Kartel Bisa Mengatur Harga dan Regulasi – VIVA

viva.co.id

Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva

viva.co.id

Senin, 30 Juli 2018 | 06:07 WIB

Kartel Bisa Mengatur Harga dan Regulasi

img_title
Photo :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Dirut PT Berdikari Eko Taufik Wibowo.

VIVA –  Akhir 2016, Eko Taufik Wibowo ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Berdikari (Persero). Saat ditunjuk memimpin Berdikari, kondisi perusahaan tersebut tengah terseok. Perusahaan didera utang dan kasus korupsi yang melibatkan sejumlah petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini.

Pria kelahiran Medan, Januari 1966 ini mendapat tugas berat mengelola BUMN yang bergerak di bidang peternakan dan pangan tersebut. Masuknya Eko ke Berdikari dianggap akan membawa darah segar dan energi yang positif ke perusahaan tersebut. Pasalnya, mantan Vice President Change Management Officer Bank Mandiri ini dinilai mampu mengurai benang kusut masalah keuangan di perusahaan. 

Mantan Kepala Divisi Strategi Bisnis Perum Pegadaian ini menceritakan apa saja yang sudah dilakukan guna membenahi PT Berdikari. Sesuatu yang tak mudah karena banyak resistensi. Namun, ia tetap menjalankan sejumlah program yang sudah disiapkan guna memperbaiki kondisi perusahaan.

Demikian penuturan alumnus Fakultas Teknik jurusan Teknik Geologi di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta saat VIVA berkunjung ke kantornya di Jl. Medan Merdeka Barat No. 1, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Sejak kapan Anda menjabat Dirut Berdikari?

Saya masuk PT Berdikari itu bulan Maret 2016. Saya sempat jadi Direktur Keuangan, Operasional, kemudian Plt Direktur Utama, terus sempat balik lagi Direktur Keuangan. Kemudian, kalau tidak salah habis lebaran 2017 saya secara definitif dipilih jadi Dirut. Kalau total sekitar dua tahun lebih saya di Berdikari

Apakah sebelumnya Anda memang punya passion di dunia ini?

Tidak, latar belakang saya bankir kan sebenarnya.

Apa benar sebelum Anda masuk, Berdikari didera banyak masalah?

Ya, memang kondisi Berdikari sebelum saya masuk itu bisa dikatakan dalam posisi memprihatinkan. 

Kenapa?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan itu terjadi. Pertama masalah eksternal. Masalah eksternal itu seperti masalah sosial politik, masalah makro ekonomi juga. Kedua, masalah internal. Internal itu masalah tata kelola, struktur permodalan, fokus bisnis, SDM. Ya hal-hal seperti itu yang membuat Berdikari hancur. Padahal, PT Berdikari ini memiliki potensi. 

Maksudnya?

Kalau perusahaan ini dikelola dengan benar, kemudian dengan banyaknya keistimewaan, apalagi pemerintah menyerahkan masalah impor atau ternak ke Berdikari, pasti perusahaan ini akan berkembang cepat sekali. Bisnis-bisnis yang tidak fokus yang dulu terpaksa dilakukan, karena ketidakmengertian apa maunya perusahaan ini, kemana sih arahnya. Itu tidak mengerti mau kemana. Mau ternak enggak punya modal, akhirnya membuat perusahaan lain untuk mencari modal untuk ternak. Akhirnya, perusahaan penopang tidak jalan, ternak juga tidak jalan. Kan itu penyebabnya. 

Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Karena kita tidak memetakan dengan benar, perusahaan ini maunya apa prioritasnya mau kemana. Nah, itu yang saya kerjakan sekarang. Saya petakan persoalannya, kemudian saya tentukan untuk membangun peternakan terintegrasi, ya sudah kita fokus di situ. Kita mulai dari hulu, maka selesai itu semua sampai ke bawah.

Peternakan terintegrasi, maksudnya?

Ketika kita bicara pangan itu kan bisa macam-macam. Ada pangan protein, ada beras, sembilan bahan pokok (sembako), dan segala macamnya. Itu kan komponen protein hewani. Di situ ada daging, ayam, telur.

Bukankah tingkat konsumsi protein kita sangat kecil dibandingkan negara lain?

Tingkat konsumsi rendah itu banyak parameternya. Salah satunya karena antara suplay dan demand tidak seimbang. Dan harga naik. Selain itu karena di masyarakat kita pola konsumsi protein tidak dominan.

Apa yang membuat suplai terganggu?

Suplai erganggu karena produksi protein kita tidak tertata dengan baik. Di mana peternakan yang basisnya adalah peternakan rakyat itu sudah mulai ditinggalkan dan saat ini lebih banyak menjadi peternakan besar. Peternak-peternak rakyat yang kecil-kecil sudah habis. Peternak ayam kita banyak yang ngeluh.

Mengeluh bagaimana?

Misalnya tidak ada kepastian DOC (Day Old Chick). Kemudian masalah harga pakan, manajemen kandang, masalah vitamin, karena peternakan rakyat banyak yang tidak memiliki kompetensi. Akhirnya satu persatu mereka tutup. Ketika kondisi seperti itu, akhirnya masuklah peternak-peternak besar yang berada di dalam payung peternak yang lebih besar lagi.

Dirut PT Berdikari Eko Taufik Wibowo.

Direktur Utama PT Berdikari (Persero), Eko Taufik Wibowo

 

Bagaimana dengan sapi?

