Kalau Ingin Jakarta Tak Macet, Butuh 300 Km Jalur MRT Baru - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Senin, 11 Februari 2019 | 06:06 WIB

Kalau Ingin Jakarta Tak Macet, Butuh 300 Km Jalur MRT Baru

Kendala MRT masih soal pembebasan lahan.
William Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta,
Photo :
  • VIVA/Purna Karyanto

William Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta,

VIVA – Pembangunan proyek Mass Rapid Transit Jakarta fase I rute Bundaran HI-Lebak Bulus kini telah mencapai 98,6 persen. Moda transportasi ini ditargetkan dapat beroperasi komersial pada minggu ketiga atau keempat Maret 2019.

Dalam perjalanannya proyek ini memang tak mudah hingga sempat mangkrak sampai 26 tahun. Bahkan, pada masa awal pembangunan dibutuhkan keberanian pimpinan daerah untuk bisa menetapkan proyek ini.

Proyek ini lalu dilanjutkan dan dibangun sejak 2013 oleh gubernur DKI Jakarta yang saat itu dijabat Joko Widodo. Tentu aja dengan sejumlah hambatan hingga akhirnya bisa berjalan tepat waktu. Diantara hambatannya, masih seputar pendanaan dan upaya pembebasan lahan.

Nilai investasi proyek sepanjang 16 kilometer ini mencapai Rp16 triliun. Proyek ini didanai menggunakan pinjaman lunak dari Japan Internasional Coopertion Agency yang 51 persen-na ditanggung Pemerintah DKI Jakarta dan 49 persen Pemerintah Pusat.

Untuk mengetahui lebih detail bagaimana proyek ini,  VIVA berkesempatan bertemu dengan Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar di sela uji coba proyek ini beberapa waktu lalu. Simak wawancara khususnya berikut ini:

Bagaimana progress MRT Jakarta menuju pengoperasian Maret nanti?

Progress MRT Jakarta untuk line satu ini, Bundaran HI-Lebak Bulus, sudah 98,6 persen, we are on track, sekarang sedang masuk fase integrated testing and comissioning, mencoba delapan rangkaian kereta dengan head way 10 menit. 

Uji coba ini akan berjalan hingga Maret dan akan melibatkan masyarakat pada akhir Februari, dan on time menuju dimulainya komersial operasi MRT ini pada minggu ketiga atau keempat bulan Maret.

Berapa kereta yang dimiliki dan akan dioperasikan MRT?

Kita memiliki 16 rangkaian, satu rangkaian ada enam kereta jadi total 96 kereta, nanti kita beroperasi pada 16 rangkaian itu dengan rush hour atau jam padat lima menit dan normal hour 10 menit, Operasional kita mulai jam 5 pagi sampai jam 12 malam.

Apa keunggulan MRT Jakarta dibandingkan commuter line?

Yang ditawarkan adalah kehandalan dan kepastian, seperti dilihat dari tes kali ini berangkat jam 14.02 dari HI dan sampai di Lebak Bulus 14.32  dan setiap stasiun sudah pasti waktunya.

Ini memberikan kepastian dan masyarakat tahu jam berapa berangkat dan jam berapa tiba di tujuan. Selain itu ada budaya baru yang ditawarkan dengan kepastian itu tidak perlu antre karena setiap lima menit ada kereta api. 

Keteraturan ini kita tawarkan karena ada bawah tanah tidak terganggu transportasi lain dan ada sistem otomatis yang bisa memastikan kereta berangkat dengan tepat dan tiba tepat waktu.

Teknologi baru apa yang ditawarkan?

Kereta ini jelas pertama kali menggunakan Communication Base Train Control, di mana pengoperasian kereta secara otomatis, tanpa masinis, fungsi masinis hanya saat emergency di mana kereta dilakukan secara manual dan menutup pintu.

