Bangkitnya Dunia Balap Tanah Air | Halaman 2

Bangkitnya Dunia Balap Tanah Air

Senin, 17 Juni 2019 | 07:42 WIB
Berbagai event balapan akan digelar di tanah air
Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI), Sadikin Aksa
Photo :
  • VIVA/Purna Karyanto

Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI), Sadikin Aksa

SIM Internasioal ini kalau kita mau tahu, mulai 2014 memang dipindahan ke Kepolisian. Asalnya dulu diserahkan ke IMI karena dulu IMI memang bagian dari Korlantas dan Perhubungan. Tapi kami selama ini telah berkomunikasi dengan Kepolisian dan rencananya nanti kami jadi agen untuk mengurus sim internasional. Jadi kami ikuti undang-undang tidak masalah di pemerintah.

Bagaimana cara IMI menjelaskan tugasnya sebagai regulator, soalnya banyak masyarakat yang masih menganggap IMI penyelenggara balapan?

Jadi kami sekarang ini banyak mengembangkan promotor-promotor untuk balapan motor dan mobil karena itu cara paling efektif. Lewat itu kami bisa menegaskan bahwa fokus kami pada regulasi. IMI hanya mengawasi para event digelar sesuai dengan regulasi. Alhamdulillah, dua tahun terakhir ini banyak promotor bermunculan, salah satunya PT Oneprix Motorprix Manajemen itu.

Berbicara regulasi yang dikeluarkan IMI, apakah perlu mengalami perubahan dari tahun ke tahun?

Oh tentu. Harus disesuaikan dengan perkembangan. Contohnya, di balapan motor dulu kan regulasi dibuat untuk kelas 110cc. Sekarang jarang motor 110cc. Muncul kelas 125cc bahkan kebanyakan 150cc. Tentu dengan motor semakin kencang dari tahun ke tahun harus dibarengi dengan regulasi yang sesuai untuk keamanannya. Contohnya di Oneprix, karena ada kelas 150cc maka kami minta sirkuit juga harus diubah untuk keamanannya. Kita harus antisipasi berbagai kemungkinan.

Ada sanksi tidak untuk pelanggaran?

Oh pasti dan banyak. Bahkan tak hanya promotor, personel atau pembalap juga kami beri sanksi jika memang terbukti menyalahi aturan. Banyak kok kasusnya.

Ajang Indonesia MotorPrix Championship (OnePrix) 2019

Saat awal menjabat, salah satu fokus Anda adalah menjadikan IMI berbasis aplikasi online, bagaimana saat ini?

Kita sudah jalan tapi memang ada beberapa kendala. Mulai pendaftaran lewat online, semua serba online. Bahkan nantinya pun pengawasan kami berbasis online. Tim IT kita sudah mempersiapkan semuanya. Lima tahun lalu saya sempat bingung untuk IT kok anggaran besar dan ternyata sekarang saya sadar memang kompleks dan perlu anggaran besar.

Terkait dengan salah satu tugas IMI untuk membantu menekan angka kecelakaan lalu lintas?

Untuk hal itu, kita juga kumpulkan masukan dari luar selama saya ikut konferensi atau diskusi. Nah, saat ini kami terus memilih cara yang cocok untuk memberikan kesadaran ke masyarakat. Karena memang berbeda-beda untuk tiap negara sebab berkendara di luar negeri juga beda dengan Indonesia.

Bisa jelaskan fokus IMI terkait wisata motor?

Ini yang perlu digarisbawahi. Setiap kejuaraan dunia baik balap mobil atau motor point pentingnya tidak boleh olahraga, harus tourism. Karena apa? Kejuaraan balap dunia itu atletnya sudah profesional tidak ada yang masih pembinaan. Gaji mereka juga besar bahkan mungkin lebih  besar dari presiden kita. Buktinya ada pembalap F1 yang punya jet pribadi.

Jadi itu juga jadi patokan kami di IMI. Jadi kalau ada yang mengajukan menggelar event harus berdasarkan tourism. Kalau masih hanya sekedar olahraga kami tidak dukung. Contoh oneprix dengan tvOne, kalau berhasil nanti pasti banyak provinsi yang minta. Itu yang harus kita ubah mindsetnya.

Apa harapan dan barometer keberhasilan selama memimpin IMI?

Bagaimana menjadikan event olahraga motor sebagai industri tentunya. Simplenya gini, saya ingin balap otomotif juga seperti sepakbola yang telah menjadi industri. Nah, nantinya orang justru tak ingin menjadi pengurus IMI tapi justru jadi promotor. Tapi tentu saya harus benahi dulu dari sisi regulasi. Nah, kalau nanti banyak bermunculan promotor tentu itu menjadi bukti saya telah berhasil.

Selain di IMI, Anda juga punya klub sepakbola dan perusahaan, sebenarnya passionnya dimana?

Berita Terkait :
Saksikan Juga
Artikel Terpopuler