Kemampuan Mitigasi Kita Belum Memadai – VIVA

viva.co.id

Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva

viva.co.id

Senin, 3 September 2018 | 06:04 WIB

Kemampuan Mitigasi Kita Belum Memadai

img_title
Photo :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati Bicara Gempa Lombok

VIVA – Indonesia seperti panen gempa bumi. Sejumlah wilayah di Indonesia diguncang gempa. Sebut saja Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sumatera, Bali, Maluku, Sulawesi, juga Jawa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, sejak dua bulan terakhir, periode Juli hingga Agustus 2018, lebih dari seribu gempa menggoyang Indonesia. Lokasi terbanyak berada di pulau-pulau Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Di NTB ada dua gempa besar terjadi secara beruntun hanya dalam sepekan. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan di Lombok memang ada dua kontrol utama terjadinya gempa. Menurut dia, sekitar tahun 1800-an di Lombok dan sekitarnya, terutama di patahan naik Flores pernah terjadi gempa beberapa kali dan menimbulkan tsunami.

Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada ini menegaskan, Indonesia memang rentan mengalami gempa bumi. Pasalnya, negara ini berada di atas sejumlah patahan. Untuk itu, kemampuan mitigasi bencana menjadi keniscayaan. Ini dilakukan karena gempa tidak bisa diprediksi dan kapan saja bisa terjadi.

Kepada VIVA, Guru Besar kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1964 ini berbicara panjang lebar mengenai potensi dan ancaman gempa bumi dan bagaimana mitigasinya. Demikian petikan wawancaranya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati Bicara Gempa Lombok

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

Lombok terus diguncang gempa besar. Tanggapan Anda?

Kondisi alam di sana dikontrol oleh patahan naik atau sesar naik Flores, itu yang ada di sebelah utara. Yang kedua, dikontrol oleh tumbukan penunjaman lempeng Samudra Hindia yang menunjam atau menusuk masuk ke arah Lempeng Benua Euro Asia lewat di bawah lombok.

Bisa dijelaskan?

Jadi ada lempengan Benua Australia, dan juga ada lempengen Asia, di sebelah Timur ada Lempeng Samudera Pasifik. Ternyata, data-data kita mencatat bahwa lempeng-lempeng ini bergerak, tidak diam, dan ada kecepatannya 71 mm pertahun ke arah Euro Asia. Ini pergerakan lempengan Benua Australia. 

Nah, yang lempengan Samudera Pasifik juga relatif bergerak ke arah barat daya dari Timur Laut dengan kecepatan 110 mm pertahun, lebih tinggi dibanding pergerakan lempengan Benua Australia. Sehingga terjadi seperti tabrakan atau menunjam, artinya dia menabrak terus menusuk ke bawah. Dan Lombok itu masuk di dalam daerah penunjaman itu. Pulau Lombok itu terbentuk karena adanya penunjaman lempengan yang membuat pulau Lombok muncul ke permukaan. 

Apakah ini juga terjadi di wilayah lain?

Pulau Sumatera, Jawa, Bali juga berada di sepanjang tunjaman. Pulau-pulau itu terbentuk gara-gara lempengan menunjam atau masuk ke dalam lempeng Euro Asia. Jadi lempengan yang bertabrakan itu seperti tertekuk sehingga muncullah pulau-pulau itu ke permukaan.

    Muat Lainnya...