Selain itu, secara konstruksi, kita tahu Indonesia tidak punya teknologi underground untuk metro dan ini kita mulai dan akan ekspansi ke utara fase II dengan teknologi underground. Semoga dalam minggu-minggu Februari ini kita groundbreaking untuk fase II. Proses sudah siap, kontraktor yang akan kerjakan sudah kita tetapkan dan siap untuk memulai kegiatannya.

Soal harga tiket, masih ada yang bilang kemahalan?

Yang mau kita tawarkan adalah kemudahan bertransportasi, kenyamanan bertransportasi dan keamanan bertransportasi, yang kita set itu adalah distance fare by jarak Rp8.500 per 10 kilometer.

Menurut saya ini masih jangkauan masyarakat dan ini jauh lebih murah dibandingkan kota-kota besar yang lain, ini murah. Kita sesuaikan dengan willingness to pay atau kerelaan membayar masyarakat. 

Apa yang kita lakukan sekarang adalah integrasi prosesnya, setelah beroperasi pemerintah sudah putuskan buat perusahaan electronic fare collection, ada satu sistem tiket di mana ada integrasi antara MRT dengan Transjakarta dan LRT.

Mudah-mudahan di pengunjung tahun ini kita punya sistem, di mana masyarakat bisa pakai satu tiket, dengan satu bundling price. Harganya nanti akan tergantung jarak.

MRT akan mengubah budaya warga Jakarta?

Ada dua hal, ini MRT baru, sistem baru, ini kesempatan untuk berubah, masyarakat punya budaya baru, antre tepat waktu. Dan kedua, bagaimana memelihara kereta yang baru, kita siapkan sustainable maintence, prosesnya akan dibuat semaksimal mungkin, ini kereta baru, akan tertata masa waktunya bisa 40-50 tahun, dan ini harus bisa dipelihara termasuk masyarakat menjaga ini.

Bagaimana soal integrasi transportasi di Jakarta, karena ini baru satu line?

Seperti di Beijing dimulai sejak 1969, tahun ini ada 600 km dan Jakarta tentu harus akselerasi tak bisa dengan kecepatan linier. Oleh sebab itu utara-selatan harus segera selesai dan timur-barat paling lambat dimulai tahun depan.

Selain itu, loop line sepanjang 200 km harus segera dimulai, dan integrasi dengan sistem kereta lain sudah harus segera dibangun. Saya optimis kalau bisa bangun 300 km pada 2030, maka persoalan kemacetan di Jakarta ini bisa segera diatasi.

Sebab, paling penting dari pengalaman kota di dunia, dukungan transportasi publik itu adalah sistem urban rail atau kereta dalam kota yang sangat membantu kemacetan di dalam kota.

Jakarta butuh berapa line?

Kalau MRT utara selatan 25 km harus jadi, lalu timur-barat sekmen Jakarta 32 km harus jadi dari Kalideres sampai Ujung Menteng. Kemudian sekmen luar dari Cikarang-Balaraja sepanjang 87 km harus jadi. Lalu loop line dalam dan luar harus jadi, saya hitung 300 km pada 2030 harus jadi kalau kita ingin selesaikan persoalan Jakarta secara terintegrasi didukung moda transportasi lainnya.

Kalau fase I, pembangunan dari 2013, kendala utamanya apa?

Kendala utama ketika kita mulai 2013 adalah pembebasan lahan, karena ada sebagian masyarakat tidak mau menyerahkan tanahnya untuk pembangunan, khususnya di daerah depo dan sepanjang jalur layang dan baru selesai penuh pada 2017.

Akibat proses itu kita hampir terancam terlambat. Nah apa yang kita lakukan? Berbagai upaya kita selesaikan secepatnya, dan dari titik itu kita lakukan percepatan sehingga kita bisa dapat Maret 2019 adalah waktu operasi MRT. Kalau itu belum selesai lahannya mungkin sampai hari ini belum bisa kita pastikan Maret beroperasi.

Pendekatan khusus apa untuk yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah itu?

