Kita Bisa tapi Butuh Dukungan Pemerintah - VIVA
X
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Senin, 18 Februari 2019 | 06:02 WIB

Kita Bisa tapi Butuh Dukungan Pemerintah

Len sekarang mendidik engineering muda untuk jawab tantangan ke depan.
Zakky Gamal Yasin Presdir PT Len Industri
Photo :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Zakky Gamal Yasin Presdir PT Len Industri

VIVA – PT Len Industri merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis. Perusahaan yang salah satu core business-nya mengurusi persinyalan kereta api ini terus mengembangkan diri.

Direktur Utama PT Len Industri, Zakky Gamal Yasin, mengatakan, saat ini perusahaan yang ia pimpin sedang mengembangkan teknologi pemanfaatan tenaga Matahari untuk listrik. Menurut dia, hal itu dilakukan guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Juga sebagai bagian dari upaya mengembangkan energi ramah lingkungan.

Kepada VIVA.co.id, mantan direktur utama PT Barata Indonesia (Persero) ini menuturkan, awalnya bisnis PT Len terlalu luas. Karena perusahaan ini masuk di semua yang ada elektroniknya.

Untuk itu, mulai tahun 2018, perusahaan ini hanya fokus di industri transportasi sistem, energi baru terbarukan, dan produksi elektronik pertahanan. Selain itu, mulai merambah fintech.

Berikut petikan wawancara yang dilakukan di kantor PT Len, Menara MTH, Jakarta Selatan.

Bisa dijelaskan bagaimana profil PT Len Industri ini?

Awalnya saya mengira ini seperti bisnis manufaktur barang elektronik. Setelah masuk ternyata kontraktor. Tapi kontraktor yang berbeda dengan bidang saya selama ini. Selama ini kan saya di bidang alat berat, konstruksi. Namun PT Len ini ternyata cukup hi-tech. Ini merupakan tantangan yang luar biasa bagi saya. 

Bagaimana Anda melihat perusahaan ini?

Teman-teman mengerjakan sesuatu yang menurut saya sangat luar biasa. Karena mengerjakan proyek yang orang lain tidak sadar itu ada barang kita di dalamnya. Makanya saya mengistilahkannya PT Len ini memproduksi nyawa suatu peralatan, jantungnya suatu peralatan. Selama ini kan orang melihat bungkusnya saja, misalnya kereta api dikerjakan PT INKA, kapal selam PT PAL, tapi sebenarnya kita ada di dalamnya.

Setelah mengetahui itu, apa yang Anda lakukan?

Teman-teman itu senang bikin penelitian. Kalau Anda ke kantor PT Len di Bandung itu banyak barang-barang yang aneh-aneh, tapi tidak dipublikasikan, tidak dilanjutin. Pas ulang tahun Len saya sampaikan, kita harus publikasikan. Kita punya barang-barang atau produk-produk inovasi yang sangat berguna untuk masyarakat. Kita galakkan engineering muda untuk melakukan riset, terus kita pilih dan kita nilai.

Selain itu?

Awal tahun 2018 kita ubah visi misi kita yang tadinya perusahaan elektronika menjadi perusahaan teknologi.

Apa bedanya?

Bedanya sangat signifikan, kalau elektronika kan lebih ke produk. Tapi kalau teknologi itu lebih luas. Jadi kita ini sebagai perusahaan teknologi sebagai sistem integrator dari industri strategis yang lain.

Zakky Gamal Yasin Presdir PT Len Industri

Dirut PT Len Industri Zakky Gamal Yasin

Sebenarnya apa core business PT Len?

Kontraktor. Tapi beda dengan kontraktor seperti Waskita, PP dan lainnya. Pekerjaan kita itu sistem integrator. Jadi kalau ditanya produknya Len apa sih? Ya produknya Len itu lebih ke engineering dan software untuk menggerakkan satu peralatan. 

Jadi apa saja output PT Len?

Awalnya PT Len terlalu luas bisnisnya. Karena semua yang ada elektroniknya kita masuk. Jadi kita fokuskan di industri transportasi sistem. Di situ tentu persignalan masuk. Belakangan ada mobil listrik juga masuk di situ. Lalu, renewable energy. Kita punya produk andalan solar energy. Ketiga, kita juga memproduksi elektronik pertahanan. Jadi di tahun 2018 kita fokus di tiga itu saja. Nah, sampingannya kita mulai masuk ke fintech

Dalam bentuk apa?

Dalam bentuk hardware. Kita bikin mesin ATM yang sudah kita suplai ke Bank BNI. Kita bilang ATM-nya itu Smart Kios. ATM yang biasa kan tidak bisa berkomunikasi sama teller. Tapi kalau ATM kita itu real time nasabah bisa ngobrol sama teller-nya. 

Bagaimana teknisnya?

Teknisnya disambungkan ke internet. Kita kan punya pengalaman memproduksi e-KTP rider. Di situ bisa baca e-KTP, bisa baca finger print. Jadi orang nanti ke ATM nggak usah bawa kartu, asal jempolnya jangan ketinggalan saja orang sudah bisa bertransaksi. Jadi dia pakai finger print, kartu sebagai penguat saja. Nah terserah kita mau ngapain. Mau ngambil duit, mau ngeprint buku tabungan, mau buka rekening juga bisa.

Itu di bank apa saja?

Sementara ini kita pakai di Bank BRI dan BNI.

Selain itu?

Tapi kalau kita bicara alat-alat elektronik kan cepat sekali berkembangnya. ATM kios kita ini baru selesai. Tapi besoknya teman-teman bank itu sudah minta lain lagi. Bisa nggak PT Len membuat mesin ATM yang bisa dibawa jalan-jalan?

Lalu?

Akhirnya kita siapkan satu platform yang kita namakan Mobile Point of Sales. Awalnya tujuannya untuk memverifikasi penerima Bansos. Kalau Anda pernah dengar bank itu mulai menyewa yang namanya agen Laku Pandai. Jadi misalnya BRI dia nggak mau buka cabang lagi di pelosok-pelosok. Dia cari toko kelontong yang paling terkenal di kampung itu, terus kerja sama. Lalu kalau ada masyarakat yang ingin buka rekening gimana caranya? Kita siapkan yang namanya alat MPOS.

Alatnya seperti apa?

Itu kayak HP gitu kecil alatnya atau mesin EDC yang buat gesek. Tapi di situ ada verifikasi ATM, verifikasi finger print, bisa ngeprint juga. Jadi orang yang mau setor, mau ambil duit, mau buka rekening bisa di warung itu sekaligus. Nah, ATM ini kayak mesin EDC tapi ada layarnya. Itu basisnya android. Dan itu bisa dibawa-bawa sama agen Laku Pandai. Jadi orang nggak perlu ke bank.

Sudah berapa unit yang diproduksi?

Kita sih kemarin memproduksi sekitar 500 unit. Dan sudah kita sebar ke bank-bank. Dan sekarang lagi kerja sama juga sama Telkom dan Pertamina untuk SPBU yang self service. 

Selanjutnya, mobil listrik..

loading...
Muat Lainnya...