Bangkitnya Dunia Balap Tanah Air | Halaman 3

Bangkitnya Dunia Balap Tanah Air

Senin, 17 Juni 2019 | 07:42 WIB
Berbagai event balapan akan digelar di tanah air
Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI), Sadikin Aksa
Photo :
  • VIVA/Purna Karyanto

Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI), Sadikin Aksa

Kalau disuruh milih harus melihat dari sudut pandang mana dulu. Kalau untuk bisnis, saya pilih jadi promotor. Kalau berpikir orang lain, tentu perusahaan karena karyawan saya banyak. Tapi yang jelas, kalau semua sudah berjalan baik saya sebenarnya lebih tertarik menjadi promotor. Tapi catatannya, kalau di Indonesia sudah ada promotor yang sukses saya tidak akan turun. Saya sudah senang jika ada promotor yang sukses karena saya.

Apa sebenarnya yang membuat orang sungkan jadi promotor?

Karena tidak tahu bisnisnya, tidak ngerti ini industri. Pola pandang balapan masih event olahraga saja. Pernah ada yang datang ke saya ngadu rugi dan minta sumbangan. Saya saat itu mikir pasti ada yang salah dan bilang kalau rugi kenapa diadakan. Seharusnya event ini kan jadi ajang promosi. Itu barunya namanya berhasil. Kalau kita sumbang jadi salah malah.

Kembali ke Oneprix, sebenarnya ada regulasi yang khusus tidak?

Oneprix ini kita buat sebagai top of the top balap motor bebek di Indonesia. Jadi juara-juara di setiap wilayah akan bertanding di sini. Gampangnya seperti di bola ada divisinya. Juara di tiap wilayah naik ke Oneprix. Tahun berikutnya bisa naik, yang terbawah turun. Juara region bakal naik. Atasnya ada kejuaraan asia dan dunia tentunya.

Balap motor di Surabaya

Balapan motor di Surabaya

Apa tantangan Oneprix nantinya?

Tantangannya tentu membuat event ini jadi tontonan yang menarik, bukan balapan yang seru.Tontonan menarik bisa menjadi balapan yang seru. Balapan yang seru belum tentu bisa jadi tontoan menarik karena bisa saja kita bikin seru dengan regulasinya. Intinya balapan harus memadukan banyak aspek (multievent).

Bagaimana tanggapan Anda terkait banyak komunitas motor yang lepas kontrol?

Harus kita cari tahu, genk motor ini motifnya apa? Biasanya kan sosial ekonomi, tidak kerja. Belum tentu mereka suka balap atau wisata motor. Waktu saya terpilih sebagai ketua, bersama Pak Tito pernah panggil mereka genk-genk motor, ya kalau yang suka balapan kami berikan wadahnya. Kalau yang tidak yang treatment-nya berbeda-beda. Intinya, kalau yang berlatar kondisi sosial ekonomi, IMI tidak bisa sendiri. Ini tugas bersama.

Soal wacana motor gede (moge) bisa lewat tol?

Moge itu kan cc-nya memang gede dan kalau dibawa di jalan macet sangat tidak enak. Bahkan bisa membahayakan tak hanya dirinya sendiri tapi pengguna jalan yang lain. Tapi terkait wacana boleh lewat tol tetap harus banyak yang dipikirkan. Mungkin bisa saja tapi dipisah seperti di Bali.

Kalau secara saya pribadi, mungkin harus ditentuin dulu cc-nya yang bisa lewat tol dan kalau ramai konvoi juga harus dikawal. Harapannya dengan kemudahan itu juga akan mendongkrak sektor wisata touring terutama di daerah-daerah yang kini tengah dikembangkan jalan tol.

Terakhir, langkah apa yang Anda anggap menarik dilakukan IMI saat ini?

Kita saat ini tengah mengembangkan digital motorsport atau di luar dikenal dengan e-sport. Tapi kalau e itu kan identik dengan balap mobil listrik. Jadi kita pakai istilah digital motorsport. Kita salah negara yang punya komisi digital motorsport dan punya kejuaraan digital motorsport.

Perlu diketahui, digital motorsport itu ada dua, online dan offline. Kita sudah mulai offline, dan jumlah peserta lebih dari 1.500. Padahal itu baru prakejurnas. Nanti ke depannya, akan ada seri-serinya. Selain itu, karena bikin sirkuit beneran susah dan perlu banyak dana tentu untuk tahap awal kita bikin sirkuit digitial dulu. Ada nanti di Surabaya dan mungkin Sirkuit Palembang akan digital dulu. (mus)

Berita Terkait :
Saksikan Juga
Artikel Terpopuler