Saya ditugaskan pertama saat jadi dirut MRT Jakarta adalah menangani secara khusus pembebasan lahan, meski memang tanggung jawab formalnya ada di pemerintah. Tetapi karena MRT yang berkepentingan, kita turun ke bawah, kita turun ke masyarakat dari hati ke hati dan ternyata masyarakat semua dukung ada sistem transportasi publik seperti ini di Jakarta. 

Hanya persoalannya ada hal-hal harga yang belum pas, persoalan keluarga, tanah tidak dimiliki satu orang, ini kita harus fasilitasi. Jadi kita minta kebijakan khusus pemerintah, waktu itu didukung penuh menteri agraria, dan kemudian gubernur DKI waktu itu, sehingga kita bisa selesaikan pembebasan lahan dengan baik.

Lokasi yang terkendala itu di mana saja?

Hampir menyeluruh dari Lebak Bulus, dulu lapangan bola dan banyak ditinggali masyarakat, ada sertifikatnya lahan pemerintah, tapi masyarakat di situ sudah tinggal turun menurun di situ. Mereka bayar pajak juga di situ, jadi complicated.

Di Fatmawati juga begitu, Haji Nawi lebih-lebih lagi, Cipete gitu, Blok A sama, yang waktu itu betul-betul kita selesaikan di tahun-tahun awal dan kemudian persoalan lahan sudah kita selesaikan, baru konstruksi bisa kita akselesari. Kalau belum selesai kita belum bisa bangun entrance dan stasiun lainnya.

Saat operasi nanti, berapa target penumpangnya?
Target kami mulai 65 ribu orang per hari pada Maret nanti, kemudian integrasinya kita lakukan, improvenya seperti apa dan pada akhir tahun harapannya bisa 130 ribu. Itu dengan head way 5 menit jam sibuk dan 10 menit jam normal dengan 16 kereta.

Untuk fase II nanti apa investasinya masih JICA?

Betul dari JICA pendanaan Rp25 triliun, dan akan kita laksanakan pada tahun ini hingga 2024, Porsinya masih sama dan tanggung jawabnya dibagi dua 51 persen pemda DKI dan 49 persen ditanggung pemerintah pusat.

Selain JICA apa ada investor lain?

Selain JICA sudah ada lumayan, swasta juga banyak, sepanjang paketnya menarik. Jadi infrastruktur akan selalu jadi kewajiban pemerintah karena return-nya cukup lama. 

Tapi untuk jalankan kereta itu sudah ada rolling stock-nya swasta, lalu untuk pengelolaan stasiun sudah bisa, itu belajar dari negara lain. Setelah kita bangun line pertama, yang kedua harus pararel, karena yang susah itu bangun yang pertama dan kedua bisa lebih mudah.

Investor lain?

Sudah ada yang hubungi saya, cuma kita harus bangun skimnya, kebijakan pemerintah seperti apa, dan kita lihat kebutuhannya, dan kira-kira inovatif financing seperti apa yang kita butuhkan, apakah public private partnership atau full invesment. 

Kalau belajar dari negara lain PP sudah ada, jadi tidak perlu sepenuhnya pemerintah, jadi kita bisa taruh swasta di tempat bisnis yang disukai.

Investasi MRT meleset tidak dari target awal?

Bila melihat pembangunan MRT di dunia, ini sangat ekonomis murah Rp16 triliun berarti Rp1 triliun per kilometer.  Ini memang yang akan menjadikan model membangun, syaratnya memang tidak boleh terlambat, membangun ini risikonya bawah tanah, banyak hal yang tidak terprediksi. 

Makanya, pada fase kedua antisipasinya mulai tahun ini juga tanah harus kita bebaskan, seluruh lahan sudah identifikasi dan mulai proses negosiasi dengan masyarakat untuk pembebasan lahan, sehingga saat konstruksi bergerak tak ada masalah lagi dengan tanah. (umi)

 

 

loading...
Muat Lainnya...