelas, Indonesia itu nomor 4 untuk pasar game paling besar di dunia. Sedangkan di Asean, Indonesia masih di bawah Filipina dan Malaysia.

Kok bisa Indonesia kalah dari Malaysia?
Ya, karena mereka mainnya serius. Indonesia kan karakter orangnya seperti itu. Semua mau jadi gamers tapi ga serius, hanya sekedar mau. Padahal Eropa, China dan Korea sudah cukup bagus industri game-nya.

Korea?
Iya, Korea sudah mature pasar game-nya. Ini semua balik ke karakter orang-orangnya sih. Tahu sendiri kan warga Korea kayak gimana kalau bekerja.

Ada data ga sih, soal penghasilan gamers?
Dulu gamers berawal dari warnet. Lama kelamaan mereka membentuk tim. Penghasilan mereka rata-rata dari hadiah kejuaraan. Sekitar 2,5 tahun lalu, rata-rata hadiah kompetisi game berkisar Rp6 juta untuk juara. Itu udah gede dulu. Sekarang hadiahnya bisa sampai ratusan juta, bahkan miliaran. Sekarang kalau kompetisi game hanya berhadiah 20-30 juta, pemain pro-nya pasti ga ada yang mau ikut.

Hanya dari hadiah kejuaraan?
Ada juga sih beberapa yang digaji. Kisarannya bisa 5-10 juta per bulan untuk satu tim dengan pemain profesional. Seperti yang saya bilang, e-sport ini mirip olahraga bola. Bahkan ada transfer pemain segala.

Siapa yang ditransfer?
Ada satu gamers Indonesia yang ditransfer dari satu tim ke tim yang lain, tapi saya belum tahu apa itu benar atau tidak. Kabarnya, nilai transfernya Rp400 juta.

Berarti ada data dong, siapa gamers lokal yang paling kaya?
Engga ada data pastinya. Kalau kaya dari main game saya belum ada datanya. Tapi kalau dia kaya sebelum main game, banyak.

Ga berminat bentuk tim e-sport, pak?
e-Sport itu bukan cuma soal tim tapi semua lingkup manajerial, sama seperti bola. Harus ada yang urus merchandise, stadion, agensi. Rata-rata gamers di Asean digaji USD4.000 sampai USD5.000 per orang. Itu yang pro, tier 1. Indonesia masih kategori tier 2.

Butuh berapa tahun biar Indonesia bisa mature? 
Susah mengejar Korea kalau karakter kita masih seperti itu (tidak serius). Dikasih modal yang sama, kesempatan yang sama, tinggal mana yang lebih serius.

Berapa idealnya waktu bermain game?
Intinya tak harus seharian. Yang salah di masyarakat tuh main game harus terus-terusan, padahal tidak. Satu atau dua jam sehari juga cukup karena yang dilatih otaknya. Tambahannya, ya olahraga seperti biasa.

Gimana biar jadi gamers sukses/profesional?
Pertama, niat harus bener, harus kuat. Lalu ini kan permainan otak, oksigen penting. Main game tak harus seharian. Ada juga latihan fisiknya, olah tubuhnya. Makanan juga harus dijaga, harus lebih banyak protein karena untuk otak. Terakhir, pelajaran logikanya harus bagus, nilai eksak-nya harus bagus.

Terpopuler