Sapi apalagi. Budaya kita memelihara sapi di rumah-rumah itu kan seperti tabungan keluarga. Sehingga tingkat produksinya tidak bisa dipaksa. Sudah waktunya dipotong mereka mengatakan belum butuh duit, akhirnya tidak dijual. Dan ketika mereka butuh duit, dijual harganya jadi jatuh. Akhirnya orang-orang di kampung berpikir sekarang sudah tidak bagus lagi melihara sapi, dia beralih ke sepeda motor, untuk ojek.

Nah, dengan siklus seperti itu akhirnya suplai berkurang. Akhirnya diimbangi dengan apa? Impor. Diberikanlah regulasi atau kemudahan yang penting harga sapi bisa stabil. Tapi kenyataannya apa? Muncul kartel-kartel yang memainkan harga. Mereka bisa manfaatkan regulasi, bahkan mengatur regulasi. Akhirnya ketika kondisi seperti itu tidak bisa dikontrol, harga dikontrol oleh kartel-kartel itu masyarakat kan mempertanyakan, ini pemerintah dimana?

Kenapa pemerintah tak turun tangan?

Pemerintah mau ikut tidak punya tools nya. Tools nya apa, ya harus BUMN. Kalau di industri migas, punya Pertamina, di industri semen punya Semen Indonesia. Terus misalnya di kelapa sawit kita punya PTPN, jadi bisa seimbang. Nah, di industri peternakan itu tidak ada. Ada sih perusahaannya PT Berdikari, tapi kok tidak berfungsi. Oleh karena itu sekarang ini kita fungsikan lagi. 

Apakah fungsi itu sudah berjalan saat ini?

Ketika kita ingin fungsikan kondisi Berdikari tidak memungkinkan untuk itu, sehingga perlu konsolidasi. Merapikan dulu manajemen dan segala macamnya. Kita butuh hampir dua tahun untuk itu. Sekarang baru mulai lagi. Di mana hantaman-hantaman tata kelola dari kartel-kartel itu akan kita hadapi, dan pemerintah akan men-support kita.

Apakah Berdikari mampu menghadapi kartel-kartel tersebut?

Berdikari tak sendiri. Ada Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan yang tugasnya mengontrol distribusi. Nah, ini kita baru memulai. Kita mulai dari menata semua aset-aset kita yang berkaitan dengan peternakan. Anak perusahaan segala macam yang punya kandang itu mulai kita rapikan. Dari sisi kompetensi pegawai kita lakukan refocusing. Pegawai yang tidak fokus atau yang tidak bisa menopang bisnis modeling yang baru pelan-pelan kita alihkan.

Maksudnya?

Ya, kita alihkan ke anak perusahaan. Atau kalau memang tidak bisa ikut lagi dengan kita ada yang dengan sukarela mundur, sambil kita akan replace dengan kebutuhan untuk bisnis model kita yang baru. 

Bagaimana dengan sisi finansial?

Kalau sisi finansial, kita mulai menjalin institusi-institusi yang support bisnis model kita. Karena tidak semua institusi itu paham, dan itu yang saat ini kita mulai jaga.

Selain itu?

Kemudian dari sisi regulator. Kita juga melakukan pendekatan ke regulator. Apa yang harus disupport ke Berdikari. Misalnya dari sisi impor daging, dari sisi impor sapi. Itu yang kita minta agar disupport dari regulator agar regulasinya bisa sesuai dengan bisnis model yang saat ini dilakukan oleh Berdikari.

Saat ini kami sudah mulai. Dari sisi peternakan, pertama sapi. Sapi itu dulu kan pernah dijalankan. Saat ini kami sudah memetakan persoalan-persoalan di internal, termasuk bisnis model perusahaan. Untuk sapi saat ini kami belum fokus ke peternakan besar.

Peternakan sapi di Pasuruan, Jawa Timur.

Saat ini untuk peternakan sapi seperti apa konsepnya?

Kami saat ini fokus dengan metode sementara, yaitu membangun kemitraan peternak rakyat. Jadi rakyat yang pingin menjadi peternak kita ajak kerja sama dengan mekanisme tertentu. Sehingga Berdikari punya stok tapi dititipkan ke mereka (peternak rakyat).

Jadi metodenya konvensional, menitipkan sapi ke masyarakat?

Ya. Tapi secara keseluruhan kita backup. Mulai dari pakannya, kemudian pengukuhannya dan lainnya. Jadi di sini dua keuntungan yang kita bisa dapatkan, pertama membangkitkan lagi peternak-peternak rakyat. Kedua, secure stok sapi minimal di daerah-daerah itu. Ketiga memberdayakan peran Berdikari sebagai agent of development tanpa kita mengeluarkan effort sisi finansial yang besar. Juga tidak mengganggu pemain-pemain besar tadi. Sehingga muncul kekuatan kita bersama peternak rakyat. 

Lokasinya di mana saja?

Sekarang pilot project di Lebak. Selain itu kita juga lagi mengembangkan di beberapa kawasan di Jawa Timur.

Di mana lagi?

Ada di daerah Jombang, Lamongan, Kediri, Bojonegoro yang dulu itu semua pusat peternakan sapi. Kita juga bekerja sama dengan pesantren-pesantren. Di Jawa Tengah dan di Jawa Barat sedang kita lakukan survei.

    Muat Lainnya...