Partai Demokrat Main 'Dua Kaki' - VIVA
Unduh aplikasi kami
A Group Member of Viva
viva
Senin, 18 Maret 2019 | 06:04 WIB

Partai Demokrat Main 'Dua Kaki'

Partai Demokrat mengkritik Pemilu serentak.
Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan
Photo :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan

VIVA – Partai Demokrat menjadi buah bibir dalam beberapa pekan terakhir. Pertama, penunjukan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY memimpin tim pemenangan Pemilu 2019. Sejumlah kalangan menilai, ini merupakan salah satu strategi Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY mendorong anak sulungnya itu memimpin partai berlambang Mercy tersebut.

Kedua, kasus penangkapan Andi Arief. Ia dicokok polisi, karena diduga menggunakan narkoba di salah satu hotel di Jakarta. Akibat kasus tersebut, mantan aktivis ini memilih mengundurkan diri dari posisinya sebagai wakil sekjen Partai Demokrat.

Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan mengatakan, elektabilitas partainya tak terganggu akibat kasus Andi Arief. Selain itu, soliditas partai juga tetap terjaga, meski SBY sibuk mengurus istrinya di Singapura, dan menunjuk AHY mewakili dirinya memimpin pemenangan partai.

Kepada VIVA, mantan Ketua Komisi Disiplin Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) ini mengkritik Pemilu 2019 yang dilakukan serentak, Pileg dan Pilpres. Menurut dia, sistem ini bisa menggerus sistem multipartai yang merupakan buah dari reformasi.

Hinca juga mengakui, perhatian partainya terbelah, antara Pilpres dan Pileg. Demikian, petikan wawancara VIVA dengan mantan anggota Dewan Pers ini di sela-sela aktivitasnya. Wawancara dilakukan di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin 11 Maret 2019.

Bagaimana persiapan Partai Demokrat menghadapi Pemilu mendatang?

Sebagai sekjen partai, saya yang mengelola mesin partai di dalam selama empat tahun ini. Maka, hari-hari ini merupakan hari-hari puncaknya. Kalau kita bikin ini dari hulu ke hilir, maka Pileg dan Pilpres itu adalah hilir dari pengelolaan mesin partai selama ini.

Apa fokus Demokrat dalam Pemilu 2019 ini?

Karena, kami tidak punya calon presiden dan calon wakil presiden, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu persiapan kami di Pileg. Jadi, Partai Demokrat itu telah menuntaskan pekerjaannya selama empat tahun persiapan menuju Pemilu ini. Tahapan yang paling akhir yang saya sebut hilir itu adalah memastikan kader-kader kami yang maju sebagai calon legislatif baik di DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, lolos.

Berapa jumlah caleg Demokrat?

Jumlahnya besar sekali, yaitu sekitar 20 ribu lebih yang kita persiapkan untuk maju. Khusus DPR RI misalnya, dari 575 yang kami persiapkan, kami mengisinya di 573. Yang dua, tidak kami isi, karena memang di saat-saat akhir pendaftaran dua calon ini tidak bersedia melanjutkan pencalonannya, maka kami isi 573 calon. 

Apakah ada kesulitan terkait penyusunan caleg?

Kesulitan yang kami alami dalam rekrutmen untuk maju sebagai caleg ini adalah memenuhi kuota perempuan sebanyak 30 persen.

Selain itu?

Tantangan 80 dapil itu. Seluruh Indonesia ini dibagi 80 dapil. Ada satu dapil 10 kursi yang diperebutkan, ada juga yang hanya tiga kursi. Jadi, untuk menemukan pemain-pemain yang siap tempur, bukan semata-mata dianya hebat, berkualitas, dan berintegritas saja, tetapi tantangan dapilnya juga menjadi persoalan.

 Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan

Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan

Apa strategi Demokrat untuk mendulang suara?

Khusus untuk Pemilu, selain memaksimalkan infrastruktur partai, kami juga membentuk yang namanya Komandan Tugas Bersama (Kogasma) yang dipimpin oleh AHY. Jadi, itu untuk memperkuat mesin partai. 

Selain itu?

Sejak dua tahun terakhir, Ketua Umum kami, Pak SBY, bersama sekjen, dan elite-elite partai lainnya melakukan kampanye dengan cara turun ke lapangan. Mungkin, satu-satunya ketua umum partai yang paling banyak road show dan itu menggunakan jalan darat, bahkan kami menyiapkan mobil khusus sendiri itu Pak SBY. Mulai 21 Januari, selama delapan hari delapan malam Pak SBY keliling masuk ke Sumatera Utara berakhir di Aceh, itu 22 kabupaten/kota. Namun, pada awal Februari, kami mendapat kabar yang membuat kami semua kaget sekali.

Apa itu?

Biasanya, Pak SBY kalau jalan selalu didampingi Ibu Ani. Karena, Ibu Ani sakit dan harus menjalani perawatan di Singapura. Jadi ,praktis Pak SBY selaku ketua umum memutuskan dan kami juga setuju dan mendorong beliau untuk bersama-sama Ibu Ani. Sehingga, yang tadinya kami rencanakan berkeliling bersama Pak SBY itu tidak terlaksana secara fisik.

Apakah kondisi itu tidak mengganggu partai?

Tidak terganggu sama sekali. Toh, kita selalu bertemu. Beliau bisa memanggil saya kapan saja. Kemudian, untuk level nasional yang menggantikan beliau secara fisik untuk menguatkan lagi adalah Mas AHY.

Apakah memunculkan AHY bagian dari strategi mendongkrak perolehan suara?

Iya. Efek dari penyelenggaraan Pemilu yang serentak, yaitu Pileg dan Pilpres. Maka, secara politis partai-partai yang mempunyai capres dan cawapres lah yang mendapatkan efek ‘ekor jas’ itu. Partai-partai yang lainnya, baik yang berada di 01 maupun 02 ,yang tidak punya capres pasti sama mengalami kendala yang sama, karena popularitas itu berada di capresnya. 

Bagaimana Anda melihat elektabilitas Demokrat?

Posisi kami, sebenarnya kalau dengan margin error dua persen tetap di angka 10 persen. Karena, angka kami di 8,1 persen, 9,2 persen, 7,9 persen. Jadi, di sekitar angka itu dia bertahannya. Nah, sekarang tinggal 37 hari, semua dari kami sudah tidak ada lagi yang di sini (DPR RI).  Ini pun, karena tadi kami ada agenda sidang saja. Saya sudah instruksikan kepada teman-teman caleg-caleg di DPP kami sana, semuanya harus berada di dapilnya masing-masing. Jadi, sudah tidak ada yang boleh caleg kita santai-santai. Dan jangan lupa, semua orang tahu pengalaman kita justru di ujung inilah kesempatan untuk memastikan yang sudah dirawat itu dipetik dengan baik atau tidak. 

Kenapa semua didorong ke dapil (daerah pemilihan)?

Karena, di masyarakat, kami mengalami kesulitan untuk menawarkan caleg-caleg ini, karena kalah populer dengan Pilpres. Karena itulah, kelemahan utama Pileg Pilpres dilakukan secara serentak. Kalau dulu kan, Pileg dulu, kita fokus di Pileg, baru lanjut bertarung di Pilpres. 

    Muat Lainnya...